Gus Miftah Minta Maaf: Belajar dari Kisah Abu Dzar Meminta Diinjak Kepalanya oleh Bilal
Rabu, 04 Desember 2024 - 11:40 WIB
loading...
Bilal terus menggeleng dengan mata berkaca-kaca. Kemudian sang Muadzin Rasulullah berkata, Aku sudah memaafkanmu, semoga menjadi kebaikan bagiku di akhirat. Foto: Ist
A
A
A
Alhamdulillah dai nyentrik, Miftah Maulana Habibburahman atau Gus Miftah, akhirnya menyampaikan permintaan maaf usai mengolok-olok penjual es teh. Begitu media memberitakan. Semoga saja peristiwa ini menjadi pelajaran yang baik bagi kita semua.
Manusia memang tempat lupa dan salah. Islam mengajarkan meminta maaf adalah jalanmulia jika kita sudah terlanjur berbuat kesalahan atau kezaliman . Dan cara ini harus segera tanpa menunda-nunda.
Dalam sebuah hadis diterangkan.
Abu Hurairah berkata, telah bersabda Rasulullah SAW , “Barangsiapa pernah melakukan kezaliman terhadap saudaranya, baik menyangkut kehormatannya atau sesuatu yang lain, maka hendaklah ia minta dihalalkan darinya hari ini, sebelum dinar dan dirham tidak berguna lagi (hari kiamat). (Kelak) jika dia memiliki amal saleh, akan diambil darinya seukuran kezalimannya. Dan jika dia tidak mempunyai kebaikan (lagi), akan diambil dari keburukan saudara (yang dizalimi) kemudian dibebankan kepadanya. (HR Al-Bukhari ).
Baca juga: Viral Gus Miftah Permalukan Penjual Es, Gus Yusuf Berikan Penjelasan
Selanjutnya, Islam juga mengajarkan sungguhpun meminta maaf itu baik, memberi maaf, jauh lebih mulia. Mengapa memberi maaf atau pemaaf itu lebih baik dan mulia? Karena pihak yang dimintai maaf umumnya dalam posisi yang dirugikan, dizalimi, disalahi, disakiti dan sejenisnya.
Sementara pihak yang meminta maaf umumnya (walau tidak selalu) adalah pihak yang menzalimi, menyakiti, merugikan dan sejenisnya.
Jadi wajar atau tidak istimewa jika pihak yang salah meminta maaf dan pihak yang dirugikan ‘berat’ memaafkan. Nah, dalam posisi seperti ini maka anjuran lebih banyak ditujukan kepada pihak yang dirugikan untuk berjiwa besar dan lapang mau memaafkan kasalahanorang tadi.
Kisah Abu Dzar Al-Ghifari
Manusia memang tempat lupa dan salah. Islam mengajarkan meminta maaf adalah jalanmulia jika kita sudah terlanjur berbuat kesalahan atau kezaliman . Dan cara ini harus segera tanpa menunda-nunda.
Dalam sebuah hadis diterangkan.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لأَحَدٍ مِنْ عِرْضِهِ ، أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُونَ دِينَارٌ ، وَلاَ دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ.
Abu Hurairah berkata, telah bersabda Rasulullah SAW , “Barangsiapa pernah melakukan kezaliman terhadap saudaranya, baik menyangkut kehormatannya atau sesuatu yang lain, maka hendaklah ia minta dihalalkan darinya hari ini, sebelum dinar dan dirham tidak berguna lagi (hari kiamat). (Kelak) jika dia memiliki amal saleh, akan diambil darinya seukuran kezalimannya. Dan jika dia tidak mempunyai kebaikan (lagi), akan diambil dari keburukan saudara (yang dizalimi) kemudian dibebankan kepadanya. (HR Al-Bukhari ).
Baca juga: Viral Gus Miftah Permalukan Penjual Es, Gus Yusuf Berikan Penjelasan
Selanjutnya, Islam juga mengajarkan sungguhpun meminta maaf itu baik, memberi maaf, jauh lebih mulia. Mengapa memberi maaf atau pemaaf itu lebih baik dan mulia? Karena pihak yang dimintai maaf umumnya dalam posisi yang dirugikan, dizalimi, disalahi, disakiti dan sejenisnya.
Sementara pihak yang meminta maaf umumnya (walau tidak selalu) adalah pihak yang menzalimi, menyakiti, merugikan dan sejenisnya.
Jadi wajar atau tidak istimewa jika pihak yang salah meminta maaf dan pihak yang dirugikan ‘berat’ memaafkan. Nah, dalam posisi seperti ini maka anjuran lebih banyak ditujukan kepada pihak yang dirugikan untuk berjiwa besar dan lapang mau memaafkan kasalahanorang tadi.
Kisah Abu Dzar Al-Ghifari
Lihat Juga :