Ngerinya Dosa Umbar Aib dan Caci Maki di Medsos
Jum'at, 01 Agustus 2025 - 15:26 WIB
loading...
A
A
A
"Setiap umatku dimaafkan kecuali orang yang terang-terangan (melakukan maksiat). Dan termasuk terang-terangan adalah seseorang yang melakukan perbuatan maksiat di malam hari, kemudian di paginya ia berkata: wahai fulan, kemarin aku telah melakukan ini dan itu, padahal Allah telah menutupnya- dan di pagi harinya ia membuka tutupan Allah atas dirinya." (HR Bukhari Muslim)
Ibnu Abdil Barr ketika menjelaskan hadis ini dan sejenisnya, menjelaskan : "Dalam hadis ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa ketika seorang muslim melakukan perbuatan yang keji wajib baginya menutupinya, dan begitu juga ia wajib menutupi aib orang lain."
Baca juga: Adakah Balasan dan Pahala dari Menutupi Aib Orang Lain dalam Islam?
Jadi, seorang muslim dan muslimah wajib menutup aibnya sendiri dan aib orang lain. Dia tak boleh menyebarkan aib tersebut kepada siapapun, termasuk kepada suami atau keluarganya sendiri. Sebuah hadis menceritakan, kisah seorang perempuan yang menemui Aisyah radhiyallahu'anha dan menceritakan sebuah aib yang ia alaminya.
Dari Maryam binti Thariq meriwayatkan bahwa seorang perempuan menemui Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu'anha. "Wahai Aisyah," kata perempuan itu, ketika aku sedang pergi haji menuju Baitullah, laki-laki yang menyewakan kendaraan untuk jamaah haji itu sengaja menyentuh betisku"
Belum selesai kalimat itu, Aisyah langsung menghentikannya, "Sudah, cukup!" Aisyah kemudian berpaling dan menyuruh perempuan tersebut keluar. Setelah itu, Ummul Mukminin juga keluar dan mengumpulkan para perempuan mukminah lantas menasehati mereka semua:
"Wahai wanita-wanita mukminah, jika kalian berbuat salah, janganlah sekali-kali menceritakannya kepada orang lain. Mintalah ampunan kepada Allah dan bertaubatlah. Manusia seringkali menginginkan membuka aibnya dan tidak menutupinya. Sedangkan Allah bermaksud menutupinya dan tidak membukanya."
Sehingga, ketika seseorang yang memiliki aib pada masa lalu, namun ia dapat menjaga lisannya untuk tidak menyebarkan keburukan orang lain, niscaya Allah akan menolong ia untuk menutup aib yang ada pada dirinya. Begitupun sebaliknya, jika tetap menyebarkan aib orang lain maka Allah akan membuka aib kita di dunia dan akhirat.
Hal itu tercermin dalam sebuah hadist riwayat Tirmidzi:
"Dan barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim sewaktu di dunia, maka Allah akan menutup (aibnya) di dunia dan akhirat."(HR. At Tirmidzi)
Dalam kitab 'Mukhtashar Minhajul Qashidin', karya Ibnu Qudamah Almaqdisi disebutkan setidaknya ada empat cara atau langkah untuk menemukan aib sendiri ini. Antara lain sebagai berikut:
Ibnu Abdil Barr ketika menjelaskan hadis ini dan sejenisnya, menjelaskan : "Dalam hadis ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa ketika seorang muslim melakukan perbuatan yang keji wajib baginya menutupinya, dan begitu juga ia wajib menutupi aib orang lain."
Baca juga: Adakah Balasan dan Pahala dari Menutupi Aib Orang Lain dalam Islam?
Jadi, seorang muslim dan muslimah wajib menutup aibnya sendiri dan aib orang lain. Dia tak boleh menyebarkan aib tersebut kepada siapapun, termasuk kepada suami atau keluarganya sendiri. Sebuah hadis menceritakan, kisah seorang perempuan yang menemui Aisyah radhiyallahu'anha dan menceritakan sebuah aib yang ia alaminya.
Dari Maryam binti Thariq meriwayatkan bahwa seorang perempuan menemui Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu'anha. "Wahai Aisyah," kata perempuan itu, ketika aku sedang pergi haji menuju Baitullah, laki-laki yang menyewakan kendaraan untuk jamaah haji itu sengaja menyentuh betisku"
Belum selesai kalimat itu, Aisyah langsung menghentikannya, "Sudah, cukup!" Aisyah kemudian berpaling dan menyuruh perempuan tersebut keluar. Setelah itu, Ummul Mukminin juga keluar dan mengumpulkan para perempuan mukminah lantas menasehati mereka semua:
"Wahai wanita-wanita mukminah, jika kalian berbuat salah, janganlah sekali-kali menceritakannya kepada orang lain. Mintalah ampunan kepada Allah dan bertaubatlah. Manusia seringkali menginginkan membuka aibnya dan tidak menutupinya. Sedangkan Allah bermaksud menutupinya dan tidak membukanya."
Sehingga, ketika seseorang yang memiliki aib pada masa lalu, namun ia dapat menjaga lisannya untuk tidak menyebarkan keburukan orang lain, niscaya Allah akan menolong ia untuk menutup aib yang ada pada dirinya. Begitupun sebaliknya, jika tetap menyebarkan aib orang lain maka Allah akan membuka aib kita di dunia dan akhirat.
Hal itu tercermin dalam sebuah hadist riwayat Tirmidzi:
"Dan barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim sewaktu di dunia, maka Allah akan menutup (aibnya) di dunia dan akhirat."(HR. At Tirmidzi)
Langkah Menemukan Aib Sendiri
Daripada mengumbar aib orang lain, lebih baik kita berusaha untuk menemukan aib. Melihat aib sendiri juga jauh lebih baik daripada melihat aib orang lain. Karena itu, bagi seorang muslim menilai aib sendiri lebih penting daripada menilai aib orang lain. Namun bukan berarti setelah kita tahu aib diri sendiri, jangan sampai hal itu tersebar keluar. Hal terpenting dari aib sendiri ini, kita intropeksi diri menjadi pribadi yang lebih baik.Dalam kitab 'Mukhtashar Minhajul Qashidin', karya Ibnu Qudamah Almaqdisi disebutkan setidaknya ada empat cara atau langkah untuk menemukan aib sendiri ini. Antara lain sebagai berikut:
1. Duduklah di hadapan seorang saleh
Misalnya di hadapan syaikh atau ulama yang tajam mata batinnya dalam melihat aib jiwa dan bisa melihat cela yang tidak terlihat.Lihat Juga :