Kisah Tabiin Amir bin Abdillah: Tidak Menikah dan Menolak Makan Daging
Selasa, 17 Desember 2024 - 14:39 WIB
loading...
Kepada Abu Musa Al-Asy’ari inilah Amir bin Abdillah berguru. Ilustrasi: AI
A
A
A
Pada tahun 14 H, saat di mana para pembimbing generasi dan guru utama di kalangan para sahabat dan senior tabi’in membuat perbatasan kota Bashrah atas perintah Khalifah Muslimin Umar bin Khattab ra .
Mereka bertekad untuk membangun kota baru sebagai markas bagi pasukan kaum muslimin untuk berperang di negeri Persia . Sekaligus sebagai titik tolak untuk berdakwah ilallah, serta sebagai menara untuk meninggikan kalimat Allah di muka bumi.
Di kota ini kaum muslimin dan segala penjuru Jazirah Arab , ada yang dan Najd, Hijaz dan Yaman berkumpul untuk menjaga perbatasan daerah kaum muslimin.
Di antara yang turut berhijrah tersebut terdapat pemuda Najed dan Bani Tamim yang dipanggil dengan nama Amir bin Abdillah At-Tamimi Al-Anbari . Usianya masih remaja, masih lunak kulitnya, putih wajahnya, suci jiwanya dan takwa hatinya.
Baca juga: 6 Kasus Manipulasi Hadis di Era Tabiin
Dr. Abdurrahman Ra'fat Basya dalam bukunya berjudul "Shuwaru min Hayati At-Tabi'in" yang diterjemahkan Abu Umar Abdillah menjadi "Mereka adalah Para Tabiin" berkisah, kendati masih berstatus baru, kota Bashrah menjadi kota terkaya di negeri kaum muslimin dan paling melimpah hartanya, karena tertumpuk di dalamnya hasil ghanimah perang dan tambang emas murni.
Namun begitu, bagi pemuda dan Bani Tamimi hal itu bukanlah yang dia cari. Beliau dikenal zuhud terhadap apa yang dimiliki manusia, berharap terhadap apa yang ada di sisi Allah, berpaling dan dunia dan perhiasannya, menghadapkan jiwanya kepada Allah dan keridhaan-Nya.
Ketika itu pemuka Bashrah adalah seorang sahabat agung Abu Musa Al-Asy’ari. Beliau adalah wali kota Bashrah yang bercahaya. Beliau juga panglima perang kaum muslimin yang berasal dan Bashrah setiap kali menghadapi musuh. Beliau adalah imam penduduk Bashrah, pengajar dan pembimbingnya menuju ke jalan Allah.
Kepada Abu Musa Al-Asy’ari inilah Amir bin Abdillah berguru. Baik dalam kondisi perang maupun damai. Aktif menemani beliau setiap menempuh perjalanan, meneguk ilmu darinya tentang Kitabullah yang masih segar seperti tatkala diturunkan di hati Muhammad. Juga mengambil hadis sahih yang bersambung hingga Nabi yang mulia. Beliau menuntut ilmu tentang agama Allah di hadapan Abu Musa Al-Asy’ari.
Baca juga: Kisah Tabiin Cerdas Iyas Bin Mu’awiyah Al-Muzanni
Setelah beliau menyempurnakan ilmu sesuai yang dikehendaki, maka beliau membagi hidupnya menjadi tiga bagian.
Bagian pertama adalah untuk halaqah zikir di masjid Bashrah yang di sana dibacakan dan diajarkan Al-Qur’an kepada manusia.
Kedua, beliau pergunakan untuk mengenyam manisnya ibadah, beliau pancangkan kedua kakinya berdiri di hadapan Allah hingga letih kedua telapak kakinya.
Ketiga, untuk terjun ke medan jihad, beliau menghunus pedangnya untuk berperang di jalan Allah. Seluruh umurnya tidak pernah absen sedikitpun dari tiga kesibukan tersebut, sehingga beliau dikenal sebagai abid (ahli ibadahnya) dan ahli zuhudnya penduduk Bashrah.
Di antara berita tentang keadaan Amir bin Abdillah adalah seperti yang dikisahkan oleh seorang putra Bashrah yang mengatakan:
“Aku pernah mengikuti safar bersama rombongan yang di dalamnya terdapat Amir bin Abdillah. Tatkala menjelang malam kami singgah di hutan. Aku melihat Amir mengemasi barang-barangnya, mengikat kendaraannya di pohon dan memanjangkan tali pengikatnya, mengumpulkan rerumputan yang dapat mengenyangkan kendaraannya dan meletakkan di hadapannya...
Kemudian beliau masuk ke hutan dan menghilang di dalamnya. Aku berkata kepada diriku sendiri: ‘Demi Allah aku akan mengikutinya dan aku ingin melihat apa yang sedang ia kerjakan di tengah hutan malam ini.”
Baca juga: Dia Tabiin yang Tak Pernah Tidur Malam, Ini Penyebabnya
Aku melihat Amir berjalan hingga berhenti di suatu tempat yang lebat pepohonannya dan tersembunyi dan pandangan manusia. Lalu dia menghadap ke kiblat, berdiri untuk salat. Aku tidak melihat salat yang lebih bagus, lebih sempurna dan lebih khusyuk dan salatnya.
Setelah berlalu beberapa rekaat yang dikehendaki Allah, dia berdo’a kepada Allah dan bermunajah kepada-Nya. Di antara yang dia ucapkan adalah: “Wahai Ilahi, sungguh Engkau telah menciptakan aku dengan penintah-Mu, lalu Engkau tempatkan aku ke dunia ini sesuai kehendak-Mu, lalu Engkau perintahkan “berpegang teguhlah!”, bagaimana aku akan berpegang teguh jika Engkau tidak meneguhkan aku dengan kelembutan-Mu yaa Qawiyyu yaa Matiin!
Wahai Ilahi sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa seandainya aku memiliki dunia dan seluruh isinya, kemudian diminta demi meraih ridha-Mu niscaya aku akan memberikan kepada orang yang memintanya, maka berikanlah jiwaku kepadaku ya Arhamar Rahimin!
Wahai Ilahi, kecintaanku kepada-Mu yang sangat, membuatku terasa ringan menghadapi musibah, ridha atas segala qadha’, maka aku tidak peduli apapun yang menimpa diriku pagi dan sore harinya selagi masih bisa mencintaiMu.”
Putra Bashrah itu melanjutkan: “Kemudian rasa kantuk mendatangiku hingga aku tertidur. Berkali-kali aku tidur dan bangun sedangkan Amir masih tegak di tempatnya, tetap dalam salat dan munajahnya sampai datanglah waktu subuh.
Baca juga: Mengapa Para Sahabat Nabi dan Tabiin Tak Memiliki Karomah?
Usai salat subuh beliau berdo’a: “Ya Allah, waktu subuh telah datang, manusia segera bangun dan pergi mencari karunia-Mu. Sesunguhnya masing-masing mereka memiliki keperluan, dan sesungguhnya keperluan Amir di sisiMu adalah agar Engkau mengampuninya. Ya Allah, kabulkanlah keperluanku dan juga keperluan mereka ya Akramal Akramin.
Ya Allah, sesungguhnya aku telah memohon kepada-Mu tiga perkara, lalu Engkau mengabulkan dua di antaranya dan tinggal satu saja yang belum. Ya Allah, perkenankanlah permohonan tersebut sehingga aku bisa beribadah kepadaMu sesuka hatiku dan sekehendakku!”
Beliau beranjak dan tempat duduknya dan tiba-tiba pandangan matanya tertuju kepadaku.
Beliau terperanjat dan berkata: “Apakah Anda membuntutiku sejak kemarin malam wahai saudaraku dari Bashrah?”
Aku menjawab: ‘Benar.”
Beliau berkata: “Rahasiakanlah apa yang Anda lihat, semoga Allah merahasiakan aib Anda!”
Aku menjawab: “Demi Allah, engkau beritahukan aku terlebih dahulu tentang tiga permohonanmu kepada Allah tersebut, atau aku akan memberitahukan kepada manusia tentang apa yang aku lihat’darimu.”
Beliau berkata: Duhai celaka, jangan sampai Anda beritahukan kepada orang lain!”
Aku katakan: “Dengan syarat engkau penuhi permintaanku padamu.”
Maka tatkala beliau melihat keseriusanku, beliau berkata: “Akan aku ceritakan asalkan Anda mau berjanji kepada Allah untuk tidak menceritakan hal ini kepada sipapun.”
Mereka bertekad untuk membangun kota baru sebagai markas bagi pasukan kaum muslimin untuk berperang di negeri Persia . Sekaligus sebagai titik tolak untuk berdakwah ilallah, serta sebagai menara untuk meninggikan kalimat Allah di muka bumi.
Di kota ini kaum muslimin dan segala penjuru Jazirah Arab , ada yang dan Najd, Hijaz dan Yaman berkumpul untuk menjaga perbatasan daerah kaum muslimin.
Di antara yang turut berhijrah tersebut terdapat pemuda Najed dan Bani Tamim yang dipanggil dengan nama Amir bin Abdillah At-Tamimi Al-Anbari . Usianya masih remaja, masih lunak kulitnya, putih wajahnya, suci jiwanya dan takwa hatinya.
Baca juga: 6 Kasus Manipulasi Hadis di Era Tabiin
Dr. Abdurrahman Ra'fat Basya dalam bukunya berjudul "Shuwaru min Hayati At-Tabi'in" yang diterjemahkan Abu Umar Abdillah menjadi "Mereka adalah Para Tabiin" berkisah, kendati masih berstatus baru, kota Bashrah menjadi kota terkaya di negeri kaum muslimin dan paling melimpah hartanya, karena tertumpuk di dalamnya hasil ghanimah perang dan tambang emas murni.
Namun begitu, bagi pemuda dan Bani Tamimi hal itu bukanlah yang dia cari. Beliau dikenal zuhud terhadap apa yang dimiliki manusia, berharap terhadap apa yang ada di sisi Allah, berpaling dan dunia dan perhiasannya, menghadapkan jiwanya kepada Allah dan keridhaan-Nya.
Ketika itu pemuka Bashrah adalah seorang sahabat agung Abu Musa Al-Asy’ari. Beliau adalah wali kota Bashrah yang bercahaya. Beliau juga panglima perang kaum muslimin yang berasal dan Bashrah setiap kali menghadapi musuh. Beliau adalah imam penduduk Bashrah, pengajar dan pembimbingnya menuju ke jalan Allah.
Kepada Abu Musa Al-Asy’ari inilah Amir bin Abdillah berguru. Baik dalam kondisi perang maupun damai. Aktif menemani beliau setiap menempuh perjalanan, meneguk ilmu darinya tentang Kitabullah yang masih segar seperti tatkala diturunkan di hati Muhammad. Juga mengambil hadis sahih yang bersambung hingga Nabi yang mulia. Beliau menuntut ilmu tentang agama Allah di hadapan Abu Musa Al-Asy’ari.
Baca juga: Kisah Tabiin Cerdas Iyas Bin Mu’awiyah Al-Muzanni
Setelah beliau menyempurnakan ilmu sesuai yang dikehendaki, maka beliau membagi hidupnya menjadi tiga bagian.
Bagian pertama adalah untuk halaqah zikir di masjid Bashrah yang di sana dibacakan dan diajarkan Al-Qur’an kepada manusia.
Kedua, beliau pergunakan untuk mengenyam manisnya ibadah, beliau pancangkan kedua kakinya berdiri di hadapan Allah hingga letih kedua telapak kakinya.
Ketiga, untuk terjun ke medan jihad, beliau menghunus pedangnya untuk berperang di jalan Allah. Seluruh umurnya tidak pernah absen sedikitpun dari tiga kesibukan tersebut, sehingga beliau dikenal sebagai abid (ahli ibadahnya) dan ahli zuhudnya penduduk Bashrah.
Di antara berita tentang keadaan Amir bin Abdillah adalah seperti yang dikisahkan oleh seorang putra Bashrah yang mengatakan:
“Aku pernah mengikuti safar bersama rombongan yang di dalamnya terdapat Amir bin Abdillah. Tatkala menjelang malam kami singgah di hutan. Aku melihat Amir mengemasi barang-barangnya, mengikat kendaraannya di pohon dan memanjangkan tali pengikatnya, mengumpulkan rerumputan yang dapat mengenyangkan kendaraannya dan meletakkan di hadapannya...
Kemudian beliau masuk ke hutan dan menghilang di dalamnya. Aku berkata kepada diriku sendiri: ‘Demi Allah aku akan mengikutinya dan aku ingin melihat apa yang sedang ia kerjakan di tengah hutan malam ini.”
Baca juga: Dia Tabiin yang Tak Pernah Tidur Malam, Ini Penyebabnya
Aku melihat Amir berjalan hingga berhenti di suatu tempat yang lebat pepohonannya dan tersembunyi dan pandangan manusia. Lalu dia menghadap ke kiblat, berdiri untuk salat. Aku tidak melihat salat yang lebih bagus, lebih sempurna dan lebih khusyuk dan salatnya.
Setelah berlalu beberapa rekaat yang dikehendaki Allah, dia berdo’a kepada Allah dan bermunajah kepada-Nya. Di antara yang dia ucapkan adalah: “Wahai Ilahi, sungguh Engkau telah menciptakan aku dengan penintah-Mu, lalu Engkau tempatkan aku ke dunia ini sesuai kehendak-Mu, lalu Engkau perintahkan “berpegang teguhlah!”, bagaimana aku akan berpegang teguh jika Engkau tidak meneguhkan aku dengan kelembutan-Mu yaa Qawiyyu yaa Matiin!
Wahai Ilahi sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa seandainya aku memiliki dunia dan seluruh isinya, kemudian diminta demi meraih ridha-Mu niscaya aku akan memberikan kepada orang yang memintanya, maka berikanlah jiwaku kepadaku ya Arhamar Rahimin!
Wahai Ilahi, kecintaanku kepada-Mu yang sangat, membuatku terasa ringan menghadapi musibah, ridha atas segala qadha’, maka aku tidak peduli apapun yang menimpa diriku pagi dan sore harinya selagi masih bisa mencintaiMu.”
Putra Bashrah itu melanjutkan: “Kemudian rasa kantuk mendatangiku hingga aku tertidur. Berkali-kali aku tidur dan bangun sedangkan Amir masih tegak di tempatnya, tetap dalam salat dan munajahnya sampai datanglah waktu subuh.
Baca juga: Mengapa Para Sahabat Nabi dan Tabiin Tak Memiliki Karomah?
Usai salat subuh beliau berdo’a: “Ya Allah, waktu subuh telah datang, manusia segera bangun dan pergi mencari karunia-Mu. Sesunguhnya masing-masing mereka memiliki keperluan, dan sesungguhnya keperluan Amir di sisiMu adalah agar Engkau mengampuninya. Ya Allah, kabulkanlah keperluanku dan juga keperluan mereka ya Akramal Akramin.
Ya Allah, sesungguhnya aku telah memohon kepada-Mu tiga perkara, lalu Engkau mengabulkan dua di antaranya dan tinggal satu saja yang belum. Ya Allah, perkenankanlah permohonan tersebut sehingga aku bisa beribadah kepadaMu sesuka hatiku dan sekehendakku!”
Beliau beranjak dan tempat duduknya dan tiba-tiba pandangan matanya tertuju kepadaku.
Beliau terperanjat dan berkata: “Apakah Anda membuntutiku sejak kemarin malam wahai saudaraku dari Bashrah?”
Aku menjawab: ‘Benar.”
Beliau berkata: “Rahasiakanlah apa yang Anda lihat, semoga Allah merahasiakan aib Anda!”
Aku menjawab: “Demi Allah, engkau beritahukan aku terlebih dahulu tentang tiga permohonanmu kepada Allah tersebut, atau aku akan memberitahukan kepada manusia tentang apa yang aku lihat’darimu.”
Beliau berkata: Duhai celaka, jangan sampai Anda beritahukan kepada orang lain!”
Aku katakan: “Dengan syarat engkau penuhi permintaanku padamu.”
Maka tatkala beliau melihat keseriusanku, beliau berkata: “Akan aku ceritakan asalkan Anda mau berjanji kepada Allah untuk tidak menceritakan hal ini kepada sipapun.”
Lihat Juga :