Asal-usul Puasa Asyura dan Tasua, Benarkah Berasal dari Tradisi Yahudi?
Sabtu, 20 Juni 2026 - 05:08 WIB
loading...
A
A
A
Aisyah RA meriwayatkan:
"Orang-orang Quraisy pada masa jahiliyah berpuasa pada hari Asyura. Rasulullah SAW juga memerintahkan kaum Muslimin berpuasa pada hari itu hingga diwajibkannya puasa Ramadan." (HR Bukhari dan Muslim)
Riwayat ini menunjukkan bahwa puasa Asyura telah dikenal sejak sebelum Rasulullah SAW bertemu dengan kaum Yahudi di Madinah.
Menurut Imam Al-Qurthubi yang dikutip Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, puasa Asyura yang dilakukan masyarakat Quraisy merupakan sisa ajaran Nabi Ibrahim AS yang masih dipertahankan, sebagaimana ibadah haji yang juga telah dikenal sebelum Islam.
Dengan demikian, Rasulullah SAW melaksanakan puasa Asyura bukan karena meniru tradisi agama lain, melainkan karena mendapat tuntunan dan petunjuk dari Allah SWT.
Setelah mengetahui bahwa puasa itu dilakukan untuk mengenang keselamatan Nabi Musa AS dari Fir'aun, Rasulullah SAW menegaskan bahwa umat Islam lebih berhak mengikuti ajaran para nabi terdahulu karena risalah Islam merupakan penyempurna ajaran tauhid yang dibawa para nabi.
Karena itu, Rasulullah SAW tetap melaksanakan puasa Asyura sekaligus memerintahkannya kepada kaum Muslimin.
Dalam riwayat Muslim, Ibnu Abbas RA menuturkan bahwa para sahabat pernah menyampaikan kepada Rasulullah SAW bahwa hari Asyura juga diagungkan oleh kaum Yahudi dan Nasrani.
Mendengar hal itu, Rasulullah SAW bersabda:
"Jika aku masih hidup sampai tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan." (HR Muslim)
"Orang-orang Quraisy pada masa jahiliyah berpuasa pada hari Asyura. Rasulullah SAW juga memerintahkan kaum Muslimin berpuasa pada hari itu hingga diwajibkannya puasa Ramadan." (HR Bukhari dan Muslim)
Riwayat ini menunjukkan bahwa puasa Asyura telah dikenal sejak sebelum Rasulullah SAW bertemu dengan kaum Yahudi di Madinah.
Menurut Imam Al-Qurthubi yang dikutip Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, puasa Asyura yang dilakukan masyarakat Quraisy merupakan sisa ajaran Nabi Ibrahim AS yang masih dipertahankan, sebagaimana ibadah haji yang juga telah dikenal sebelum Islam.
Dengan demikian, Rasulullah SAW melaksanakan puasa Asyura bukan karena meniru tradisi agama lain, melainkan karena mendapat tuntunan dan petunjuk dari Allah SWT.
Mengapa Rasulullah SAW Tetap Berpuasa Asyura?
Saat tiba di Madinah, Rasulullah SAW mendapati kaum Yahudi juga berpuasa pada tanggal 10 Muharram. Beliau kemudian menanyakan alasan mereka melaksanakan puasa tersebut.Setelah mengetahui bahwa puasa itu dilakukan untuk mengenang keselamatan Nabi Musa AS dari Fir'aun, Rasulullah SAW menegaskan bahwa umat Islam lebih berhak mengikuti ajaran para nabi terdahulu karena risalah Islam merupakan penyempurna ajaran tauhid yang dibawa para nabi.
Karena itu, Rasulullah SAW tetap melaksanakan puasa Asyura sekaligus memerintahkannya kepada kaum Muslimin.
Dianjurkan Puasa Tasua pada 9 Muharram
Selain puasa Asyura, Rasulullah SAW juga menganjurkan umat Islam berpuasa sehari sebelumnya, yakni pada 9 Muharram yang dikenal sebagai puasa Tasua.Dalam riwayat Muslim, Ibnu Abbas RA menuturkan bahwa para sahabat pernah menyampaikan kepada Rasulullah SAW bahwa hari Asyura juga diagungkan oleh kaum Yahudi dan Nasrani.
Mendengar hal itu, Rasulullah SAW bersabda:
"Jika aku masih hidup sampai tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan." (HR Muslim)
Lihat Juga :