Ulama dan Cendikiawan Iran yang Berjasa untuk Islam dan Dunia
Kamis, 02 April 2026 - 12:30 WIB
loading...
A
A
A
Selain itu, ada pula Abu Hasan Ali bin Hamzah. Lelaki Persia yang akrab disapa al-Kisa'i ini merupakan salah satu tokoh mazhab Kuffah untuk studi bahasa Arab.
Di samping gramatika, kepakarannya juga meliputi ilmu membaca Alquran atau qira'at. Pada abad ke- 10, terdapat sosok Abu al-Faraj al-Ashfihani. Mawali Persia yang juga penulis Kitab al-Aghani (Buku Nyanyian) itu adalah seorang ahli sastra Arab- Persia. Ia juga berjasa dalam mengembangkan teori musik.
Besarnya peran para sarjana Persia di era Abbasiyah juga berarti eratnya persentuhan kultural antara Arab dan Persia. Bahkan, lebih dari itu. Yang terjadi ialah perjumpaan multikultural.
Sebab, Persia memiliki sejarah yang sangat panjang dalam mem pertemukan banyak budaya, baik dari kawasan daratan Asia maupun pesisir Mediterania Timur. Untuk bidang sastra, contoh terpenting dalam hal ini barang kali adalah Alf Laylah wa-Laylah alias Seribu Satu Malam atau The Arabian Nights.
Kisah-kisah di dalamnya disusun sedemikian rupa sehingga menjadi cerita berbingkai. Karena mengagumi khazanah kesusastraan ini, sultan Abbasiyah memerintahkan sejumlah ilmuwan untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa Arab.
Hasil terjemahan itu kemudian ditambahi pula dengan bumbu-bumbu cerita yang intinya mengapresiasi pemimpin Abbasiyah, utamanya Harun al-Rasyid sendiri. Bagaimanapun, porsi terbesar cerita berbingkai ini berasal dari hikayat Persia, Hezar Afsan (Seribu Kisah), yang juga mengadopsi banyak elemen budaya India.
Muhammad bin Zakaria menulis sebuah kitab fenomenal, Al-Hawi, yang menelaah dan mengkritik ilmu kedokteran pada masa Yunani Kuno. Hanya karena buku ini, orang-orang Eropa di abad pertengahan menggelarinya sebagai dokter terbesar pada masanya.
Adapun Fakruddin al- Razi tidak hanya berkiprah pada ilmu medis, tetapi juga sejarah, filsafat, dan fisika. Sang polymath merupakan yang mula-mula mengembangkan teori alam semesta majemuk (multiverse) dan menghubungkannya dengan petunjuk Alquran.
Itulah sebagian cerdik cendekia Muslimin Persia pada masa kejayaan Islam. Status mereka sebagai Bangsa Persia sama sekali tidak mengurangi reputasinya di mata dunia.
Baca juga: Kisah Khalifah Umar bin Khattab yang Ingin Mati Syahid dan Doa-doanya
Di samping gramatika, kepakarannya juga meliputi ilmu membaca Alquran atau qira'at. Pada abad ke- 10, terdapat sosok Abu al-Faraj al-Ashfihani. Mawali Persia yang juga penulis Kitab al-Aghani (Buku Nyanyian) itu adalah seorang ahli sastra Arab- Persia. Ia juga berjasa dalam mengembangkan teori musik.
Besarnya peran para sarjana Persia di era Abbasiyah juga berarti eratnya persentuhan kultural antara Arab dan Persia. Bahkan, lebih dari itu. Yang terjadi ialah perjumpaan multikultural.
Sebab, Persia memiliki sejarah yang sangat panjang dalam mem pertemukan banyak budaya, baik dari kawasan daratan Asia maupun pesisir Mediterania Timur. Untuk bidang sastra, contoh terpenting dalam hal ini barang kali adalah Alf Laylah wa-Laylah alias Seribu Satu Malam atau The Arabian Nights.
Kisah-kisah di dalamnya disusun sedemikian rupa sehingga menjadi cerita berbingkai. Karena mengagumi khazanah kesusastraan ini, sultan Abbasiyah memerintahkan sejumlah ilmuwan untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa Arab.
Hasil terjemahan itu kemudian ditambahi pula dengan bumbu-bumbu cerita yang intinya mengapresiasi pemimpin Abbasiyah, utamanya Harun al-Rasyid sendiri. Bagaimanapun, porsi terbesar cerita berbingkai ini berasal dari hikayat Persia, Hezar Afsan (Seribu Kisah), yang juga mengadopsi banyak elemen budaya India.
Kontribusi Bidang Sains
Di bidang sains, kontribusi orang Persia sangatlah nyata. Nama-nama berikut ini adalah sebagian dari banyak contoh nyata kontribusi mereka.1. Ilmu Kedokteran
Nama Muhammad bin Zakariya al-Razi dan Fakhruddin al-Razi sangat populer. Keduanya sama-sama berkebangsaan Persia walaupun berasal dari masa yang berbeda. Yang satu dari abad ke-10, sedangkan yang lain hidup pada abad ke-12 M.Muhammad bin Zakaria menulis sebuah kitab fenomenal, Al-Hawi, yang menelaah dan mengkritik ilmu kedokteran pada masa Yunani Kuno. Hanya karena buku ini, orang-orang Eropa di abad pertengahan menggelarinya sebagai dokter terbesar pada masanya.
Adapun Fakruddin al- Razi tidak hanya berkiprah pada ilmu medis, tetapi juga sejarah, filsafat, dan fisika. Sang polymath merupakan yang mula-mula mengembangkan teori alam semesta majemuk (multiverse) dan menghubungkannya dengan petunjuk Alquran.
2. Ilmu Kedokteran Modern
Ibnu Sina (wafat 1037 M) adalah orang Persia. Para sarjana Eropa menyebut nya Avi cenna. Ia merupakan seorang cendekiawan genius yang merintis jalan bagi ilmu kedokteran modern. Karya monumentalnya, Al-Qanun fii al-Thibb, menjadi pegangan bagi kaum pembe lajar Eropa sejak abad pertengahan. Adapun karya lain darinya, Kitab asy-Syifaa, merupakan sebuah ensiklopedi tentang obat-obatan dan gejala-gejala penyakit.3. Para Cendekiawan
Selain cendekiawan di bidang kedokteran, banyak nama orang Persia yang patut dikenang, antara lainJabir bin Hayyan (wafat 803 M), Nashir al-Din al-Thusi (wafat 1274 M), al-Biruni (wafat 1050 M), dan Umar Khayyam (wafat 1131 M).Itulah sebagian cerdik cendekia Muslimin Persia pada masa kejayaan Islam. Status mereka sebagai Bangsa Persia sama sekali tidak mengurangi reputasinya di mata dunia.
Baca juga: Kisah Khalifah Umar bin Khattab yang Ingin Mati Syahid dan Doa-doanya
(wid)
Lihat Juga :