Tradisi Nyadran untuk Sambut Ramadan

Minggu, 08 Februari 2026 - 05:15 WIB
loading...
Tradisi Nyadran untuk...
Tradisi Nyadran merupakan akulturasi budaya yang berkembang di Jawa, tradisi ini bergotong royong untuk membersihkan makam, bersedekah kenduri yang dibawa dari rumah masing-masing warga, mendoakan para arwah leluhur menjelang Bulan Raadan tiba. Foto istim
A A A
Menjelang tibanya bulan Ramadan , ada tradisi unik yang dilakukan masyarakat Indonesia terutama di Pulau Jawa, yakni tradisi Ruwahan atau Nyadran. Apa dan bagaimana sebenarnya tradisi Ramadan tersebut?

Tradisi Nyadran atau Ruwahan, awalnya merupakan tradisi yang berasal dari tradisi Hindu - Budha. Tradisi ini masih dilakukan di sejumlah daerah di Jawa, juga sebagian Sumatra. Lalu apa beda Nyadran versi Islam dengan Hindu-Jawa?

Ibnu Ismail dalam buku berjudul "Islam Tradisi Studi Komparatif Budaya Jawa Dengan Tradisi Islam" (Kediri, Tetes Publishing, 2011) menjelaskan pelaksanaan tradisi Ruwahan atau sering disebut Nyadran oleh penduduk Jawa memiliki perbedaan di setiap daerah. Hal ini terjadi karena setiap daerah memiliki alasan filosofi dan historis yang berbeda-beda di masing-masing daerah.

Selain itu, perbedaan dalam pelaksanaan tradisi ini juga dipengaruhi oleh keadaan akidah penduduk di setiap daerah tersebut. "Nyadran versi Islam jauh berbeda dengan Nyadran versi Hindu-Jawa," tulis Ibnu Ismail.



Nyadran versi Hindu lebih ke pemujaan. Umumnya dalam acara pemujaan, dukun akan menyiapkan kemenyan dan area bunga. Setelah pembakaran kemenyan, dibacakan mantra agar arwah datang bersemayan di area bunga yang mereka puja. Masyarakat menyiapkan sesaji kue, minuman, dan makanan kesukaan mayit.

Baca juga: Pahala dan Keutamaan Luar Biasa dari Puasa Ramadan, Simak Penjelasannya di Sini!

Selanjutnya sesaji ditata rapi, diberi bunga setaman dan diberi penerangan berupa lampu. Juga dilakukan penyekaran dengan mengirim bunga kantil, telasih, kenanga, melur, melati kepada arwah dan diletakkan di atas nisan.

Menurut Ibnu Ismail, makanan kesukaan arwah juga diletakkan di kuburan kemudian diadakan pembakaran kemenyan dan mengucap doa-doa. Tradisi pemujaan ini masih dapat dijumpai pada masyarakat abangan. Yang pada dasarnya, upacara nyadran adalah pemujaan pada arwah danyang desa yang berasal dari kepercayaan animisme dan dipusatkan pusara punden.

Sedangkan dalam versi Islam, kata Ibnu Ismail, nyadran adalah bakti dan hormat pada tetua dengan kirim doa, gotong royong, silahtuhrahim, yakni ajang perkenalan antara keturunan moyang desa.

Bagi mereka yang pulang dan sukses di rantau, nyadran dikaitkan dengan sedekah pada fakir miskin, membangun tempat ibadah, memugar cungkup dan pagar makam, sebagai wujud balas jasa atau pengorbanan leluhur yang sudah mendidik.

Ibnu Ismail mengatakan pelaksanaan tradisi nyadran versi Islam lebih disesuaikan dengan Islam yakni pada nisfu Syaban, bulan yang dikaruniakan pada Rasulullah SAW yang identik dengan ziarah untuk meminta restu karena akan memasuki bulan Ramadan.

Selanjutnya, nyadran atau Ruwahan di tiap daerah juga berbeda-beda. Ambil contoh ruwahan di Dusun Gamping Kidul dan Dusun Geblagan Yogyakarta. Tradisi ruwahan di dua dusun ini berlangsung sejak tahun 1984. Tradisi ruwahan dilaksanakan pada bulan Syaban tiap tahunnya.

Tradisi ini bergotong royong untuk membersihkan makam, bersedekah kenduri yang dibawa dari rumah masing-masing warga, mendoakan bersama para arwah leluhur pada makam tersebut dengan cara bersalawat jawi.

Penganut agama Islam di Dusun Gamping Kidul dan Dusun Geblagan terdiri dari dua golongan, yakni agama Islam Santri dan Islam Abangan. Islam Santri yaitu pemeluk agama Islam yang secara keseluruhan mengikuti ajaran-ajaran Islam. Sedangkan Islam Abangan yaitu sebagai ajaran orang Jawa yang tidak dapat meninggalkan kepercayaan aslinya, dengan keyakinan konsep-konsep dan sistem upacara serta ritus agama Islam.

Oleh karena itu, sebagian kecil pemeluk agama Islam pada dua dusun ini masih menjalankan sesaji serta kelengkapanya termasuk membakar kemenyan, menabur bunga pada masing-masing nisan para leluhurnya. Tujuan tradisi ini untuk mendapatkan keselamatan, ketentraman dalam lingkungan para leluhurnya.

Walisongo

Sekadar mengingatkan, nyadran berasal dari bahasa Sanskerta, sraddha yang artinya keyakinan. Dalam bahasa Jawa, nyadran berasal dari kata sadran yang artiya ruwah Syaban.

Pada awalnya, nyadran dilakukan masyarakat Hindu-Budha. Sejak abad ke-15 Walisongo menggabungkan tradisi tersebut dengan dakwahnya, agar agama Islam dapat dengan mudah diterima.

Pada awalnya para wali berusaha meluruskan kepercayaan yang ada pada masyarakat Jawa saat itu tentang pemujaan roh yang dalam agama Islam yang dinilai musyrik. Agar tidak berbenturan dengan tradisi Jawa saat itu, maka para wali tidak menghapuskan adat tersebut, melainkan menyelaraskan dan mengisinya dengan ajaran Islam, yaitu dengan pembacaan ayat Al-Quran, tahlil, dan doa. Nyadran dipahami sebagai bentuk hubungan antara leluhur dengan sesama manusia dan dengan Tuhan.

Baca juga: 5 Hadis Populer Tentang Puasa Ramadan, Apa Saja?
(wid)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Kisah Uwais Al Qarni...
Kisah Uwais Al Qarni : Menggendong Ibunya dari Yaman ke Makkah untuk Melaksanakan Haji
Mentadaburi Al Quran...
Mentadaburi Al Quran Lebih Utama dari Berdoa, Begini Penjelasannya
Khotbah Jumat : Ciri-ciri...
Khotbah Jumat : Ciri-ciri Orang Sukses pada Bulan Ramadan
Jadwal Salat dan Imsakiyah...
Jadwal Salat dan Imsakiyah Jakarta Hari Ini, 30 Ramadan 1447 H
Jadwal Salat dan Imsakiyah...
Jadwal Salat dan Imsakiyah Kota Bandung Hari Ini, 30 Ramadan 1447 H
Jadwal Salat dan Imsakiyah...
Jadwal Salat dan Imsakiyah Kota Semarang Hari Ini, 30 Ramadan 1447 H
Rekomendasi
Jantung Mumi Berusia...
Jantung Mumi Berusia 2.500 Tahun Ini Masih Berdenyut, Ilmuwan Ungkap Keganjilan Ini
4 Fenomena Gaib yang...
4 Fenomena Gaib yang Belum Bisa Dijelaskan secara Sains, Nomor Terakhir Sangat Populer
Panas Ekstrem Berpotensi...
Panas Ekstrem Berpotensi Timbulkan Kanker Kulit
Artikel Terkini
Bacaan Niat Puasa Asyura...
Bacaan Niat Puasa Asyura dan Keistimewaannya, Puasa Sehari Penghapus Dosa Setahun
10 Muharram dan Kematian...
10 Muharram dan Kematian Firaun: Akhir Sang Raja yang Mengaku Tuhan
Puasa Asyura 2026: Jadwal,...
Puasa Asyura 2026: Jadwal, Dalil, dan Keutamaan Besarnya Menurut Hadis Nabi
Kisah Bulan Muharram...
Kisah Bulan Muharram : Nabi Yunus AS 40 Hari di Perut Ikan, dan Pelajaran tentang Kesabaran
Amalan Hari Asyura 10...
Amalan Hari Asyura 10 Muharram: Puasa Asyura, Sedekah, dan Meluaskan Rezeki Keluarga
Ingat Besok Jadwal Puasa...
Ingat Besok Jadwal Puasa Tasua, Ini Bacaan Niatnya!
Infografis
Politikus Muslim Mulai...
Politikus Muslim Mulai Kuasai Politik AS, Sinyal Kebangkitan Islam di Paman Sam?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved