Kisah Sufi: Segala Kebajikan Dijalankan, Sayangnya Kurang Perhatian
Selasa, 10 Desember 2024 - 11:00 WIB
loading...
A
A
A
Tiba-tiba, dilihatnya gerbang itu tertutup; lalu terdengar suara berkata kepadanya: "Berjaga-jagalah senantiasa; sebab gerbang ini hanya terbuka sekali dalam seratus tahun."
Baca juga: Kisah Sufi: Pelajaran untuk Putra Raja
Ia pun tinggal di sana menunggu, penuh gairah menantikan dibukanya kembali gerbang tersebut. Tetapi, mengabaikan kesempatan untuk melakukan kebajikan bagi manusia, ia mendapati bahwa kemampuannya untuk memperhatikan tidaklah cukup bagi dirinya.
Setelah berjaga terus selama waktu yang rasanya sudah seabad, kepalanya terkantuk-kantuk. Segera saja kelopak matanya menutup. Dan dalam saat yang sekejap itu gerbang pun terbuka. Sebelum mata lelaki itu benar-benar terbuka kembali, gerbang itu pun tertutup dengan suara gemuruh yang cukup dahsyat untuk membangunkan orang mati.
***
Idries Shah dalam bukunya berjudul "Tales of The Dervishes"yang diterjemahkan Ahmad Bahar menjadi "Harta Karun "dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi" menjelaskan kisah ini merupakan bahan ajaran darwis yang disukai, kadang- kadang disebut 'Perumpamaan tentang Kurangnya Perhatian.' Walaupun dikenal sebagai cerita rakyat, asal usulnya tidak diketahui.
Beberapa orang menganggapnya berasal dari Hadrat Ali , Khalifah Keempat. Yang lain mengatakan bahwa kisah ini begitu penting sehingga disampaikan oleh Nabi sendiri, secara rahasia. Yang pasti, kisah ini tidak ditemukan dalam Hadis Nabi yang sahih.
Baca juga: Kisah Sufi: Orang yang Mudah Marah
Bentuk sastra yang ditampilkan di sini berasal dari karya seorang darwis tak dikenal dari abad ketujuh belas, Amil-Baba, yang naskah-naskahnya menekankan bahwa 'pengarang sejati adalah dia yang karangannya tanpa nama karena dengan cara itu tak ada yang berdiri di antara pelajar dan yang dipelajarinya.'
Baca juga: Kisah Sufi: Pelajaran untuk Putra Raja
Ia pun tinggal di sana menunggu, penuh gairah menantikan dibukanya kembali gerbang tersebut. Tetapi, mengabaikan kesempatan untuk melakukan kebajikan bagi manusia, ia mendapati bahwa kemampuannya untuk memperhatikan tidaklah cukup bagi dirinya.
Setelah berjaga terus selama waktu yang rasanya sudah seabad, kepalanya terkantuk-kantuk. Segera saja kelopak matanya menutup. Dan dalam saat yang sekejap itu gerbang pun terbuka. Sebelum mata lelaki itu benar-benar terbuka kembali, gerbang itu pun tertutup dengan suara gemuruh yang cukup dahsyat untuk membangunkan orang mati.
***
Idries Shah dalam bukunya berjudul "Tales of The Dervishes"yang diterjemahkan Ahmad Bahar menjadi "Harta Karun "dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi" menjelaskan kisah ini merupakan bahan ajaran darwis yang disukai, kadang- kadang disebut 'Perumpamaan tentang Kurangnya Perhatian.' Walaupun dikenal sebagai cerita rakyat, asal usulnya tidak diketahui.
Beberapa orang menganggapnya berasal dari Hadrat Ali , Khalifah Keempat. Yang lain mengatakan bahwa kisah ini begitu penting sehingga disampaikan oleh Nabi sendiri, secara rahasia. Yang pasti, kisah ini tidak ditemukan dalam Hadis Nabi yang sahih.
Baca juga: Kisah Sufi: Orang yang Mudah Marah
Bentuk sastra yang ditampilkan di sini berasal dari karya seorang darwis tak dikenal dari abad ketujuh belas, Amil-Baba, yang naskah-naskahnya menekankan bahwa 'pengarang sejati adalah dia yang karangannya tanpa nama karena dengan cara itu tak ada yang berdiri di antara pelajar dan yang dipelajarinya.'
(mhy)
Lihat Juga :