Kisah Tabiin Amir bin Abdillah: Tidak Menikah dan Menolak Makan Daging

Selasa, 17 Desember 2024 - 14:39 WIB
loading...
A A A
Maka Amir bin Abdillah menghampininya dan bertanya: “Kamu sudah menunaikan jizyah yang menjadi kewajibanmu?”

Ahli dzimmah itu menjawab: Ya, aku sudah menunaikannya.”

Baca juga: Kisah Tobatnya Malik Bin Dinar, Preman yang Menjadi Ulama di Masa Tabiin

Amir menoleh kepada orang yang memegang leher ahli dzimmah tersebut dan bertanya: “Apa yang Anda inginkan darinya?

Dia menjawab: “Aku ingin dia pergi bersamaku untuk membersihkan kebun milik kepala polisi.”

Amir bertanya kepada si dzimmi: “Anda berhasrat untuk kerja di tempat tesebut?”

Si dzimmi menjawab: “Tidak, karena tugas itu akan memeras tenagaku dan aku tidak bisa mencari makan untuk keluargaku!”

Lalu Amir menoleh lagi kepada laki-laki yang memegang leher dzimmi tersebut: “Lepaskan dia!”

Ia menjawab: “Aku tidak akan melepaskannya.”

Maka tidak ada pilihan bagi Amir selain menyelamatkan orang dzimmi tersebut sembari berkata: “Demi Allah, tidak boleh perjanjian orang dzinimi (untuk dilindungi) dengan Nabi Muhammad dibatalkan selagi saya masih hidup.”

Kemudian berkumpullah manusia dan turut membantu Amir mengalahkan polisi itu dan akhirnya selamatlah orang dzimmi tersebut. Sebagai pelampiasannya teman-teman petugas polisi tersebut menuduh Amir sebaai orang yang tidak taat pemerintah dan keluar dan ahlus sunnah wal jama’ah.

Mereka berkata: “Dia tidak mau menikah dengan wanita, tidak mau makan daging hewan dan susunya. Tidak mau menghadiri pertemuan yang diadakan pemerintah..” Dan mereka mengadukan persoalan tersebut kepada amirul mukminin Utsman bin Affan.

Khalifah memerintahkan wali Bashrah untuk memanggil Amir bin Abdillah dan meminta keterangan kepadanya perihal tuduhan yang ditujukan atasnya, lalu hasilnya agar dilaporkan kepada khalifah. Maka wali Bashrah memanggil Amir dan berkata: Sesungguhnya amirul mukminin telah menyuruhku bertanya kepadamu perihal perkara-perkara yang dituduhkan kepada Anda.”

Baca juga: Tabiin yang Sahid di Tangan Penguasa Kufah Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi

Amir menjawab: “Silakan Anda bertanya sesuai dengan yang diinginkan amirul mukminin.”

Lalu wali Bashrah bertanya: ‘Mengapa Anda menjauhi sunnah Rasulullah dan tidak mau menikah?”

Beliau menjawab: “Aku tidak menikah bukan karena ingin menyimpang dan sunnah Rasulullah karena aku tahu bahwa tidak ada kerahiban (hidup membujang untuk beribadah) dalam Islam. Namun aku hanya memiliki satu jiwa saja, maka aku jadikan ia untuk Allah dan aku hawatir jika istriku kelak akan niengalahkan hal itu.”

Wali berkata: “Lalu mengapa Anda tidak mau makan daging?”

Beliau menjawab: “Aku bersedia memakannya bila aku berselera dan aku mendapatkannya. Namun apabila aku tidak berselera atau aku berselera namun tidak mendapatkannya maka aku tidak memakannya.”

Beliau ditanya lagi: “Mengapa Anda tidak mau makan keju?”

Beliau menjawab: “Sesungguhnya di daerah saya banyak tinggal orang-orang Majusi yang membuat keju, mereka adalah suatu kaum yang tidak membedakan antara bangkai dengan hewan yang disembelih, sehingga saya khawatir jika minyak yang merupakan satu bagian dari bahan pembuat keju berasal dari hewan yang tidak disembelih. Jika telah ada dua orang muslim yang melihat bahwa keju tersebut dibuat dari minyak hewan yang disembelih, tentulah aku akan memakannya.”

Beliau ditanya: “Apa yang menghalangi Anda untuk mendatangi pertemuan yang diadakan pemerintah dan menyaksikannya?”

Beliau menjawab: “Sesungguhnya di depan pintu kalian begitu banyak orang yang ingin dipenuhi hajatnya, maka undanglah mereka ke tempat kalian dan cukupilah kebutuhan mereka dengan apa yang kalian punya, dan biarkanlah orang yang tidak meminta kebutuhan kepada kalian.”

Usai pertemuan tersebut, jawaban Amir bin Abdillah ini dilaporkan pada amirul mukminin Utsman bin Affan dan khalifah memandang tidak ada indikasi menyimpang dan ketaatan atau keluar dari ahlus sunnah wal jama’ah pada diri Amir.

Hanya saja api kejahatan belum padam sampai di situ, isu yang membicarakan keburukan Amir bin Abdillah makin gencar, hingga nyaris saja terjadi fitnah antara pembela beliau dengan orang-orang yang menjadi saingannya, lalu Utsman bin Affan memerintahkan beliau untuk berpindah ke negeri Syam dan menjadikan negeri tersebut sebagai tempat tinggalnya.

Khalifah mewasiatkan wali kota Mu’awiyah bin Abi Sufyan untuk menyambut baik kedatangan dan menjaga kehormatannya.

Sampailah hari di mana Amir bin Abdillah memutuskan untuk pindah dari Bashrah. Para sahabat dan murid-murid beliau keluar untuk mengucapkan perpisahan dengan beliau.

Mereka mengantar beliau hingga sampai di Marbad, setibanya di sana beliau berkata kepada mereka: “Sesungguhnya saya adalah penyeru maka jagalah seruanku.”

Lalu orang-orang melongok agar dapat melihat beliau dan mereka tenang tak bergerak dan mata mereka tertuju kepada beliau, sementara beliau mengangkat kedua tangannya dan berdo’a: ‘Ya Allah, orang yang telah menghasut dan mendustaiku serta menjadi sebab terusirnya aku dan negeriku, memisahkan antara diriku dengan para sahabatku, ya Allah sesungguhnya aku telah memaafkannya, maka maafkanlah dia. Berilah ia karunia kesehatan dalam agama dan dunianya. Limpahkanlah aku, dia dan juga seluruh kaum muslimin dengan rahmat-Mu, ampunan-Mu dan kebaikan-Mu wahai Yang Paling pengasih” kemudian beliau mengarahkan kendaraannya menuju Syam.

Amir bin Abdillah memutuskan hidup di negeri Syam untuk mengisi sisa-sisa umurnya. Beliau memilih Baitul Maqdis sebagai tempat tinggal dan beliau mendapatkan perlakuan baik dan pemimpin Syam Mu’awiyah bin Abi Sufyan, dihormati dan dihargai.

Tatkala beliau sakit menjelang wafatnya, para sahabat beliau menjenguknya dan mereka mendapatkan beliau sedang menangis. Mereka bertanya: “Apa yang menyebabkan Anda menangis, padahal Anda memiliki keutamaan ini dan itu?”

Beliau menjawab: ‘Demi Allah aku menangis bukan karena ingin hidup lama di dunia atau takut menghadapi kematian, akan tetapi aku menangis karena jauhnya perjalanan dan alangkah sedikitnya bekal. Sungguh, aku berada di antara tebing dan jurang… bisa jadi ke jannah bisa jadi pula tergelincir ke neraka, aku tidak tahu di mana aku akan sampai...”

Kemudian beliau menghela nafas pelan sedang lisannya basah dengan zikrullah. Di sana, di kiblat yang pertama, Haramain yang ketiga, tempat Rasul melakukan isra’ Amir bin Abdilah At-Tamimi berdiam diri.

Semoga Allah menerangi Amir di dalam kuburnya dan membahagiakannya di jannah-Nya yang kekal. Amin.
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Syawal Bulan Menikah,...
Syawal Bulan Menikah, Inilah 5 Doa untuk Pengantin Baru
Menikah di Bulan Istimewa...
Menikah di Bulan Istimewa Rajab, Ini 3 Keutamaannya!
Apa Itu Hak Khiyar dalam...
Apa Itu Hak Khiyar dalam Pernikahan? Simak Penjelasannya di Sini!
6 Tipe Wanita yang Jangan...
6 Tipe Wanita yang Jangan Dipersunting, Kaum Muslimah Wajib Tahu!
Kisah Tabiin : Sikap...
Kisah Tabiin : Sikap Rendah Hati Abdullah bin Mubarak, Ulama Teladan dan Ditakuti di Medan Perang
Tadabur Surat An-Nur...
Tadabur Surat An-Nur Ayat 32 : Perintah untuk Menikah Bagi yang Masih Melajang
Rekomendasi
Suhu Global Naik Satu...
Suhu Global Naik Satu Derajat, 50% Penduduk Bumi Terancam Mengungsi
Super Blue Blood Moon...
Super Blue Blood Moon 2018, Gerhana Bulan Terindah Sepanjang Sejarah yang Sangat Jarang Terjadi
Fakta Gunung Bergerak,...
Fakta Gunung Bergerak, Berikut Penjelasan Al-Qur'an dan Sains
Artikel Terkini
Siap-siap Memasuki Muharram,...
Siap-siap Memasuki Muharram, Ini 4 Keutamaan Bulan Haram Tersebut!
Lambaian Tangan PPIH...
Lambaian Tangan PPIH Iringi 5.499 Jemaah Haji Gelombang Kedua Tinggalkan Makkah
Pulang Ibadah dari Tanah...
Pulang Ibadah dari Tanah Suci, Bolehkah Memakai Gelar Haji?
Deretan Dalil Kuat Anjuran...
Deretan Dalil Kuat Anjuran 3 Puasa Sunnah di Bulan Muharram
Fakta Sejarah: Hijrah...
Fakta Sejarah: Hijrah Nabi SAW Terjadi di Bulan Rabiul Awal, Bukan Muharram
Jelang Kedatangan Jemaah...
Jelang Kedatangan Jemaah Gelombang Kedua di Madinah, Wamenhaj Minta Petugas Haji Siaga
Infografis
Anjing Sakit Tidak Mau...
Anjing Sakit Tidak Mau Makan dan Lemas, Begini Cara Mengatasinya!
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved