Kisah Sahabat yang Wafat Seorang Diri dan Kelak Dibangkitkan Sendirian
Kamis, 17 September 2020 - 05:05 WIB
loading...
A
A
A
Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu 'anhu bernama asli Jundub bin Janadah. Beliau adalah seorang yang tajam pengamatannya tentang kebenaran. Menurut riwayat, ia termasuk salah seorang yang menentang pemujaan berhala di zaman jahiliyah, dan sahabat yang sangat zuhud.
Beliau adalah sahabat paling radikal dalam menegakkan risalah Islam. Radikal dalam hal ini bukan bermakna negatif. Beliau paling revolusioner, sikapnya tegas dalam melawan kebathilan. Atas sikapnya itu, beliau pun menerima resiko berat. Luka akibat dipukuli, berbagai dintimidasi hingga pingsan kerap diamalinya dan sedikit pun tidak menyurutkannya dalam menegakkan kebenaran Islam di hadapan kaum musyrik Makkah.
Bahkan terhadap sahabat Nabi yang dianggapnya melenceng dari kebenaran, beliau nasihati tanpa pandang bulu. Ini juga yang membuat Rasulullah صلى الله عليه وسلم kagum dan takjub hingga menyampaikan ucapan istimewa kepadanya. "Takkan pernah lagi dijumpai di bawahlangit ini, orang yang lebih benar ucapannya dari Abu Dzar ". (Baca Juga: Perang Khandaq dan Ramalan Masa Depan Kejayaan Islam )
Zuhudnya Abu Dzar Al-Ghifari
Pada suatu hari Abu Dzar ditawarkan sebuah jabatan sebagai amir di Irak. Beliau berkata: "Demi Allah, tuan-tuan takkan dapat memancingku dengan duniauntuk selama-lamanya!"
Pada kesempatan lain, seorang sahabat melihatnya memakai jubah usang, "Bukankah anda masih punya baju yang lain? Beberapa hari yang lewat saya lihat anda punya dua helai baju baru!"
Jawab Abu Dzar : "Wahai putra saudaraku! Kedua baju itu telah kuberikan kepada orang yang lebih membutuhkannya daripadaku!"
Kata sahabat itu pula: "Demi Allah! Anda juga membutuhkannya!" Lalu Abu Dzar berkata: "Ampunilah ya Allah! Kamu terlalu membesarkan dunia! Tidakkah kamu lihat burdah yang saya pakai ini? Dan saya punya satu lagi untuk salat Jum'at. saya punya seekor kambing untuk diperah susunya, dan seekor keledai untuk ditunggangi! Nikmat apa lagi yang lebih besar dari yang kita miliki ini".
Pada suatu hari ia duduk menyampaikan sebuah Hadits, katanya: "Aku diberi wasiat oleh junjunganku ( Nabi Muhammad ) dengan tujuh perkara: (1) Disuruhnya aku agar menyantuni orang-orang miskin dan mendekatkan diri kepada mereka. (2) Disuruhnya aku melihat kepada orang yang di bawahku dan bukan kepada orang yang di atasku. (3) Disuruhnya aku agar tidak meminta sesuatu kepada orang lain. (4) Disuruhnya aku agar menghubungkan tali silaturahim. (5) Disuruhnya aku mengatakan yang haq walaupun pahit. (6) Disuruhnya aku agar dalam menjalankan agama Allah, tidak takut celaan orang. (7) Dan disuruhnya agar memperbanyak menyebut: La haula walaa quwwata illaa billah".
Sungguh, Abu Dzar hidup menjalani wasiat Nabi itu. Perjalanan hidupnya sesuai dengan wasiat itu, hingga ia pun menjadi hati nurani masyarakat dari ummat dan bangsanya. Berkata Imam Ali radhiyallahu anhu: "Tak seorang pun tinggal sekarang ini yang tidak memperdulikan celaan orang dalam menegakkan agama Allah, kecuali Abu Dzar ".
Hidupnya dibaktikan untuk menentang penyalahgunaan kekuasaan dan penumpukan harta. Untuk menjatuhkan yang salah dan menegakkan yang benar! Mengambil alih tanggung jawab untuk menyampaikan nasihat dan peringatan!
Subhanallah, demikian perjalanan hidup dan akhir hayat seorang sahabat mulia yang dikagumi Rasulullah صلى الله عليه وسلم . Semoga kita dapat mengambil iktibar dari beliau. Aamiin. (Baca Juga: Kisah Abu Dzar Al-Ghifari yang Membuat Rasulullah Takjub dan Bangga )
Beliau adalah sahabat paling radikal dalam menegakkan risalah Islam. Radikal dalam hal ini bukan bermakna negatif. Beliau paling revolusioner, sikapnya tegas dalam melawan kebathilan. Atas sikapnya itu, beliau pun menerima resiko berat. Luka akibat dipukuli, berbagai dintimidasi hingga pingsan kerap diamalinya dan sedikit pun tidak menyurutkannya dalam menegakkan kebenaran Islam di hadapan kaum musyrik Makkah.
Bahkan terhadap sahabat Nabi yang dianggapnya melenceng dari kebenaran, beliau nasihati tanpa pandang bulu. Ini juga yang membuat Rasulullah صلى الله عليه وسلم kagum dan takjub hingga menyampaikan ucapan istimewa kepadanya. "Takkan pernah lagi dijumpai di bawahlangit ini, orang yang lebih benar ucapannya dari Abu Dzar ". (Baca Juga: Perang Khandaq dan Ramalan Masa Depan Kejayaan Islam )
Zuhudnya Abu Dzar Al-Ghifari
Pada suatu hari Abu Dzar ditawarkan sebuah jabatan sebagai amir di Irak. Beliau berkata: "Demi Allah, tuan-tuan takkan dapat memancingku dengan duniauntuk selama-lamanya!"
Pada kesempatan lain, seorang sahabat melihatnya memakai jubah usang, "Bukankah anda masih punya baju yang lain? Beberapa hari yang lewat saya lihat anda punya dua helai baju baru!"
Jawab Abu Dzar : "Wahai putra saudaraku! Kedua baju itu telah kuberikan kepada orang yang lebih membutuhkannya daripadaku!"
Kata sahabat itu pula: "Demi Allah! Anda juga membutuhkannya!" Lalu Abu Dzar berkata: "Ampunilah ya Allah! Kamu terlalu membesarkan dunia! Tidakkah kamu lihat burdah yang saya pakai ini? Dan saya punya satu lagi untuk salat Jum'at. saya punya seekor kambing untuk diperah susunya, dan seekor keledai untuk ditunggangi! Nikmat apa lagi yang lebih besar dari yang kita miliki ini".
Pada suatu hari ia duduk menyampaikan sebuah Hadits, katanya: "Aku diberi wasiat oleh junjunganku ( Nabi Muhammad ) dengan tujuh perkara: (1) Disuruhnya aku agar menyantuni orang-orang miskin dan mendekatkan diri kepada mereka. (2) Disuruhnya aku melihat kepada orang yang di bawahku dan bukan kepada orang yang di atasku. (3) Disuruhnya aku agar tidak meminta sesuatu kepada orang lain. (4) Disuruhnya aku agar menghubungkan tali silaturahim. (5) Disuruhnya aku mengatakan yang haq walaupun pahit. (6) Disuruhnya aku agar dalam menjalankan agama Allah, tidak takut celaan orang. (7) Dan disuruhnya agar memperbanyak menyebut: La haula walaa quwwata illaa billah".
Sungguh, Abu Dzar hidup menjalani wasiat Nabi itu. Perjalanan hidupnya sesuai dengan wasiat itu, hingga ia pun menjadi hati nurani masyarakat dari ummat dan bangsanya. Berkata Imam Ali radhiyallahu anhu: "Tak seorang pun tinggal sekarang ini yang tidak memperdulikan celaan orang dalam menegakkan agama Allah, kecuali Abu Dzar ".
Hidupnya dibaktikan untuk menentang penyalahgunaan kekuasaan dan penumpukan harta. Untuk menjatuhkan yang salah dan menegakkan yang benar! Mengambil alih tanggung jawab untuk menyampaikan nasihat dan peringatan!
Subhanallah, demikian perjalanan hidup dan akhir hayat seorang sahabat mulia yang dikagumi Rasulullah صلى الله عليه وسلم . Semoga kita dapat mengambil iktibar dari beliau. Aamiin. (Baca Juga: Kisah Abu Dzar Al-Ghifari yang Membuat Rasulullah Takjub dan Bangga )
(rhs)
Lihat Juga :