Muhammadiyah Meniru Kaum Nasrani? Begini Konsep Welas Asih Kiai Ahmad Dahlan

Kamis, 05 Desember 2024 - 21:02 WIB
loading...
A A A
Kunci pengembangan sikap hidup seperti itu dan pengembangan kemampuan menggunakan akal pikiran dan hati suci menurut Kiai Dahlan hanya mungkin diperoleh melalui pendidikan.

Ilmu pengetahuan yang dikuasai dan dimiliki seseorang bukanlah hadiah atau hidayah dari Tuhan, tapi merupakan perolehan dari kegiatan belajar.

Untuk itu, semua orang harus memiliki dan terus mengembangkan etos pendidikan dan belajar dengan cara menjadikan dirinya sebagai murid sekaligus guru.

Saat seseorang menjadi murid ia belajar dan menjadikan seluruh kegiatan hidupnya sebagai aktivitas belajar pada semua orang dalam tiap kesempatan.

Ketika seseorang menjadi guru ia mengajar dan menyebar ilmu yang ia miliki pada siapa saja dalam kesempatan apa saja.

Baca juga: Kisah Kiai Ahmad Dahlan Merombak Ruang Tamu Rumahnya Menjadi Ruang Kelas

Selanjutnya, pengetahuan tentang kebenaran dan kebaikan bagi Ahmad Dahlan ialah pengetahuan yang diperoleh dari kerja akal-pikiran.

Tujuan utama pemikiran tidak sekadar mengetahui dan memahami kebaikan dan kebenaran, tapi bagaimana kebaikan dan kebenaran itu diterapkan dalam hidup keseharian.

Pengetahuan bagi Kiai Ahmad Dahlan ialah alat untuk memecahkan berbagai problem kehidupan umat manusia, sehingga kebenaran pengetahuan ajaran Islam sebagai hasil kerja akal-suci, harus bisa memecahkan dan menjawab berbagai problem kehidupan umat manusia.

Selalu dicari hubungan antara kebenaran dan kebaikan ajaran Islam dengan fungsinya bagi kehidupan umat manusia. Karena itu, pemahaman dan penemuan kebenaran dan kebaikan ajaran Islam tidak semata-mata diperoleh dari tafsir deduktif atas ayat-ayat dalam kitab suci Al-Quran, tapi bisa diperoleh melalui induksi pengalaman empirik beragam komunitas pemeluk agama lain.

Baca juga: Kiai Hasyim Memanggil Kiai Dahlan dengan Panggilan Mas...

Dari sini pula Kiai Ahmad Dahlan memandang bahwa capaian keluhuran di dalam kehidupan duniawi sebagai jalan bagi pencapaian keluhuran kehidupan sesudah mati di alam kehidupan akhirat.

Menurut Abdul Munir Mulkhan, pandangan Kiai Ahmad Dahlan seperti demikian itu berbeda dari model Etika Protestan yang meletakkan keluhuran duniawi sebagai bukti dari keluhuran dalam kehidupan sesudah kematian atau ukhrawi tersebut.
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Sejarah Kiswah Kakbah:...
Sejarah Kiswah Kakbah: Dari Beragam Warna hingga Hitam yang Mendunia
Dibangun Lebih dari...
Dibangun Lebih dari Rp1.500 Triliun! 20 Fakta Menakjubkan Masjidil Haram
Jejak Para Singa Allah:...
Jejak Para Singa Allah: Deretan Panglima Perang Terhebat dalam Sejarah Islam
Inilah Penyebab Utama...
Inilah Penyebab Utama Iran Menjadi Negara Syiah
Kisah Runtuhnya Kekaisaran...
Kisah Runtuhnya Kekaisaran Sassaniyah: Transformasi Jati Diri Bangsa Persia di Bawah Islam
Sejarah dan Asal-usul...
Sejarah dan Asal-usul Ucapan Minal Aidin Wal Faizin
Rekomendasi
Parasit Pemakan Daging...
Parasit Pemakan Daging Manusia Menteror Amerika Serikat
Penemuan Pintu Besar...
Penemuan Pintu Besar di Pegunungan Kazakhstan Dikaitkan dengan Alien
5 Robot Terbesar di...
5 Robot Terbesar di Dunia Nyata seperti di Film Transformers
Artikel Terkini
Bacaan Niat 3 Jenis...
Bacaan Niat 3 Jenis Puasa Sunnah di Bulan Muharram
Deretan Dalil Kuat Anjuran...
Deretan Dalil Kuat Anjuran 3 Puasa Sunnah di Bulan Muharram
Jadwal Puasa Muharam...
Jadwal Puasa Muharam 1448 H Tahun 2026, Kapan Puasa Tasu'a dan Asyura Dilaksanakan?
Jangan Libatkan Anak...
Jangan Libatkan Anak dalam Konflik Perceraian, Ini Pesan Buya Yahya untuk Orang Tua
Ramai Kasus Perebutan...
Ramai Kasus Perebutan Hak Asuh Anak, Begini Aturan Hadhanah dalam Islam
5 Putusan Rasulullah...
5 Putusan Rasulullah SAW tentang Hak Asuh Anak Setelah Perceraian
Infografis
Tri Mumpuni, Ilmuwan...
Tri Mumpuni, Ilmuwan Muslim Indonesia Paling Berpengaruh di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved