Gus Miftah Minta Maaf: Belajar dari Kisah Abu Dzar Meminta Diinjak Kepalanya oleh Bilal
Rabu, 04 Desember 2024 - 11:40 WIB
loading...
A
A
A
Kesalahan dan kecerobohan bisa dilakukan siapa saja. Termasuk sahabat Nabi Muhammad SAW. Abu Dzar Al-Ghifari dan Bilal bin Rabah ra adalah dua sahabat setia Rasulullah SAW yang ikut berjuang menegakkan risalah Islam. Keduanya hampir selalu ikut berjuang di medan perang melawan kaum musyrikin.
Abu Dzar dan Bilal dikenal sebagai penyayang kaum dhuafa dan sahabat yang hidup dalam kesederhanaan.
Baca juga: Penjual Es yang Dihina Gus Miftah Akan Diberangkatkan Umrah
Suatu hari keduanya terlibat perdebatan hingga membuat Abu Dzar lepas kendali dengan mengeluarkan kata-kata yang tidak terpuji.
Kisah kedua sahabat ini bisa menjadi iktibar dan hikmah betapa kemurahan hati dan sifat pemaaf bisa mendatangkan rida Allah.
Berikut kisah Abu Dzar dan Bilal diceritakan Imam Sufyan Ats-Tsaury:
Suatu hari di Madinah, terdengar suara keras dari sesosok sahabat yang sedang berbaring. "Injak kepalaku ini hai, Bilal! Demi Allah, kumohon injaklah!"
Abu Dzar Al-Ghifari meletakkan kepalanya di tanah berdebu. Dilumurkannya pasir ke wajahnya dan dia menunggu penuh harap terompah Bilal ibn Rabah segera mendarat di pelipisnya.
"Kumohon Bilal," rintihnya, "Injaklah wajahku. Demi Allah aku berharap dengannya Allah akan mengampuniku dan menghapus sifat jahiliahku."
Abu Dzar ingin sekali menangis. Dia menyesal. Dia sedih. Dia takut. Dia marah pada dirinya sendiri. Dia merasa begitu lemah berhadapan dengan hawa nafsunya. Maka dengan kepala bersaput debu dan wajah belepotan pasir yang disurukkan, dia mengerang lagi, "Kumohon injaklah kepalaku!"
Abu Dzar dan Bilal dikenal sebagai penyayang kaum dhuafa dan sahabat yang hidup dalam kesederhanaan.
Baca juga: Penjual Es yang Dihina Gus Miftah Akan Diberangkatkan Umrah
Suatu hari keduanya terlibat perdebatan hingga membuat Abu Dzar lepas kendali dengan mengeluarkan kata-kata yang tidak terpuji.
Kisah kedua sahabat ini bisa menjadi iktibar dan hikmah betapa kemurahan hati dan sifat pemaaf bisa mendatangkan rida Allah.
Berikut kisah Abu Dzar dan Bilal diceritakan Imam Sufyan Ats-Tsaury:
Suatu hari di Madinah, terdengar suara keras dari sesosok sahabat yang sedang berbaring. "Injak kepalaku ini hai, Bilal! Demi Allah, kumohon injaklah!"
Abu Dzar Al-Ghifari meletakkan kepalanya di tanah berdebu. Dilumurkannya pasir ke wajahnya dan dia menunggu penuh harap terompah Bilal ibn Rabah segera mendarat di pelipisnya.
"Kumohon Bilal," rintihnya, "Injaklah wajahku. Demi Allah aku berharap dengannya Allah akan mengampuniku dan menghapus sifat jahiliahku."
Abu Dzar ingin sekali menangis. Dia menyesal. Dia sedih. Dia takut. Dia marah pada dirinya sendiri. Dia merasa begitu lemah berhadapan dengan hawa nafsunya. Maka dengan kepala bersaput debu dan wajah belepotan pasir yang disurukkan, dia mengerang lagi, "Kumohon injaklah kepalaku!"
Lihat Juga :