Buka Halaqah Internasional, Menag Minta Pesantren Kembangkan Tradisi Intelektual
Sabtu, 04 Oktober 2025 - 17:59 WIB
loading...
A
A
A
Di sinilah, kata Nasaruddin, pentingnya peran turats sebagai fondasi epistemologis. Ia menekankan pesantren harus mampu mengkaji kitab-kitab turats dengan pendekatan multidisipliner—mulai dari semantik, filologi, hingga antropologi—agar khazanah klasik itu tetap hidup dan relevan dengan tantangan zaman.
“Tidak semua kitab kuning bisa disebut turats. Kitab turats adalah karya yang ditulis oleh ulama mumpuni, yang menghayati filosofi dasar Alquran dan hadis, serta mampu mengangkat martabat kemanusiaan dan mendekatkan diri kepada Allah,” tegasnya.
Menag juga mengingatkan bahwa membaca dalam Islam tidak boleh dipersempit hanya pada dimensi tekstual. Tradisi iqra’ harus ditopang oleh kesadaran kritis terhadap realitas sosial dan ekologis, dengan turats sebagai basis epistemologisnya.
“Alquran itu bukan sekadar informasi, tapi konfirmasi. Membaca Alquran berarti membaca alam, membaca diri, lalu mengkonfirmasikan semuanya dengan wahyu. Itulah tradisi ilmiah pesantren yang harus terus dikembangkan,” kata Nasaruddin.
Selanjutnya, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Amien Suyitno menambahkan pentingnya kontekstualisasi maqashid al-syariah agar agama selalu relevan dengan zaman. Ia menyoroti bab thaharah dalam fiqih yang sering dipahami sempit, padahal sejatinya mengandung pesan ekologis.
“Menjaga air adalah bagian dari thaharah. Itu artinya menjaga kebersihan dan lingkungan juga ibadah. Inilah bentuk ekoteologi — membaca kehidupan dan alam dengan Alquran sekaligus ditopang pemahaman turats,” jelasnya.
Suyitno menegaskan, pesantren memiliki peran strategis dalam melahirkan fiqih yang responsif terhadap isu-isu modern, termasuk krisis lingkungan. Dengan turats sebagai fondasi dan realitas sebagai ladang praksis, halaqah ini diharapkan melahirkan gagasan yang dapat menjadi rujukan kebijakan publik.
Baik Menag maupun Dirjen sepakat bahwa pesantren harus tampil sebagai pusat peradaban. Tradisi intelektual Islam yang menyatukan bacaan teks, turats, alam, dan diri diharapkan mampu menjawab tantangan zaman sekaligus menjaga keluhuran nilai Islam.
Agenda ini juga mengundang narasumber akademisi seperti Prof. Dr. Nur Syam dan akademisi Timur Tengah yang mengisi sesi panel diskusi yakni Ulama Darul Ifta Mesir Ahmad Mamdouh.
Rektor Universitas Daar El Hadith Hassania Maroko Abdul Hamid 'Asyyaaq dan Guru Besar Universitas Ibnu Tufail Maroko Maryam Ait Ahmed.
Halaqah Ulama Internasional di Wajo pun menjadi momentum penting untuk mengembalikan pesantren sebagai pilar peradaban yakni, dari membaca teks menuju membaca semesta, dari turats menuju analisis kritis realitas, pesantren dan ulama dituntut menghadirkan Islam yang kontekstual, ekologis, dan solutif bagi kehidupan modern.
“Tidak semua kitab kuning bisa disebut turats. Kitab turats adalah karya yang ditulis oleh ulama mumpuni, yang menghayati filosofi dasar Alquran dan hadis, serta mampu mengangkat martabat kemanusiaan dan mendekatkan diri kepada Allah,” tegasnya.
Menag juga mengingatkan bahwa membaca dalam Islam tidak boleh dipersempit hanya pada dimensi tekstual. Tradisi iqra’ harus ditopang oleh kesadaran kritis terhadap realitas sosial dan ekologis, dengan turats sebagai basis epistemologisnya.
“Alquran itu bukan sekadar informasi, tapi konfirmasi. Membaca Alquran berarti membaca alam, membaca diri, lalu mengkonfirmasikan semuanya dengan wahyu. Itulah tradisi ilmiah pesantren yang harus terus dikembangkan,” kata Nasaruddin.
Selanjutnya, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Amien Suyitno menambahkan pentingnya kontekstualisasi maqashid al-syariah agar agama selalu relevan dengan zaman. Ia menyoroti bab thaharah dalam fiqih yang sering dipahami sempit, padahal sejatinya mengandung pesan ekologis.
“Menjaga air adalah bagian dari thaharah. Itu artinya menjaga kebersihan dan lingkungan juga ibadah. Inilah bentuk ekoteologi — membaca kehidupan dan alam dengan Alquran sekaligus ditopang pemahaman turats,” jelasnya.
Suyitno menegaskan, pesantren memiliki peran strategis dalam melahirkan fiqih yang responsif terhadap isu-isu modern, termasuk krisis lingkungan. Dengan turats sebagai fondasi dan realitas sebagai ladang praksis, halaqah ini diharapkan melahirkan gagasan yang dapat menjadi rujukan kebijakan publik.
Baik Menag maupun Dirjen sepakat bahwa pesantren harus tampil sebagai pusat peradaban. Tradisi intelektual Islam yang menyatukan bacaan teks, turats, alam, dan diri diharapkan mampu menjawab tantangan zaman sekaligus menjaga keluhuran nilai Islam.
Agenda ini juga mengundang narasumber akademisi seperti Prof. Dr. Nur Syam dan akademisi Timur Tengah yang mengisi sesi panel diskusi yakni Ulama Darul Ifta Mesir Ahmad Mamdouh.
Rektor Universitas Daar El Hadith Hassania Maroko Abdul Hamid 'Asyyaaq dan Guru Besar Universitas Ibnu Tufail Maroko Maryam Ait Ahmed.
Halaqah Ulama Internasional di Wajo pun menjadi momentum penting untuk mengembalikan pesantren sebagai pilar peradaban yakni, dari membaca teks menuju membaca semesta, dari turats menuju analisis kritis realitas, pesantren dan ulama dituntut menghadirkan Islam yang kontekstual, ekologis, dan solutif bagi kehidupan modern.
(cip)
Lihat Juga :