Kisah Sahabat Nabi : Azan Terakhir Bilal bin Rabah

Rabu, 06 Agustus 2025 - 19:30 WIB
loading...
Kisah Sahabat Nabi :...
Sahabat Nabi Bilal bin Rabah meninggalkan Madinah dan menghabiskan sisa hidupnya di Suriah, ia tidak pernah mengumandangkan azan lagi sampai suatu saat Khalifah Umar bin Khattab berkunjung ke Suriah. Pada kesempatan itu Bilal diminta untuk Azan satu sal
A A A
Kisah sahabat Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam ini, bercerita tentang Bilal bin Rabah . Sahabat Nabi yang mengumandangkan azan pertama kalinya.

Alkisah, suatu saat Bilal bin Rabah meninggalkan Madinah dan menghabiskan sisa hidupnya di Suriah. Ia tak lagi mengumandangkan azan, sampai suatu ketika Khalifah Umar bin Khattab berkunjung ke Suriah. Pada kesempatan tersebut orang-orang meminta khalifah agar meminta Bilal Azan untuk satu salat saja.

Banyak pihak menyebut itu adalah Azan terakhir Bilal bin Rabah. Namun ada versi lainnya yang menceritakan Azan paripurna Bilal itu yang lebih mengharukan.

Pada suatu malam yang istimewa di Suriah, Bilal sedang tertidur lelap. Malam itu, dia bermimpi didatangi Rasulullah SAW. Dan satu pertanyaan tertuju padanya, “Wahai Bilal, mengapa engkau tak pernah mengunjungiku?”



Sontak, Bilal terperanjat. Jantungnya berdebar. Dia terbangun, lalu dengan sigap ia bersiap-siap untuk menempuh perjalanan ke Madinah. Sesampainya di sana, dia berziarah di makam Nabi Muhammad SAW.

Di Kota Madinah yang penuh kenangan bersama Rasulullah SAW, Bilal menangis tersedu menumpahkan rasa rindu. Rindu kepada Sang Nabi SAW yang telah menunjuknya menjadi muazin.

Saat air mata membasahi pipinya, tiba-tiba datanglah dua orang pemuda berjalan mendekat. Mereka adalah cucu Rasulullah SAW, Hasan dan Husain.

Dengan mata sembab Bilal menatap keduanya. Dia bergerak mendekat, memeluk kedua cucu Nabi SAW itu. Salah seorang dari mereka bicara, “Paman, maukah engkau sekali saja mengumandangkan azan untuk kami? Kami ingin mengenang kakek kami, paman.”

Baca juga: 4 Alasan Bilal Menjadi Penyeru Azan

Bilal bin Rabah RA yang sudah semakin tua, hatinya luluh, tak kuasa untuk tidak memenuhi permohonan orang-orang yang lama jauh darinya. Dia pun memenuhi permintaan mereka.

Ketika waktu salat telah tiba, dengan pijakkan kaki yang teguh, Bilal menaiki tangga ke tempat di mana dahulu dia biasa mengumandangkan Adzan. Ia menarik nafas dalam, memulai suaranya. Lantunan kumandang Azan pun menyapa pendengaran banyak orang.

“Allahuakbar Allahuakbar….” Bilal memulai Azan, Kota Madinah tiba-tiba saja menjadi senyap. Penduduk Madinah terkejut. Suara yang telah hilang selama bertahun-tahun terdengar lagi.

Ketika sampai pada kalimat, “Asyhadu an laa ilaha illallah….” orang-orang berlari dari segala penjuru menuju sumber suara itu. “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah…. ” sedu-sedan tangis penduduk Madinah menggema, air mata mereka membanjir. Luapan rindu yang dalam kepada Sang Utusan, Muhammad SAW tak terbendung sudah. Mereka menangis.

Terkenanglah masa-masa saat Rasulullah SAW masih berada di tengah-tengah mereka. Bilal sendiri yang tengah azan pun tercekat, dia tidak sanggup meneruskannya. Air matanya berderai-derai di pipi.

Hari itu, Madinah berluapan rasa rindu nan syahdu. Tak ada pribadi agung yang begitu dicintai seperti Nabi Muhammad SAW.

Lantunan azan Bilal bin Rabah-lah yang memulainya, yang memantiknya menjadi nyala cahaya. Itulah Azan terakhir dalam usia senja sang muazin pertama dunia. Azan yang tak pernah dia bisa tuntaskan karena terlalu sedih.

Dialog Menjelang Ajal

Menjelang ajalnya di Suriah, Bilal terbaring di atas tempat tidur, sementara istrinya duduk di sampingnya seraya berkata, “Sungguh menyedihkan musibah yang kualami!”

Bilal menjawab, “Justru inilah saat kebahagiaan dan kesenangan. Tahukah engkau bahwa kematian merupakan sesuatu yang membahagiakan?”

Istrinya berkata, “Saat perpisahan telah tiba.”

Bilal mengatakan: “Saat perjumpaan telah datang.”

Istrinya berkata: “Malam ini engkau akan pergi ke laut orang-orang asing.”

Bilal mengatakan: “Jiwaku akan kembali ke tempat asalnya.”

Istrinya berkata: “Betapa malangnya diriku!”

Bilal mengatakan, “Betapa bahagianya diriku.”

Istrinya bertanya: “Setelah ini, kapan aku bisa berjumpa denganmu lagi?”

Bilal menjawab: “Di taman para kekasih Ilahi (surga).”

Istrinya berkata: “Dengan kepergianmu, semuanya terasa hancur bagiku.”

Bilal mengatakan: “Tubuh ini bagai awan yang menyatu dan setelah itu berpisah.”

Bilal bin Rabah meninggal dunia di Damaskus pada tahun 20 H.

Baca juga: Mengenal Sosok Imam Ar-Rabi' bin Sulaiman : Muazin Bersuara Sangat Merdu yang Disukai Imam Syafi'i
(wid)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Kisah Hikmah : Tidak...
Kisah Hikmah : Tidak Melakukan Ibadah Haji Tapi Dapat Pahala Haji, Kok Bisa?
Kisah Bulan Zulhijjah...
Kisah Bulan Zulhijjah : Diijabahnya Doa Nabi Zakaria Mendapatkan Keturunan di Umur 90 Tahun
Kisah Uwais Al Qarni...
Kisah Uwais Al Qarni : Menggendong Ibunya dari Yaman ke Makkah untuk Melaksanakan Haji
Kisah Hikmah : Laki-laki...
Kisah Hikmah : Laki-laki yang Selamat dari Neraka karena Zikir Laa Ilaaha Illallaah
Kisah Hikmah : Diselamatkan...
Kisah Hikmah : Diselamatkan dari Siksa Kubur karena Fadilah Puasa Syawal
Kisah Sahabat Nabi dari...
Kisah Sahabat Nabi dari Iran : Salman Al Farisi Sempat Menjadi Penjaga Api Agama Majusi
Rekomendasi
Siapakah Penemu Kode...
Siapakah Penemu Kode Morse dan Alat Telegraf? Ini Jawabannya
Fenomena Matahari di...
Fenomena Matahari di Swedia Bisa Dilihat hampr 24 Jam
5 Penjelajah Dunia Paling...
5 Penjelajah Dunia Paling Legendaris dalam Sejarah
Artikel Terkini
Mengapa Hari Asyura...
Mengapa Hari Asyura Begitu Istimewa? Ini Keutamaan, Peristiwa Besar, dan Fadhilah Puasanya
Hadis-Hadis tentang...
Hadis-Hadis tentang Hari Asyura, dari Amalan hingga Keutamaannya
Besok Hari Asyura, Ini...
Besok Hari Asyura, Ini Doa yang Dianjurkan dan Mulai Diamalkan Malam Ini!
Inilah Doa dan Cara...
Inilah Doa dan Cara Mengusap Anak Yatim di Hari Asyura
Bacaan Niat Puasa Asyura...
Bacaan Niat Puasa Asyura dan Keistimewaannya, Puasa Sehari Penghapus Dosa Setahun
10 Muharram dan Kematian...
10 Muharram dan Kematian Firaun: Akhir Sang Raja yang Mengaku Tuhan
Infografis
Abu Musa Jabir Bin Hayyan,...
Abu Musa Jabir Bin Hayyan, Ilmuwan Islam di Bidang Kimia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved