Rasulullah Saja Bersedekah Lebih Banyak di Bulan Ramadhan
Minggu, 03 Mei 2020 - 04:06 WIB
loading...
Saatnya meningkaykan sedekah di bulan Ramadhan. Ilustrasi/SINDOnews
A
A
A
SUATU hari Aisyah ra menghidangkan makanan paha domba kesukaan Rasulullah. Lalu Rasulullah bertanya, ”Ya Aisyah, apakah sudah kamu beri Abu Hurairah tetangga kita?”
”Sudah, ya Rasulullah,” jawab Aisyah.
”Bagaimana dengan Ummu Ayman?” tanya Rasulullah lagi.
“Sudah, ya Rasulullah,” jawab Aisyah.
Kemudian Rasulullah bertanya lagi tentang tetangga-tetangganya yang lain, apakah sudah diberi masakan tersebut. Sampai Aisyah merasa penat menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.
“Sudah habis kubagikan, ya Rasulullah, yang tinggal apa yang ada di depan kita ini,” ujar Aisyah.
Rasulullah tersenyum. Lalu dengan lembut menjawab, ”Kamu salah Aisyah, yang habis adalah apa yang kita makan ini dan yang kekal adalah apa yang kita sedekahkan.”
Dikisahkan oleh Umar bin Khattab. Suatu hari seorang laki-laki datang menemui Rasulullah SAW untuk meminta-minta, lalu Rasulullah SAW memberinya.
Keesokan harinya, laki-laki itu datang kembali meminta-minta, lalu Rasulullah SAW memberinya. Keesokan harinya, ia datang kembali dan meminta, Rasulullah kembali memberinya. Keesokan harinya, ia datang dan kembali meminta-minta.
Rasulullah SAW lalu bersabda,"Saya tidak mempunyai apa-apa saat ini. Akan tetapi, ambillah apa yang engkau mau, dan jadikanlah itu utang bagiku. Jika suatu saat saya mempunyai sesuatu, saya akan membayarnya."
Umar lalu berkata kepada Rasulullah SAW, "Wahai Rasulullah, janganlah engkau memberikan sesuatu yang berada di luar batas kemampuanmu."
Rasulullah SAW tersenyum, lalu beliau bersabda kepada Umar, “Karena itulah saya diperintahkan oleh Allah."
Sayyidah Ummu Salamah, istri Rasulullah SAW bercerita: "Suatu hari Rasulullah SAW masuk ke dalam rumahku dalam keadaan muka pucat. Saya khawatir jangan-jangan beliau lagi sakit. Saya lalu bertanya: ya Rasulullah, mengapa wajahmu pucat begitu? Apakah Anda sakit?”
”Sudah, ya Rasulullah,” jawab Aisyah.
”Bagaimana dengan Ummu Ayman?” tanya Rasulullah lagi.
“Sudah, ya Rasulullah,” jawab Aisyah.
Kemudian Rasulullah bertanya lagi tentang tetangga-tetangganya yang lain, apakah sudah diberi masakan tersebut. Sampai Aisyah merasa penat menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.
“Sudah habis kubagikan, ya Rasulullah, yang tinggal apa yang ada di depan kita ini,” ujar Aisyah.
Rasulullah tersenyum. Lalu dengan lembut menjawab, ”Kamu salah Aisyah, yang habis adalah apa yang kita makan ini dan yang kekal adalah apa yang kita sedekahkan.”
Dikisahkan oleh Umar bin Khattab. Suatu hari seorang laki-laki datang menemui Rasulullah SAW untuk meminta-minta, lalu Rasulullah SAW memberinya.
Keesokan harinya, laki-laki itu datang kembali meminta-minta, lalu Rasulullah SAW memberinya. Keesokan harinya, ia datang kembali dan meminta, Rasulullah kembali memberinya. Keesokan harinya, ia datang dan kembali meminta-minta.
Rasulullah SAW lalu bersabda,"Saya tidak mempunyai apa-apa saat ini. Akan tetapi, ambillah apa yang engkau mau, dan jadikanlah itu utang bagiku. Jika suatu saat saya mempunyai sesuatu, saya akan membayarnya."
Umar lalu berkata kepada Rasulullah SAW, "Wahai Rasulullah, janganlah engkau memberikan sesuatu yang berada di luar batas kemampuanmu."
Rasulullah SAW tersenyum, lalu beliau bersabda kepada Umar, “Karena itulah saya diperintahkan oleh Allah."
Sayyidah Ummu Salamah, istri Rasulullah SAW bercerita: "Suatu hari Rasulullah SAW masuk ke dalam rumahku dalam keadaan muka pucat. Saya khawatir jangan-jangan beliau lagi sakit. Saya lalu bertanya: ya Rasulullah, mengapa wajahmu pucat begitu? Apakah Anda sakit?”
Lihat Juga :