Lembah Kebebasan: Kisah Cinta Seorang Syaikh dan Putri Pemelihara Anjing
Senin, 21 September 2020 - 06:28 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Rocky Gerung: Mahfud MD Seperti Cacing Kepanasan di Dalam Istana
Ada yang merasa kasihan padanya, dan dengan upah se-obol ditolongnya lalat itu masuk. Tetapi begitu sampai di dalam, maka kaki lalat itu pun lekat pada madu. Meskipun ia mengepak-kepakkan sayap dan berloncatan ke sana-sini, namun keadaannya semakin menyedihkan, dan ia pun mengeluh, "Ini kelaliman, ini racun. Aku terjerat. Kuberikan se-obol tadi untuk masuk, tetapi kini dengan senang kuberikan dua obol untuk keluar."
"Di Lembah ini," kata Hudhud selanjutnya, "jangan ada yang tinggal bersikap tak giat, dan siapa pun hendaknya memasuki Lembah ini hanya setelah mencapai tingkat perkembangan tertentu.
Baca juga: Usulan Penundaan Pilkada Serentak 2020 Dianggap Opsi Tepat
Kini tiba saatnya untuk berusaha dan bukan tinggal dalam ketakpastian dan melewatkan waktu dengan tak peduli. Bangkitlah kau dari sikap masa bodoh, tinggalkan keterikatan-keterikatan lahir dan batin, dan lintasi Lembah yang sulit ini; sebab bila kau tak meninggalkan semua itu, kau akan lebih bersikap tak peduli ketimbang kaum pemuja dewa-dewa, dan kau tak akan pernah merasa cukup dengan dirimu sendiri."
Kata-kata Syaikh
Seorang murid minta jawaban dari gurunya atas sebuah pertanyaan yang tak berguna. Syaikh itu pun berkata, "Lebih dulu basuhlah mukamu. Dapatkah wangian kesturi tercium dalam bau kebusukan? Aku tak memberikan pengetahuan pada orang-orang yang mabuk."
Darwis dan Puteri
Adalah pada suatu ketika seorang syaikh terpuji yang mengenakan khirka kemiskinan, tetapi ia jatuh cinta pada puteri seorang yang banyak memelihara anjing, dan dengan harapan akan dapat melihat puteri itu,
Baca juga: Pandemi Corona, KAMI Berharap Pilkada Ditunda Sampai Batas Waktu Aman
ia pun hidup dan tidur di jalanan. Ibu si gadis mengetahui hal ini, lalu berkata pada syaikh itu, "Kau tentu saja tahu bahwa kami ini pemelihara anjing, tetapi karena kau jatuh hati pada puteri kami, maka kau boleh mengawininya setahun lagi, dan tinggal bersama kami; dan kau harus bersedia menjadi pemelihara anjing dan menerima cara hidup kami."
Karena syaikh itu tak tanggung-tanggung cintanya, maka ia pun menanggalkan jubah sufinya dan mulai bekerja. Setiap hari dibawanya seekor anjing ke pasar, dan yang demikian itu terus dilakukannya selama hampir setahun. Suatu hari, seorang sufi lain, yang juga sahabatnya, berkata padanya, "O orang hina, selama tiga puluh tahun kau telah menekuni dan merenungi perkara-perkara rohani, dan kini kau melakukan apa yang tak pernah dilakukan oleh orang-orang yang sejajar denganmu!"
Baca juga: Sri Mulyani Akui Permasalahan Ekonomi Saat Ini Cukup Ruwet
Syaikh itu menjawab, "Kau tak melihat hal yang sebenarnya, maka janganlah menyanggah. Bila kau ingin mengerti, ketahuilah bahwa hanya Tuhanlah yang mengetahui kerahasiaan itu dan hanya Dialah yang dapat menyingkapkannya. Lebih baik tampak menggelikan ketimbang seperti kau, tak pernah memasuki kerahasiaan Jalan Rohani."
==
Ada yang merasa kasihan padanya, dan dengan upah se-obol ditolongnya lalat itu masuk. Tetapi begitu sampai di dalam, maka kaki lalat itu pun lekat pada madu. Meskipun ia mengepak-kepakkan sayap dan berloncatan ke sana-sini, namun keadaannya semakin menyedihkan, dan ia pun mengeluh, "Ini kelaliman, ini racun. Aku terjerat. Kuberikan se-obol tadi untuk masuk, tetapi kini dengan senang kuberikan dua obol untuk keluar."
"Di Lembah ini," kata Hudhud selanjutnya, "jangan ada yang tinggal bersikap tak giat, dan siapa pun hendaknya memasuki Lembah ini hanya setelah mencapai tingkat perkembangan tertentu.
Baca juga: Usulan Penundaan Pilkada Serentak 2020 Dianggap Opsi Tepat
Kini tiba saatnya untuk berusaha dan bukan tinggal dalam ketakpastian dan melewatkan waktu dengan tak peduli. Bangkitlah kau dari sikap masa bodoh, tinggalkan keterikatan-keterikatan lahir dan batin, dan lintasi Lembah yang sulit ini; sebab bila kau tak meninggalkan semua itu, kau akan lebih bersikap tak peduli ketimbang kaum pemuja dewa-dewa, dan kau tak akan pernah merasa cukup dengan dirimu sendiri."
Kata-kata Syaikh
Seorang murid minta jawaban dari gurunya atas sebuah pertanyaan yang tak berguna. Syaikh itu pun berkata, "Lebih dulu basuhlah mukamu. Dapatkah wangian kesturi tercium dalam bau kebusukan? Aku tak memberikan pengetahuan pada orang-orang yang mabuk."
Darwis dan Puteri
Adalah pada suatu ketika seorang syaikh terpuji yang mengenakan khirka kemiskinan, tetapi ia jatuh cinta pada puteri seorang yang banyak memelihara anjing, dan dengan harapan akan dapat melihat puteri itu,
Baca juga: Pandemi Corona, KAMI Berharap Pilkada Ditunda Sampai Batas Waktu Aman
ia pun hidup dan tidur di jalanan. Ibu si gadis mengetahui hal ini, lalu berkata pada syaikh itu, "Kau tentu saja tahu bahwa kami ini pemelihara anjing, tetapi karena kau jatuh hati pada puteri kami, maka kau boleh mengawininya setahun lagi, dan tinggal bersama kami; dan kau harus bersedia menjadi pemelihara anjing dan menerima cara hidup kami."
Karena syaikh itu tak tanggung-tanggung cintanya, maka ia pun menanggalkan jubah sufinya dan mulai bekerja. Setiap hari dibawanya seekor anjing ke pasar, dan yang demikian itu terus dilakukannya selama hampir setahun. Suatu hari, seorang sufi lain, yang juga sahabatnya, berkata padanya, "O orang hina, selama tiga puluh tahun kau telah menekuni dan merenungi perkara-perkara rohani, dan kini kau melakukan apa yang tak pernah dilakukan oleh orang-orang yang sejajar denganmu!"
Baca juga: Sri Mulyani Akui Permasalahan Ekonomi Saat Ini Cukup Ruwet
Syaikh itu menjawab, "Kau tak melihat hal yang sebenarnya, maka janganlah menyanggah. Bila kau ingin mengerti, ketahuilah bahwa hanya Tuhanlah yang mengetahui kerahasiaan itu dan hanya Dialah yang dapat menyingkapkannya. Lebih baik tampak menggelikan ketimbang seperti kau, tak pernah memasuki kerahasiaan Jalan Rohani."
==
(mhy)
Lihat Juga :