Kiai Ahmad Dahlan Terinspirasi Surat Ali Imran Ayat 104 dalam Membangun Organisasi Modern
loading...
A
A
A
Sejarah masa depan kemudian dipahami sebagai kisah kehancuran moral dan peradaban dengan puncak peristiwa Kiamat.
Kecenderungan Salafi sulit diterakan pada gagasan keagamaan Ahmad Dahlan, seperti cap puritanisme kepadanya.
Pemberian label Salafi dan Islam puritan terhadap gagasan keagamaan Muhammadiyah dan Kiai Ahmad Dahlan lebih didasarkan praktik keagamaan aktivis Muhammadiyah dari generasi sesudah pendiri gerakan itu wafat.
Sulit ditemukan dokumen yang bisa dipercaya berhubungan langsung dengan gagasan dan kerja sosial yang menyatakan bahwa Kiai Ahmad Dahlan menggunakan kosa-kata Salaf dan Islam puritan dalam menjelaskan pandangan keagamaan dan aksi sosialbudayanya.
Pendiri gerakan Islam modernis terkemuka ini hanya sesekali mengkritik kepercayaan terhadap jimat-jimat dan praktik agama dengan taklid, tapi sulit diperoleh data tentang kritiknya atas tradisi keberagamaan Islam yang populer ketika itu yang bisa dikaitkan dengan Islam puritan.
Kiai Ahmad Dahlan memiliki gagasan genial dan otentik yang tidak hanya bisa dirujukkan pada gagasan Abduh, Rasyid Ridla, dan Afghani, apalagi dengan kaum Wahabi.
Kiai Dahlan tidak sekalipun menyebut kosakata puritan dan salafi di dalam seluruh gagasan dan kerja pembaruan sosial-budaya yang dilakukannya. Hanya dalam generasi pasca Kiai Dahlan, kedua kosa kata itu mulai dikenal.
Rasionalitas pemahaman dan praktik ritual mungkin diambil dari tokoh pembaharu Islam tersebut. Tapi, inovasi kreatif pragmatis dan fungsional dalam bentuk rumah sakit, sekolah modern, pemihakan pada kaum tertindas, banyak diambil dari pengalaman kaum Kristiani di Tanah Air, selain dari pengalaman elite priayi Jawa yang sudah berkembang bersama masuknya kolonialisme Belanda, Inggris atau Portugis ke negeri ini.
Sulit dicari contohnya dalam sejarah Islam atau pemikiran Islam ketika Kiai Ahmad Dahlan mendirikan organisasi beserta inovasi kreatifnya tentang berbagai model pemberdayaan kaum perempuan, kaum proletar dan tertindas (mustadl’afin) melalui lembaga rumah sakit, pondok penampungan gelandangan, kaum terlantar, dan korban perang.
Berbagai bentuk pemberdayaan perempuan dan kaum proletar yang dilakukan Kiai Ahmad Dahlan itu lebih terinspirasi dari pergaulannya dengan elite Kerajaan, priyayi Jawa, pejabat Kerajaan Belanda, Pendeta dan Pastur.
Sayang model gerakan yang belakangan populer di kalangan aktivis LSM itu kini tampak semakin terasing dari aktivis dan kegiatan Muhammadiyah, ketika gerakan ini tumbuh besar.
Kiai Ahmad Dahlan sendiri ketika itu adalah salah seorang punggawa (pejabat) Kerajaan Yogjakarta tanpa pendidikan formal, tapi bergaul dengan berbagai kalangan luas dari elite Jawa hingga pejabat kolonial, pendeta dan pastur.
Kecenderungan Salafi sulit diterakan pada gagasan keagamaan Ahmad Dahlan, seperti cap puritanisme kepadanya.
Pemberian label Salafi dan Islam puritan terhadap gagasan keagamaan Muhammadiyah dan Kiai Ahmad Dahlan lebih didasarkan praktik keagamaan aktivis Muhammadiyah dari generasi sesudah pendiri gerakan itu wafat.
Sulit ditemukan dokumen yang bisa dipercaya berhubungan langsung dengan gagasan dan kerja sosial yang menyatakan bahwa Kiai Ahmad Dahlan menggunakan kosa-kata Salaf dan Islam puritan dalam menjelaskan pandangan keagamaan dan aksi sosialbudayanya.
Pendiri gerakan Islam modernis terkemuka ini hanya sesekali mengkritik kepercayaan terhadap jimat-jimat dan praktik agama dengan taklid, tapi sulit diperoleh data tentang kritiknya atas tradisi keberagamaan Islam yang populer ketika itu yang bisa dikaitkan dengan Islam puritan.
Kiai Ahmad Dahlan memiliki gagasan genial dan otentik yang tidak hanya bisa dirujukkan pada gagasan Abduh, Rasyid Ridla, dan Afghani, apalagi dengan kaum Wahabi.
Kiai Dahlan tidak sekalipun menyebut kosakata puritan dan salafi di dalam seluruh gagasan dan kerja pembaruan sosial-budaya yang dilakukannya. Hanya dalam generasi pasca Kiai Dahlan, kedua kosa kata itu mulai dikenal.
Rasionalitas pemahaman dan praktik ritual mungkin diambil dari tokoh pembaharu Islam tersebut. Tapi, inovasi kreatif pragmatis dan fungsional dalam bentuk rumah sakit, sekolah modern, pemihakan pada kaum tertindas, banyak diambil dari pengalaman kaum Kristiani di Tanah Air, selain dari pengalaman elite priayi Jawa yang sudah berkembang bersama masuknya kolonialisme Belanda, Inggris atau Portugis ke negeri ini.
Sulit dicari contohnya dalam sejarah Islam atau pemikiran Islam ketika Kiai Ahmad Dahlan mendirikan organisasi beserta inovasi kreatifnya tentang berbagai model pemberdayaan kaum perempuan, kaum proletar dan tertindas (mustadl’afin) melalui lembaga rumah sakit, pondok penampungan gelandangan, kaum terlantar, dan korban perang.
Berbagai bentuk pemberdayaan perempuan dan kaum proletar yang dilakukan Kiai Ahmad Dahlan itu lebih terinspirasi dari pergaulannya dengan elite Kerajaan, priyayi Jawa, pejabat Kerajaan Belanda, Pendeta dan Pastur.
Sayang model gerakan yang belakangan populer di kalangan aktivis LSM itu kini tampak semakin terasing dari aktivis dan kegiatan Muhammadiyah, ketika gerakan ini tumbuh besar.
Kiai Ahmad Dahlan sendiri ketika itu adalah salah seorang punggawa (pejabat) Kerajaan Yogjakarta tanpa pendidikan formal, tapi bergaul dengan berbagai kalangan luas dari elite Jawa hingga pejabat kolonial, pendeta dan pastur.
(mhy)