Kisah Sufi: Pelajaran untuk Putra Raja
Sabtu, 17 Desember 2022 - 13:37 WIB
loading...
Versi ini muncul dalam sebuah tulisan darwis pengembara yang dikutip dari sebuah cerita yang dianggap berasal dari Amir Sultan, Syaih dari Bokhara. Foto/Ilustrasi: Ist
A
A
A
Kisah ini hampir mirip terdapat pula pada "Himne Jiwa" (Hymn of the Soul) dalam Perjanjian Baru Apokripa. Filsuf Ibnu Sina (wafat 1038), di Barat dikenal sebagai Avicenna, telah menguraikan bahan yang sama dalam alegorinya tentang Keterasingan Jiwa, atau juga, Puisi Jiwa.
Idries Shah dalam bukunya yang berjudul "Tales of The Dervishes" menjelaskan versi ini muncul dalam sebuah tulisan darwis pengembara yang dikutip dari sebuah cerita yang dianggap berasal dari Amir Sultan, Syaih dari Bokhara, yang mengajar di Istanbul dan meninggal pada tahun 1429.
Baca juga: Kisah Sufi: Ketika Setan Kehilangan Pekerjaan
Berikut kisahnya sebagaimana dinukil dalam buku yang diterjemahkan Ahmad Bahar menjadi "Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi" tersebut.
Konon, di sebuah negeri di mana semua orang bagaikan raja, ada sebuah keluarga yang hidup berkecukupan dan dikelilingi oleh hal-hal yang tidak bisa diucapkan oleh lidah manusia dalam istilah-istilah yang diketahuinya.
Negeri Sharq itu tampak memuaskan bagi pangeran muda, Dhat, sampai suatu hari orang tuanya berkata: "Sayang, Nak, sudah kebiasaan di negeri kita ini bahwa setiap pangeran raja, yang telah mencapai usia tertentu, harus pergi berkelana menempuh ujian. Hal ini dimaksudkan agar seorang pangeran bisa layak mewarisi kerajaan ini; supaya dalam nama baik dan kenyataan, seorang anak raja akan mencapai dengan waspada penuh dan kerja keras suatu derajat kelaki-lakian yang tak dapat diperoleh dengan cara lain.
Demikianlah kebiasaan itu sejak semula, dan akan terus begitu sampai akhir.
Karena itulah, Pangeran Dhat pun bersiap melakukan perjalanannya, dan keluarganya pun membekalinya dengan makanan terbaik yang bisa mereka temukan; suatu makanan khusus yang bisa menguatkannya selama dalam perantauan, tetapi dalam jangka pendek jumlahnya tak terbatas.
Mereka juga memberinya bekal-bekal lain, yang tak mungkin disebutkan, untuk melindunginya, apabila dipergunakan dengan tepat.
Baca juga: Kisah Sufi, Putri yang Tidak Patuh
Idries Shah dalam bukunya yang berjudul "Tales of The Dervishes" menjelaskan versi ini muncul dalam sebuah tulisan darwis pengembara yang dikutip dari sebuah cerita yang dianggap berasal dari Amir Sultan, Syaih dari Bokhara, yang mengajar di Istanbul dan meninggal pada tahun 1429.
Baca juga: Kisah Sufi: Ketika Setan Kehilangan Pekerjaan
Berikut kisahnya sebagaimana dinukil dalam buku yang diterjemahkan Ahmad Bahar menjadi "Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi" tersebut.
Konon, di sebuah negeri di mana semua orang bagaikan raja, ada sebuah keluarga yang hidup berkecukupan dan dikelilingi oleh hal-hal yang tidak bisa diucapkan oleh lidah manusia dalam istilah-istilah yang diketahuinya.
Negeri Sharq itu tampak memuaskan bagi pangeran muda, Dhat, sampai suatu hari orang tuanya berkata: "Sayang, Nak, sudah kebiasaan di negeri kita ini bahwa setiap pangeran raja, yang telah mencapai usia tertentu, harus pergi berkelana menempuh ujian. Hal ini dimaksudkan agar seorang pangeran bisa layak mewarisi kerajaan ini; supaya dalam nama baik dan kenyataan, seorang anak raja akan mencapai dengan waspada penuh dan kerja keras suatu derajat kelaki-lakian yang tak dapat diperoleh dengan cara lain.
Demikianlah kebiasaan itu sejak semula, dan akan terus begitu sampai akhir.
Karena itulah, Pangeran Dhat pun bersiap melakukan perjalanannya, dan keluarganya pun membekalinya dengan makanan terbaik yang bisa mereka temukan; suatu makanan khusus yang bisa menguatkannya selama dalam perantauan, tetapi dalam jangka pendek jumlahnya tak terbatas.
Mereka juga memberinya bekal-bekal lain, yang tak mungkin disebutkan, untuk melindunginya, apabila dipergunakan dengan tepat.
Baca juga: Kisah Sufi, Putri yang Tidak Patuh
Lihat Juga :