10 Contoh Kultum Ramadan 7 Menit, Referensi Ceramah Singkat Pengisi Waktu sebelum Berbuka Puasa
Rabu, 05 Maret 2025 - 17:00 WIB
loading...
Materi kultum Ramadan ini bisa dijadikan referensi ceramah singkat saat mengisi waktu sebelum berbuka puasa hingga di sela-sela salat tarawih. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Kumpulan contoh kultum Ramadan 7 menit menarik disimak. Materinya bisa dijadikan referensi ceramah singkat saat mengisi waktu sebelum berbuka puasa hingga di sela-sela salat tarawih.
Selain ibadah puasa dan sejenisnya, bulan Ramadan juga identik dengan kultum alias kuliah tujuh menit. Di Indonesia sendiri, kultum ini disampaikan dalam beberapa waktu berbeda, seperti sebelum berbuka puasa, sebelum tarawih, di sela-sela antara tarawih dan witir hingga sebelum mengerjakan salat subuh.
Kultum Ramadan bertujuan untuk memberikan pengingat singkat namun bermakna tentang nilai-nilai Islam. Dalam penyampaiannya, kultum ini juga memiliki tema yang variatif dan agar tidak membuat jemaah bosan. Berikut beberapa contohnya.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita nikmat iman, Islam, dan kesehatan sehingga kita dapat menjalani ibadah puasa di bulan suci Ramadan ini.
Tak lupa, shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Saw yang syafaatnya kelak kita nantikan di akhirat.
Jemahaan yang dirahmati Allah,
Pada kesempatan kali ini, saya ingin mengajak jemaah semua untuk merenungkan keutamaan puasa dalam meningkatkan ketakwaan.
Allah Swt berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 183:
"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."
Ayat di atas menegaskan bahwa tujuan utama dari puasa adalah meningkatkan ketakwaan. Lalu, apa si sebenarnya ketakwaan itu?
Nah, di sini perlu diketahui bahwa ketakwaan adalah kesadaran untuk selalu menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Dengan puasa ini, kita tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat.
Kemudian, puasa juga mengajarkan tentang kesabaran dan kepedulian sosial. Saat di tengah hari menahan lapar, kita diingatkan bahwa masih banyak saudara kita yang hidup dalam kekurangan. Dari situ, muncul anjuran di bulan Ramadhan sebagai waktu yang tepat untuk memperbanyak sedekah dan berbagi kepada sesama.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun." (HR. Tirmidzi)
Sebagai penutup, marilah kita sekali lagi memanfaatkan bulan suci ini untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah. Bukan hanya untuk tujuan puasa rutin, tetapi kita jadikan sebagai sarana memperbaiki diri, meningkatkan keimanan, dan memperbanyak amal kebaikan.
Semoga Allah menerima amal ibadah kita dan menjadikan kita termasuk hamba-Nya yang bertakwa. Wa billahi taufiq wal hidayah, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kita kesempatan untuk kembali bertemu dengan bulan Ramadhan. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan sahabatnya.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Ramadhan adalah bulan suci yang penuh berkah. Memasuki era digital ini, kita menghadapi tantangan baru dalam menjaga kualitas puasa, termasuk soal pengaruh media sosial dan internet.
Pada perkembangannya, media sosial sering menjadi tempat tersebarnya fitnah, ujaran kebencian, serta konten negatif. Hal-hal demikian perlu kita hindari karena berpotensi mengurangi pahala puasa.
Tanpa disadari, banyak dari kita terjebak dalam kebiasaan buruk seperti menggosip, menyebarkan berita bohong, atau berdebat tanpa manfaat.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadits riwayat Imam Malik:
Artinya: "Puasa itu adalah perisai. Jika salah satu dari kalian sedang berpuasa, maka jangan berkata kotor dan jangan pula bertingkah laku jahil (sombong, mengejek, atau bertengkar). Jika ada orang lain yang mengajaknya berkelahi atau menghinanya, maka hendaklah dia mengatakan: Aku sedang puasa, aku sedang puasa." (HR. Imam Malik).
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Sebenarnya ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan untuk menghindari hilangnya pahala puasa kita karena pengaruh internet. Pertama, kita perlu meningkatkan kesadaran diri.
Maksudnya, sadarilah bahwa bulan Ramadhan sangat berharga. Jangan sampai media sosial mengurangi kesempatan kita untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meraih banyak pahala.
Jika tidak bisa lepas sepenuhnya, usahakan memilih konten yang bermutu. Bijaklah memakai media sosial untuk hal-hal positif, seperti mendengarkan ceramah, membaca kajian Islam, atau menyebarkan kebaikan.
Allah SWT berfirman dalam Al-Quran:
Artinya: "Barang siapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barang siapa yang membawa perbuatan jahat, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)." (QS. Al-An'am: 160).
Sebagai penutup, marilah kita menjadikan Ramadhan ini sebagai momentum untuk memperbaiki diri, termasuk dalam penggunaan media sosial yang bermanfaat. Semoga Allah SWT memberikan kita kekuatan untuk menjauhi keburukan dan memanfaatkan bulan suci ini sebaik-baiknya.
Aamiin ya Rabbal 'alamin.
Wassalamualaikum wr wb.
Jamaah sekalian yang saya hormati,
Puasa Ramadhan merupakan salah satu perintah yang ditujukan untuk membentuk manusia bertakwa. Dalilnya ada di Surat Al Baqarah ayat 183.
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa. (QS. Al Baqarah: 183).
Bukan sekadar menahan lapar dan haus, di dalam berpuasa terkandung hikmah. Misalnya, seperti membersihkan jiwa, menyucikannya serta membebaskannya dari endapan-endapan yang buruk dan akhlak-akhlak yang rendah.
Hikmah lain dari puasa Ramadhan adalah sebagai penyuci jiwa dari segala dosa. Rasulullah SAW bersabda:
Dari Abu Hurairah r.a., Nabi s.a.w. bersabda: “Barang siapa yang melaksanakan puasa Ramadhan dengan keimanan dan keikhlasan, maka diampuni dosanya yang telah berlalu”. (Hadis Shahih, riwayat al-Bukhari: 37 dan Muslim: 1266).
Selain ibadah puasa dan sejenisnya, bulan Ramadan juga identik dengan kultum alias kuliah tujuh menit. Di Indonesia sendiri, kultum ini disampaikan dalam beberapa waktu berbeda, seperti sebelum berbuka puasa, sebelum tarawih, di sela-sela antara tarawih dan witir hingga sebelum mengerjakan salat subuh.
Kultum Ramadan bertujuan untuk memberikan pengingat singkat namun bermakna tentang nilai-nilai Islam. Dalam penyampaiannya, kultum ini juga memiliki tema yang variatif dan agar tidak membuat jemaah bosan. Berikut beberapa contohnya.
Contoh Kultum Ramadan 7 Menit
1. Contoh Kultum Satu
Assalamu’alaikum wr wb.Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita nikmat iman, Islam, dan kesehatan sehingga kita dapat menjalani ibadah puasa di bulan suci Ramadan ini.
Tak lupa, shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Saw yang syafaatnya kelak kita nantikan di akhirat.
Jemahaan yang dirahmati Allah,
Pada kesempatan kali ini, saya ingin mengajak jemaah semua untuk merenungkan keutamaan puasa dalam meningkatkan ketakwaan.
Allah Swt berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 183:
"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."
Ayat di atas menegaskan bahwa tujuan utama dari puasa adalah meningkatkan ketakwaan. Lalu, apa si sebenarnya ketakwaan itu?
Nah, di sini perlu diketahui bahwa ketakwaan adalah kesadaran untuk selalu menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Dengan puasa ini, kita tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat.
Kemudian, puasa juga mengajarkan tentang kesabaran dan kepedulian sosial. Saat di tengah hari menahan lapar, kita diingatkan bahwa masih banyak saudara kita yang hidup dalam kekurangan. Dari situ, muncul anjuran di bulan Ramadhan sebagai waktu yang tepat untuk memperbanyak sedekah dan berbagi kepada sesama.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun." (HR. Tirmidzi)
Sebagai penutup, marilah kita sekali lagi memanfaatkan bulan suci ini untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah. Bukan hanya untuk tujuan puasa rutin, tetapi kita jadikan sebagai sarana memperbaiki diri, meningkatkan keimanan, dan memperbanyak amal kebaikan.
Semoga Allah menerima amal ibadah kita dan menjadikan kita termasuk hamba-Nya yang bertakwa. Wa billahi taufiq wal hidayah, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
2. Contoh Kultum Dua
Assalamualaikum wr wb.Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kita kesempatan untuk kembali bertemu dengan bulan Ramadhan. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan sahabatnya.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Ramadhan adalah bulan suci yang penuh berkah. Memasuki era digital ini, kita menghadapi tantangan baru dalam menjaga kualitas puasa, termasuk soal pengaruh media sosial dan internet.
Pada perkembangannya, media sosial sering menjadi tempat tersebarnya fitnah, ujaran kebencian, serta konten negatif. Hal-hal demikian perlu kita hindari karena berpotensi mengurangi pahala puasa.
Tanpa disadari, banyak dari kita terjebak dalam kebiasaan buruk seperti menggosip, menyebarkan berita bohong, atau berdebat tanpa manfaat.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadits riwayat Imam Malik:
الصِّيَامُ جُنَّةٌ، فَإِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ صَائِمًا: فَلَا يَرْفُثْ، وَلَا يَجْهَلْ، فَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ، أَوْ شَاتَمَهُ، فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ، إِنِّي صَائِمٌ
Artinya: "Puasa itu adalah perisai. Jika salah satu dari kalian sedang berpuasa, maka jangan berkata kotor dan jangan pula bertingkah laku jahil (sombong, mengejek, atau bertengkar). Jika ada orang lain yang mengajaknya berkelahi atau menghinanya, maka hendaklah dia mengatakan: Aku sedang puasa, aku sedang puasa." (HR. Imam Malik).
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Sebenarnya ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan untuk menghindari hilangnya pahala puasa kita karena pengaruh internet. Pertama, kita perlu meningkatkan kesadaran diri.
Maksudnya, sadarilah bahwa bulan Ramadhan sangat berharga. Jangan sampai media sosial mengurangi kesempatan kita untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meraih banyak pahala.
Jika tidak bisa lepas sepenuhnya, usahakan memilih konten yang bermutu. Bijaklah memakai media sosial untuk hal-hal positif, seperti mendengarkan ceramah, membaca kajian Islam, atau menyebarkan kebaikan.
Allah SWT berfirman dalam Al-Quran:
مَن جَاء بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَن جَاء بِالسَّيِّئَةِ فَلاَ يُجْزَى إِلاَّ مِثْلَهَا وَهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ
Artinya: "Barang siapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barang siapa yang membawa perbuatan jahat, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)." (QS. Al-An'am: 160).
Sebagai penutup, marilah kita menjadikan Ramadhan ini sebagai momentum untuk memperbaiki diri, termasuk dalam penggunaan media sosial yang bermanfaat. Semoga Allah SWT memberikan kita kekuatan untuk menjauhi keburukan dan memanfaatkan bulan suci ini sebaik-baiknya.
Aamiin ya Rabbal 'alamin.
Wassalamualaikum wr wb.
3. Contoh Kultum Ketiga
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Tuhan semesta Alam yang telah memberi kita nikmat yang berlimpah hingga detik ini, sehingga dapat menjalankan ibadah puasa di Bulan Ramadhan dengan sehat.Jamaah sekalian yang saya hormati,
Puasa Ramadhan merupakan salah satu perintah yang ditujukan untuk membentuk manusia bertakwa. Dalilnya ada di Surat Al Baqarah ayat 183.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa. (QS. Al Baqarah: 183).
Bukan sekadar menahan lapar dan haus, di dalam berpuasa terkandung hikmah. Misalnya, seperti membersihkan jiwa, menyucikannya serta membebaskannya dari endapan-endapan yang buruk dan akhlak-akhlak yang rendah.
Hikmah lain dari puasa Ramadhan adalah sebagai penyuci jiwa dari segala dosa. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Dari Abu Hurairah r.a., Nabi s.a.w. bersabda: “Barang siapa yang melaksanakan puasa Ramadhan dengan keimanan dan keikhlasan, maka diampuni dosanya yang telah berlalu”. (Hadis Shahih, riwayat al-Bukhari: 37 dan Muslim: 1266).
Lihat Juga :