Kisah Abu Dzar Al-Ghifari, Rela Menempuh Perjalanan Jauh Demi Bertemu Rasulullah
Selasa, 15 September 2020 - 21:56 WIB
loading...
A
A
A
Abu Dzar pun menceritakan kisahnya di hadapan Rasulullah . Maka pandangan Rasulullah pun turun naik, tak putus takjub memikirkan tabi'at orang-orang Ghifar, lalu bersabda: "Sesungguhnya Allah Ta'ala memberi petunjuk kepada siapa yang disukai-Nya. Benar, Allah menunjuki siapa yang Dia kehendaki! Abu Dzar Al-Ghifari , salah seorang yang dikehendaki Allah beroleh petunjuk, orang yang dipilih-Nya mendapat hidayah dan kebaikan." [Baca Juga: Mush'ab Bin Umair, Sahabat Nabi Paling Ganteng dan Duta Islam Pertama (1) ]
Syahadat Pertama yang Diteriakkan dengan Suara Lantang
Abu Dzar telah masuk Islam tanpa ditunda-tunda lagi. Beliau adalah orang yang kelima atau keenam memeluk Islam di kalangan Muslimin. Jadi ia telah memeluk Agama itu pada hari-hari pertama dan termasuk dalam barisan terdepan. Ketika ia masuk Islam, Rasulullah masih menyampaikan dakwahnya secara diam-diam. Dibisikkannya kepada Abu Dzar begitu pun kepada lima orang lainnya yang telah beriman kepadanya.
Bagi Abu Dzar , tak ada yang dapat dilakukannya sekarangselain memendam keimanan itu dalam dada, lalu meninggalkan kota Makkah. Baru saja masuk Islam, ia telah menghadapkan pertanyaan kepada Rasulullah : "Wahai Rasulullah, apa yang harus sayakerjakan menurut anda?" Kembalilah ke kaummu sampai ada perintahku nanti!" ujar Rasulullah.
"Demi Tuhan yang menguasai nyawaku, saya takkan kembali sebelum meneriakkan Islam dalam masjid!" kata Abu Dzar pula.
Abu Dzar benar-benar seorang revolusioner dan radikal dalam arti positif. Saat terbukanya alam baru dan keimanan yang mantap kepada Rasulullah, ia pun tidak kembali kepada keluarganya dalam keadaan membisu.
Abu Dzar pergi menuju Masjidil Haram dan menyerukan dengan kalimat tauhid dengan suara yang keras: "Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah."
Teriakan ini merupakan teriakan pertama tentang tauhid yang menentang kesombongan orang-orang kafir Quraisy dan memekakkan anak telinga mereka. Kalimat mulia ini diserukan oleh seorang perantau asing, dan secara diam-diam kembali kepada
kaumnya.
Begitulah kisah Abu Dzar Al-Ghifari yang mengagumkan ketika ia mencari kebenaran. Kelezatan iman yang ia peroleh setelah bertemu Rasulullah membuatnya semakin revolusioner menegakkan risalah Islam. Kita patut berterima kasih atas perjuangan beliau mengemban dakwah ini. Semoga ridha Allah senantiasa melingkupinya. (Baca Juga: Subhanallah, Inilah Wasiat Rasulullah SAW kepada Abu Dzar Al-Ghifari )
Wallahu Ta'ala A'lam
Syahadat Pertama yang Diteriakkan dengan Suara Lantang
Abu Dzar telah masuk Islam tanpa ditunda-tunda lagi. Beliau adalah orang yang kelima atau keenam memeluk Islam di kalangan Muslimin. Jadi ia telah memeluk Agama itu pada hari-hari pertama dan termasuk dalam barisan terdepan. Ketika ia masuk Islam, Rasulullah masih menyampaikan dakwahnya secara diam-diam. Dibisikkannya kepada Abu Dzar begitu pun kepada lima orang lainnya yang telah beriman kepadanya.
Bagi Abu Dzar , tak ada yang dapat dilakukannya sekarangselain memendam keimanan itu dalam dada, lalu meninggalkan kota Makkah. Baru saja masuk Islam, ia telah menghadapkan pertanyaan kepada Rasulullah : "Wahai Rasulullah, apa yang harus sayakerjakan menurut anda?" Kembalilah ke kaummu sampai ada perintahku nanti!" ujar Rasulullah.
"Demi Tuhan yang menguasai nyawaku, saya takkan kembali sebelum meneriakkan Islam dalam masjid!" kata Abu Dzar pula.
Abu Dzar benar-benar seorang revolusioner dan radikal dalam arti positif. Saat terbukanya alam baru dan keimanan yang mantap kepada Rasulullah, ia pun tidak kembali kepada keluarganya dalam keadaan membisu.
Abu Dzar pergi menuju Masjidil Haram dan menyerukan dengan kalimat tauhid dengan suara yang keras: "Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah."
Teriakan ini merupakan teriakan pertama tentang tauhid yang menentang kesombongan orang-orang kafir Quraisy dan memekakkan anak telinga mereka. Kalimat mulia ini diserukan oleh seorang perantau asing, dan secara diam-diam kembali kepada
kaumnya.
Begitulah kisah Abu Dzar Al-Ghifari yang mengagumkan ketika ia mencari kebenaran. Kelezatan iman yang ia peroleh setelah bertemu Rasulullah membuatnya semakin revolusioner menegakkan risalah Islam. Kita patut berterima kasih atas perjuangan beliau mengemban dakwah ini. Semoga ridha Allah senantiasa melingkupinya. (Baca Juga: Subhanallah, Inilah Wasiat Rasulullah SAW kepada Abu Dzar Al-Ghifari )
Wallahu Ta'ala A'lam
(rhs)
Lihat Juga :