Ramadan sebagai Madrasah Pembentuk Pribadi Wasatiyah
Jum'at, 28 Maret 2025 - 05:24 WIB
loading...
Di penghujung Ramadan 1466 Hijriah, umat muslim diajak untuk terus meningkatkan ketakwaan, kesabaran, dan kebijakan, dalam menghadapi persoalan duniawi. Foto/Arif Julianto
A
A
A
JAKARTA - Di penghujung Ramadan 1466 Hijriah, umat muslim diajak untuk terus meningkatkan ketakwaan, kesabaran, dan kebijakan, dalam menghadapi persoalan duniawi. Ramadan harus dijadikan madarasah untuk membentuk pribadi Muslim yang wasatiyah.
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Andi Faisal Bakti menjelaskan, Ramadan tidak hanya sebagai momentum untuk meningkatkan kualitas ibadah pribadi, tetapi juga sebagai kesempatan untuk membangun empati dan membentuk hubungan yang lebih baik dengan sesama Muslim, maupun dengan umat agama lain.
Baca juga: MUI Serukan Solidaritas untuk Palestina di Bulan Ramadan 2025
Dengan demikian, Ramadan bukan lagi persoalan pada menahan lapar dan dahaga saja, namun menciptakan insan kamil yang berlandaskan Pancasila dan agama secara Kaffah.
“Seharusnya umat Islam di bulan Ramadan ini lebih toleran, lebih berempati sehingga bisa meredam ketegangan. Tentu bukan hanya kepada umat Muslim, tapi juga kepada agama lainnya,” kata Andi di Jakarta dikutip Jumat (28/3/2025).
Menurut Direktur Center for Information and Development Studies (CIDES) Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) ini, Islam adalah agama yang inklusif, merangkul keberagaman dan menghargai perbedaan.
Dia mengungkapkan dalam Surat Al Baqarah ayat 143 dijelaskan bahwa umat Islam adalah umat yang wasatiyah, moderat berada di tengah.
Baca juga: Kapan Malam Lailatul Qadar Ramadan 2025? Simak Penjelasannya di Sini!
Menurutnya, Islam adalah agama menjunjung tinggi prinsip keadilan, dan merangkul semua umat manusia tanpa membeda-bedakan latar belakang.
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Andi Faisal Bakti menjelaskan, Ramadan tidak hanya sebagai momentum untuk meningkatkan kualitas ibadah pribadi, tetapi juga sebagai kesempatan untuk membangun empati dan membentuk hubungan yang lebih baik dengan sesama Muslim, maupun dengan umat agama lain.
Baca juga: MUI Serukan Solidaritas untuk Palestina di Bulan Ramadan 2025
Dengan demikian, Ramadan bukan lagi persoalan pada menahan lapar dan dahaga saja, namun menciptakan insan kamil yang berlandaskan Pancasila dan agama secara Kaffah.
“Seharusnya umat Islam di bulan Ramadan ini lebih toleran, lebih berempati sehingga bisa meredam ketegangan. Tentu bukan hanya kepada umat Muslim, tapi juga kepada agama lainnya,” kata Andi di Jakarta dikutip Jumat (28/3/2025).
Menurut Direktur Center for Information and Development Studies (CIDES) Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) ini, Islam adalah agama yang inklusif, merangkul keberagaman dan menghargai perbedaan.
Dia mengungkapkan dalam Surat Al Baqarah ayat 143 dijelaskan bahwa umat Islam adalah umat yang wasatiyah, moderat berada di tengah.
Baca juga: Kapan Malam Lailatul Qadar Ramadan 2025? Simak Penjelasannya di Sini!
Menurutnya, Islam adalah agama menjunjung tinggi prinsip keadilan, dan merangkul semua umat manusia tanpa membeda-bedakan latar belakang.
Lihat Juga :