Tradisi Nyadran untuk Sambut Ramadan
Minggu, 08 Februari 2026 - 05:15 WIB
loading...
A
A
A
Bagi mereka yang pulang dan sukses di rantau, nyadran dikaitkan dengan sedekah pada fakir miskin, membangun tempat ibadah, memugar cungkup dan pagar makam, sebagai wujud balas jasa atau pengorbanan leluhur yang sudah mendidik.
Ibnu Ismail mengatakan pelaksanaan tradisi nyadran versi Islam lebih disesuaikan dengan Islam yakni pada nisfu Syaban, bulan yang dikaruniakan pada Rasulullah SAW yang identik dengan ziarah untuk meminta restu karena akan memasuki bulan Ramadan.
Selanjutnya, nyadran atau Ruwahan di tiap daerah juga berbeda-beda. Ambil contoh ruwahan di Dusun Gamping Kidul dan Dusun Geblagan Yogyakarta. Tradisi ruwahan di dua dusun ini berlangsung sejak tahun 1984. Tradisi ruwahan dilaksanakan pada bulan Syaban tiap tahunnya.
Tradisi ini bergotong royong untuk membersihkan makam, bersedekah kenduri yang dibawa dari rumah masing-masing warga, mendoakan bersama para arwah leluhur pada makam tersebut dengan cara bersalawat jawi.
Penganut agama Islam di Dusun Gamping Kidul dan Dusun Geblagan terdiri dari dua golongan, yakni agama Islam Santri dan Islam Abangan. Islam Santri yaitu pemeluk agama Islam yang secara keseluruhan mengikuti ajaran-ajaran Islam. Sedangkan Islam Abangan yaitu sebagai ajaran orang Jawa yang tidak dapat meninggalkan kepercayaan aslinya, dengan keyakinan konsep-konsep dan sistem upacara serta ritus agama Islam.
Oleh karena itu, sebagian kecil pemeluk agama Islam pada dua dusun ini masih menjalankan sesaji serta kelengkapanya termasuk membakar kemenyan, menabur bunga pada masing-masing nisan para leluhurnya. Tujuan tradisi ini untuk mendapatkan keselamatan, ketentraman dalam lingkungan para leluhurnya.
Pada awalnya, nyadran dilakukan masyarakat Hindu-Budha. Sejak abad ke-15 Walisongo menggabungkan tradisi tersebut dengan dakwahnya, agar agama Islam dapat dengan mudah diterima.
Pada awalnya para wali berusaha meluruskan kepercayaan yang ada pada masyarakat Jawa saat itu tentang pemujaan roh yang dalam agama Islam yang dinilai musyrik. Agar tidak berbenturan dengan tradisi Jawa saat itu, maka para wali tidak menghapuskan adat tersebut, melainkan menyelaraskan dan mengisinya dengan ajaran Islam, yaitu dengan pembacaan ayat Al-Quran, tahlil, dan doa. Nyadran dipahami sebagai bentuk hubungan antara leluhur dengan sesama manusia dan dengan Tuhan.
Baca juga: 5 Hadis Populer Tentang Puasa Ramadan, Apa Saja?
Ibnu Ismail mengatakan pelaksanaan tradisi nyadran versi Islam lebih disesuaikan dengan Islam yakni pada nisfu Syaban, bulan yang dikaruniakan pada Rasulullah SAW yang identik dengan ziarah untuk meminta restu karena akan memasuki bulan Ramadan.
Selanjutnya, nyadran atau Ruwahan di tiap daerah juga berbeda-beda. Ambil contoh ruwahan di Dusun Gamping Kidul dan Dusun Geblagan Yogyakarta. Tradisi ruwahan di dua dusun ini berlangsung sejak tahun 1984. Tradisi ruwahan dilaksanakan pada bulan Syaban tiap tahunnya.
Tradisi ini bergotong royong untuk membersihkan makam, bersedekah kenduri yang dibawa dari rumah masing-masing warga, mendoakan bersama para arwah leluhur pada makam tersebut dengan cara bersalawat jawi.
Penganut agama Islam di Dusun Gamping Kidul dan Dusun Geblagan terdiri dari dua golongan, yakni agama Islam Santri dan Islam Abangan. Islam Santri yaitu pemeluk agama Islam yang secara keseluruhan mengikuti ajaran-ajaran Islam. Sedangkan Islam Abangan yaitu sebagai ajaran orang Jawa yang tidak dapat meninggalkan kepercayaan aslinya, dengan keyakinan konsep-konsep dan sistem upacara serta ritus agama Islam.
Oleh karena itu, sebagian kecil pemeluk agama Islam pada dua dusun ini masih menjalankan sesaji serta kelengkapanya termasuk membakar kemenyan, menabur bunga pada masing-masing nisan para leluhurnya. Tujuan tradisi ini untuk mendapatkan keselamatan, ketentraman dalam lingkungan para leluhurnya.
Walisongo
Sekadar mengingatkan, nyadran berasal dari bahasa Sanskerta, sraddha yang artinya keyakinan. Dalam bahasa Jawa, nyadran berasal dari kata sadran yang artiya ruwah Syaban.Pada awalnya, nyadran dilakukan masyarakat Hindu-Budha. Sejak abad ke-15 Walisongo menggabungkan tradisi tersebut dengan dakwahnya, agar agama Islam dapat dengan mudah diterima.
Pada awalnya para wali berusaha meluruskan kepercayaan yang ada pada masyarakat Jawa saat itu tentang pemujaan roh yang dalam agama Islam yang dinilai musyrik. Agar tidak berbenturan dengan tradisi Jawa saat itu, maka para wali tidak menghapuskan adat tersebut, melainkan menyelaraskan dan mengisinya dengan ajaran Islam, yaitu dengan pembacaan ayat Al-Quran, tahlil, dan doa. Nyadran dipahami sebagai bentuk hubungan antara leluhur dengan sesama manusia dan dengan Tuhan.
Baca juga: 5 Hadis Populer Tentang Puasa Ramadan, Apa Saja?
(wid)
Lihat Juga :