Kisah Masyitah Pelayan Putri Firaun
Jum'at, 20 Desember 2024 - 15:20 WIB
loading...
Masyitah atau Siti Masyitoh digambarkan sebagai sosok yang memegang teguh kebenaran dan keimanan kepada Allah Taala, makamnya pun mengeluarkan wangi semerbak yang membuat kagum Nabi Muhammad SAW. Foto ilustrasi/youtube
A
A
A
Kisah Masyitah , seorang pelayan puteri Raja Firaun yang penuh hikmah dan pelajaran tentang keimanan dan keyakinan yang besar terhadap Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Kisah Siti Masyitah ini diriwayatkan dalam hadis Ibnu Abbas radhiyallahu'anhu. Ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam ber-Isra Mikraj, Beliau mencium aroma sangat harum. Penasaran, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam bertanya kepada Malaikat Jibril, “Harum apakah itu wahai Jibril?’’ Malaikat Jibril menjawab, itu adalah wangi dari kuburan seorang perempuan saleha bernama Siti Masyitoh (Mashitah) dan anak-anaknya.
Siapa Siti Masyitah ini? Seperti dikutip dari buku 'Membina Akidah dan Akhlak' yang ditulis Ajie Nazmuddin, Masyitah atau Siti Masyitoh ini digambarkan sebagai perempuan saleha dan sosok yang memegang teguh kebenaran dan keimanan kepada Allah Ta'ala . Kala itu, ia menjadi pelayan dari Siti Asiyah, yaitu istri dari Fir'aun. Siti Masyitah bertugas mengurus anak Fir'aun. Seorang lagi yang dekat dengan Siti Masyitah bernama Hazaqil. Ia adalah pembuat peti, tempat Musa balita ditaruh utuk kemudian dihanyutkan di sungai dan menjadi suaminya.
Siti Masyitah dan suaminya ini sudah beriman pada Nabi Musa namun mereka menyembunyikannya dari Fir'aun. Namun suatu ketika, Masyitah menemukan suaminya telah meninggal dengan cara mengenaskan, yang ternyata dibunuh Fir'aun karena ketahuan sebagai pengikut Musa alaihissalam.
Masyitah sangat sedih melihat kondisi suaminya. Namun ia bersabar dan berserah diri kepada Allah. Ia berkeluh kesah ke istri Fir'aun, Siti Asiyah. Sang istri raja ini pun memberikan nasihat agar Masyitoh dan anak-anaknya sabar. Namun, ia bisa membaca isyarat dari Siti Masyitoh yang beriman kepada Allah. Di akhir nasihatnya, Asiyah mengatakan bahwa selama ini dia juga beriman kepada Allah, tapi menyembunyikan di hadapan suaminya.
Sepeninggal suaminya, seperti biasa Masyitah menjalankan tugasnya sebagai perias putri Fir'aun.
Ucapan itu membuat anak Fir'aun terkejut. “Apakah ucapan yang kamu maksud adalah bapakku,” tanya anak Fir'aun. Siti Masyitoh dengan jujur mengatakan bahwa maksud kata itu ialah Tuhan sesungguhnya, bukan ditujukan untuk Fir'aun. “Yaitu Rabbku, juga Rabb ayahmu, yaitu Allah. Karena tiada Tuhan selain Allah,” katanya.
Jawaban itu membuat anak Fir'aun tersinggung, berarti ada Tuhan lain kecuali bapaknya. Anak Fir'aun itu mengancam melaporkan keyakinan Masyitah tersebut kepada bapaknya.
Namun Masyitah tak gentar, karena ia yakin Allah adalah Tuhan yang sebenarnya, bukan Firaun.
Laporan anaknya membuat Fir'aun murka. Ia tidak menyangka, pengasuh anaknya adalah pengikut Nabi Musa. Masyitah dipanggil lalu ditanya oleh Fir'aun, “Apakah benar apa yang disampaikan anakku? Siapakah Tuhan yang engkau sembah selama ini?’ Masyitah tidak mengelak tuduhan itu. Dengan tegas dia mengatakan, ‘’Betul, Bahwa tiada tuhan selain Allah yang sesungguhnya menguasai alam dan isinya.’’
Kisah Siti Masyitah ini diriwayatkan dalam hadis Ibnu Abbas radhiyallahu'anhu. Ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam ber-Isra Mikraj, Beliau mencium aroma sangat harum. Penasaran, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam bertanya kepada Malaikat Jibril, “Harum apakah itu wahai Jibril?’’ Malaikat Jibril menjawab, itu adalah wangi dari kuburan seorang perempuan saleha bernama Siti Masyitoh (Mashitah) dan anak-anaknya.
Siapa Siti Masyitah ini? Seperti dikutip dari buku 'Membina Akidah dan Akhlak' yang ditulis Ajie Nazmuddin, Masyitah atau Siti Masyitoh ini digambarkan sebagai perempuan saleha dan sosok yang memegang teguh kebenaran dan keimanan kepada Allah Ta'ala . Kala itu, ia menjadi pelayan dari Siti Asiyah, yaitu istri dari Fir'aun. Siti Masyitah bertugas mengurus anak Fir'aun. Seorang lagi yang dekat dengan Siti Masyitah bernama Hazaqil. Ia adalah pembuat peti, tempat Musa balita ditaruh utuk kemudian dihanyutkan di sungai dan menjadi suaminya.
Siti Masyitah dan suaminya ini sudah beriman pada Nabi Musa namun mereka menyembunyikannya dari Fir'aun. Namun suatu ketika, Masyitah menemukan suaminya telah meninggal dengan cara mengenaskan, yang ternyata dibunuh Fir'aun karena ketahuan sebagai pengikut Musa alaihissalam.
Masyitah sangat sedih melihat kondisi suaminya. Namun ia bersabar dan berserah diri kepada Allah. Ia berkeluh kesah ke istri Fir'aun, Siti Asiyah. Sang istri raja ini pun memberikan nasihat agar Masyitoh dan anak-anaknya sabar. Namun, ia bisa membaca isyarat dari Siti Masyitoh yang beriman kepada Allah. Di akhir nasihatnya, Asiyah mengatakan bahwa selama ini dia juga beriman kepada Allah, tapi menyembunyikan di hadapan suaminya.
Sepeninggal suaminya, seperti biasa Masyitah menjalankan tugasnya sebagai perias putri Fir'aun.
Sisir Jatuh dan Keyakinan Masyitah
Ada kisah sepele, tapi berdampak besar. Gara-gara sisir yang terjatuh, akhirnya terungkap jati diri Masyitah. Saat itu Masyitah sedang menyisir rambut anak Fir'aun. Tiba-tiba sisir dalam genggamannya terjatuh. Ketika mengambil lagi sisir tersebut, bibirnya reflek mengucap, ‘’Bismillah.’’Ucapan itu membuat anak Fir'aun terkejut. “Apakah ucapan yang kamu maksud adalah bapakku,” tanya anak Fir'aun. Siti Masyitoh dengan jujur mengatakan bahwa maksud kata itu ialah Tuhan sesungguhnya, bukan ditujukan untuk Fir'aun. “Yaitu Rabbku, juga Rabb ayahmu, yaitu Allah. Karena tiada Tuhan selain Allah,” katanya.
Jawaban itu membuat anak Fir'aun tersinggung, berarti ada Tuhan lain kecuali bapaknya. Anak Fir'aun itu mengancam melaporkan keyakinan Masyitah tersebut kepada bapaknya.
Namun Masyitah tak gentar, karena ia yakin Allah adalah Tuhan yang sebenarnya, bukan Firaun.
Laporan anaknya membuat Fir'aun murka. Ia tidak menyangka, pengasuh anaknya adalah pengikut Nabi Musa. Masyitah dipanggil lalu ditanya oleh Fir'aun, “Apakah benar apa yang disampaikan anakku? Siapakah Tuhan yang engkau sembah selama ini?’ Masyitah tidak mengelak tuduhan itu. Dengan tegas dia mengatakan, ‘’Betul, Bahwa tiada tuhan selain Allah yang sesungguhnya menguasai alam dan isinya.’’
Lihat Juga :