Meraih Derajat Takwa dengan Puasa Lahir Batin
Senin, 04 Mei 2020 - 14:49 WIB
loading...
Banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga. Ilustrasi/SINDOnews
A
A
A
Mochammad Sa'dun Masyhur
Penulis adalah Holistic Healing Consulting, Expert and Inventor Medical Quran, tinggal di Bogor, Indonesia.
SELAMA ini berkembang pandangan bahwa puasa lahir bathin itu terbagi dua, yakni puasa yang bersifat thzohiriyah dan puasa bathiniah. Keduanya kemudian dipisahkan sebagai kegiatan puasa yang bersifat fisik dan psikis. ( Baca juga:Puasa Lahir Bathin )
Pemahaman ini mungkin diambil dari pemikiran Abu Hamid Al-Ghazali dalam kitab Ihyaa 'Uluumiddiin, pada bab Rahasia Puasa. Beliau menetapkan enam syarat puasa secara lahir, dan enam syarat puasa secara bathin.
Enam syarat puasa secara lahir, meliputi: mengetahui awal bulan Ramadhan, niat puasa, menahan diri memasukkan sesuatu ke lubang tubuh dengan sengaja, tidak bersetubuh, tidak onani, tidak sengaja muntah, sejak azan subuh hingga magrib.
Sedangkan enam syarat puasa secara batin adalah mengendalikan mata, menjaga mulut, menjaga telinga, mencegah anggota tubuh melakukan dosa, dan tidak banyak makan, serta hati senantiasa berharap agar puasanya diterima Allah SWT.
Sayangnya syarat tentang puasa itu disimpulkan dengan sangat sederhana sebagai puasa lahir dan puasa bathin. Kesimpulan ini semakin bias karena puasa lahir dimaknai menjadi standar ilmu fikih bagi orang awam. Sedangkan puasa bathin adalah puasa dengan standar ilmu tasawuf, yang berlaku bagi orang-orang khusus, sufi.
Pandangan yang berkembang luas ini tidak sepenuhnya salah, tetapi perlu didudukkan secara proporsional. Karena menurut hemat penulis, syarat puasa lahir dan bathin yang disampaikan oleh Imam Ghazali itu berlaku secara komprehensif, berkaitan dengan kesempurnaan ibadah puasa.
Kajian selanjutnya menjadi menarik, jika puasa dibedah dalam perspektif sesuai kaidah anatomi dan fisiologi tubuh manusia holistik menurut Alquran.
Dengan merujuk pada definisi thzohir dan bathin pada tulisan sebelumnya, dapat disampaikan bahwa, puasa adalah metode untuk menyeimbangkan kondisi thzohir dan bathin. Bahkan puasa adalah metode yang sejak jaman Nabi Adam, terbukti efektif untuk mencapai keseimbangan kesehatan seluruh tubuh.
Karena itu, secara sederhana puasa adalah metode untuk meningkatkan kemampuan kanuragan, yaitu memurnikan kekuatan diri pribadi, yaitu keseimbangan kandungan saripati tanah dan saripati air dalam tubuh manusia.
Penulis adalah Holistic Healing Consulting, Expert and Inventor Medical Quran, tinggal di Bogor, Indonesia.
SELAMA ini berkembang pandangan bahwa puasa lahir bathin itu terbagi dua, yakni puasa yang bersifat thzohiriyah dan puasa bathiniah. Keduanya kemudian dipisahkan sebagai kegiatan puasa yang bersifat fisik dan psikis. ( Baca juga:Puasa Lahir Bathin )
Pemahaman ini mungkin diambil dari pemikiran Abu Hamid Al-Ghazali dalam kitab Ihyaa 'Uluumiddiin, pada bab Rahasia Puasa. Beliau menetapkan enam syarat puasa secara lahir, dan enam syarat puasa secara bathin.
Enam syarat puasa secara lahir, meliputi: mengetahui awal bulan Ramadhan, niat puasa, menahan diri memasukkan sesuatu ke lubang tubuh dengan sengaja, tidak bersetubuh, tidak onani, tidak sengaja muntah, sejak azan subuh hingga magrib.
Sedangkan enam syarat puasa secara batin adalah mengendalikan mata, menjaga mulut, menjaga telinga, mencegah anggota tubuh melakukan dosa, dan tidak banyak makan, serta hati senantiasa berharap agar puasanya diterima Allah SWT.
Sayangnya syarat tentang puasa itu disimpulkan dengan sangat sederhana sebagai puasa lahir dan puasa bathin. Kesimpulan ini semakin bias karena puasa lahir dimaknai menjadi standar ilmu fikih bagi orang awam. Sedangkan puasa bathin adalah puasa dengan standar ilmu tasawuf, yang berlaku bagi orang-orang khusus, sufi.
Pandangan yang berkembang luas ini tidak sepenuhnya salah, tetapi perlu didudukkan secara proporsional. Karena menurut hemat penulis, syarat puasa lahir dan bathin yang disampaikan oleh Imam Ghazali itu berlaku secara komprehensif, berkaitan dengan kesempurnaan ibadah puasa.
Kajian selanjutnya menjadi menarik, jika puasa dibedah dalam perspektif sesuai kaidah anatomi dan fisiologi tubuh manusia holistik menurut Alquran.
Dengan merujuk pada definisi thzohir dan bathin pada tulisan sebelumnya, dapat disampaikan bahwa, puasa adalah metode untuk menyeimbangkan kondisi thzohir dan bathin. Bahkan puasa adalah metode yang sejak jaman Nabi Adam, terbukti efektif untuk mencapai keseimbangan kesehatan seluruh tubuh.
Karena itu, secara sederhana puasa adalah metode untuk meningkatkan kemampuan kanuragan, yaitu memurnikan kekuatan diri pribadi, yaitu keseimbangan kandungan saripati tanah dan saripati air dalam tubuh manusia.
Lihat Juga :