Ramadan sebagai Madrasah Pembentuk Pribadi Wasatiyah
Jum'at, 28 Maret 2025 - 05:24 WIB
loading...
A
A
A
Konsep wasatiyah ini bisa digambarkan dengan analogi permainan bola. Dalam permainan bola dibutuhkan wasit yang netral di antara kedua belah pihak. Wasit tidak boleh berpihak kepada salah satu pemain atau kelompok.
Jika ia berpihak, maka permainan tidak akan menarik, dan menimbulkan kekacauan. Sama halnya dengan beragama, umat tidak boleh terlalu ekstrem yang menimbulkan keresahan, dan tidak juga bersikap acuh.
“Begitu juga dengan Islam, yang berada di tengah-tengah dalam hal keyakinan dan hukum," ungkapnya
Sebagai umat yang meyakini bahwa setiap mahkluk adalah cipataan Allah SWT, Andi menambahkan bahwa sejatinya umat harus saling mengasihi antar sesama makhluk, tidak memandang perbedaan suku, ras dan agama. Tidak boleh merasa paling benar, menghakimi atau mempersekusi orang yang berbeda keyakinan.
“Islam sangat terbuka, sangat moderat, Islam itu justru merangkul dan merangkum kepercayaan agama lain,” tandasnya.
Maka dari itu, Andi mengingatkan agar madrasah Ramadan ini menjadi momentum peningkatan kualitas diri, tidak hanya meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, namun juga meningkatkan kualitas kesalehan sosial antar umat beragama.
Sehingga dalam perayaan hari raya Idul Fitri, dapat merayakannya dengan hati yang suci dan bersih.
“Setelah berpuasa selama sebulan, umat Islam akan kembali kepada kesucian. Oleh karena itu, jangan lagi menebar benci, hate speech terhadap sesama,” katanya.
Sosok yang juga menjadi UNESCO Chair in Communication and Sustainable Development (COSDEV) ini berharap, momen Ramadan ini menjadi refleksi diri untuk saling memaafkan dan menghargai antar umat beragama.
“Ini adalah momentum yang sangat luar biasa untuk saling bersolidaritas dengan sesama manusia, bukan hanya sesama umat Islam tapi juga kepada penganut penganut agama lainnya,” ujarnya.
Jika ia berpihak, maka permainan tidak akan menarik, dan menimbulkan kekacauan. Sama halnya dengan beragama, umat tidak boleh terlalu ekstrem yang menimbulkan keresahan, dan tidak juga bersikap acuh.
“Begitu juga dengan Islam, yang berada di tengah-tengah dalam hal keyakinan dan hukum," ungkapnya
Sebagai umat yang meyakini bahwa setiap mahkluk adalah cipataan Allah SWT, Andi menambahkan bahwa sejatinya umat harus saling mengasihi antar sesama makhluk, tidak memandang perbedaan suku, ras dan agama. Tidak boleh merasa paling benar, menghakimi atau mempersekusi orang yang berbeda keyakinan.
“Islam sangat terbuka, sangat moderat, Islam itu justru merangkul dan merangkum kepercayaan agama lain,” tandasnya.
Maka dari itu, Andi mengingatkan agar madrasah Ramadan ini menjadi momentum peningkatan kualitas diri, tidak hanya meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, namun juga meningkatkan kualitas kesalehan sosial antar umat beragama.
Sehingga dalam perayaan hari raya Idul Fitri, dapat merayakannya dengan hati yang suci dan bersih.
“Setelah berpuasa selama sebulan, umat Islam akan kembali kepada kesucian. Oleh karena itu, jangan lagi menebar benci, hate speech terhadap sesama,” katanya.
Sosok yang juga menjadi UNESCO Chair in Communication and Sustainable Development (COSDEV) ini berharap, momen Ramadan ini menjadi refleksi diri untuk saling memaafkan dan menghargai antar umat beragama.
“Ini adalah momentum yang sangat luar biasa untuk saling bersolidaritas dengan sesama manusia, bukan hanya sesama umat Islam tapi juga kepada penganut penganut agama lainnya,” ujarnya.
(shf)
Lihat Juga :