Meraih Derajat Takwa dengan Puasa Lahir Batin
Senin, 04 Mei 2020 - 14:49 WIB
loading...
A
A
A
Karena keseimbangan thzohir sangat tergantung dengan kesehatan seluruh bagian punggung (thzuhuur), sedang keseimbangan bathin tergantung dengan kesehatan seluruh bagian perut (buthuun), maka puasa harus dilaksanakan sesuai prinsip dasar, agar mampu memperbaiki seluruh bagian punggung dan perut (thzohiru wa bathinu).
Jadi dalam hal kesehatan holistik menurut Alquran, tujuan ibadah puasa adalah mengembalikan dan memperbaiki seluruh bagian punggung dan perut. Maka esensi penting puasa adalah meluruskan seluruh bagian tulang belakang dan mengurangi beban perut dengan memberikan nutrisi pengganti terbaik bagi tubuh. Inilah tujuan dan prinsip dasar yang harus dipegang oleh setiap orang yang sedang berpuasa. (Baca juga: Ramadhan di Saat Wabah Corona, Puasa atau Tidak? )
Sedangkan tujuan sesuai syariah adalah agar orang yang menjalankan puasa, dapat mencapai derajat mutaqin. Untuk mencapainya, maka harus sesuai, dan tidak boleh melanggar kaidah hukum syariah sebagaimana dinyatakan Alquran dan dicontohkan Rasulullah.
Dalam kaitan ibadah puasa berlaku hukum perihal makan minum, serta tentang macam dan jenisnya, yang harus memenuhi tiga syarat wajib dan tidak boleh ditawar-tawar, yaitu halal, thoyib dan tidak berlebih-lebihan. (Baca juga:
Ketiganya melekat kaidah jenis makan dan minuman, jenis pekerjaan dan cara mendapatkannya, serta jenis perempuan/laki-laki pasangan hidup, yang halal, thoyib dan tidak berlebih-lebihan. Maka derajat mutaqiin itu, hanya dapat diraih jika seseorang yang berpuasa dapat memenuhi semua kaidah di atas secara komprehensif.
Sudah barang tentu kaidah halal, thoyib dan tidak berlebih-lebihan itu berlaku equal. Artinya berlebih-lebihan itu kaidahnya sama dengan tidak halal dan tidak thoyib. Atau sesuatu yang tidak halal itu, kaidahnya berlebih-lebihan dan pasti tidak thoyib, demikian seterusnya.
Apakah seseorang yang berpuasa dengan asupan yang halal, thoyib dan tidak berlebih-lebihan, serta menjalankan amalan puasa lainnya, khususnya sholat taraweh akan mencapai keseimbangan thzohir dan bathin? Dan menjadi mutaqiin? Otomatis, jika dilakukan di jalan Allah.
Penjelasannya, seseorang yang berpuasa, dengan makanan dan minuman yang halal dan thoyib merupakan jaminan asupan gizi yang terbaik bagi tubuh, dan tidak merusak tubuh. Karena itu saat berpuasa perlu dikenali jenis makanan dan minuman yang baik, khususnya untuk kesehatan perut.
Dengan berpegang pada prinsip kaidah tidak berlebih-lebihan, seorang yang sedang puasa harus mampu membatasi makan dan minum, untuk mengurangi beban perut. Termasuk cara makan dan minum. Misal tidak langsung minum dalam jumlah yang berlebihan setelah makan, cukup satu gelas kecil, agar gizi makanan tidak langsung larut terbuang bersama urine.
Kondisi makin berkurangnya beban pada perut, lambat laun akan memperbaiki kesehatan punggung. Hal ini terjadi karena beban syaraf otot perut yang mengantung ke tulang belakang semakin berkurang, dan semakin sehat. Sedangkan kondisi semakin sehatnya perut, dan kecukupan asupan gizi akan menopang kebutuhan pertumbuhan dan metabolisme tubuh secara seimbang.
Jadi dalam hal kesehatan holistik menurut Alquran, tujuan ibadah puasa adalah mengembalikan dan memperbaiki seluruh bagian punggung dan perut. Maka esensi penting puasa adalah meluruskan seluruh bagian tulang belakang dan mengurangi beban perut dengan memberikan nutrisi pengganti terbaik bagi tubuh. Inilah tujuan dan prinsip dasar yang harus dipegang oleh setiap orang yang sedang berpuasa. (Baca juga: Ramadhan di Saat Wabah Corona, Puasa atau Tidak? )
Sedangkan tujuan sesuai syariah adalah agar orang yang menjalankan puasa, dapat mencapai derajat mutaqin. Untuk mencapainya, maka harus sesuai, dan tidak boleh melanggar kaidah hukum syariah sebagaimana dinyatakan Alquran dan dicontohkan Rasulullah.
Dalam kaitan ibadah puasa berlaku hukum perihal makan minum, serta tentang macam dan jenisnya, yang harus memenuhi tiga syarat wajib dan tidak boleh ditawar-tawar, yaitu halal, thoyib dan tidak berlebih-lebihan. (Baca juga:
Ketiganya melekat kaidah jenis makan dan minuman, jenis pekerjaan dan cara mendapatkannya, serta jenis perempuan/laki-laki pasangan hidup, yang halal, thoyib dan tidak berlebih-lebihan. Maka derajat mutaqiin itu, hanya dapat diraih jika seseorang yang berpuasa dapat memenuhi semua kaidah di atas secara komprehensif.
Sudah barang tentu kaidah halal, thoyib dan tidak berlebih-lebihan itu berlaku equal. Artinya berlebih-lebihan itu kaidahnya sama dengan tidak halal dan tidak thoyib. Atau sesuatu yang tidak halal itu, kaidahnya berlebih-lebihan dan pasti tidak thoyib, demikian seterusnya.
Apakah seseorang yang berpuasa dengan asupan yang halal, thoyib dan tidak berlebih-lebihan, serta menjalankan amalan puasa lainnya, khususnya sholat taraweh akan mencapai keseimbangan thzohir dan bathin? Dan menjadi mutaqiin? Otomatis, jika dilakukan di jalan Allah.
Penjelasannya, seseorang yang berpuasa, dengan makanan dan minuman yang halal dan thoyib merupakan jaminan asupan gizi yang terbaik bagi tubuh, dan tidak merusak tubuh. Karena itu saat berpuasa perlu dikenali jenis makanan dan minuman yang baik, khususnya untuk kesehatan perut.
Dengan berpegang pada prinsip kaidah tidak berlebih-lebihan, seorang yang sedang puasa harus mampu membatasi makan dan minum, untuk mengurangi beban perut. Termasuk cara makan dan minum. Misal tidak langsung minum dalam jumlah yang berlebihan setelah makan, cukup satu gelas kecil, agar gizi makanan tidak langsung larut terbuang bersama urine.
Kondisi makin berkurangnya beban pada perut, lambat laun akan memperbaiki kesehatan punggung. Hal ini terjadi karena beban syaraf otot perut yang mengantung ke tulang belakang semakin berkurang, dan semakin sehat. Sedangkan kondisi semakin sehatnya perut, dan kecukupan asupan gizi akan menopang kebutuhan pertumbuhan dan metabolisme tubuh secara seimbang.
Lihat Juga :