Fitnah Kekuasaan: Bahaya Jabatan, Mengejar Dunia yang Tiada Akhir
Sabtu, 11 Juli 2026 - 14:18 WIB
loading...
A
A
A
Kewajiban setiap hamba yang ingin menyuburkan imannya ialah melawan nafsunya agar tidak tertipu dengan godaan dunia yang sangat banyak. Dan hal itu terwujudkan dengan antara lain memahami bahwa dunia ini finisnya adalah fana dan kehancuran.
Maka Nabi juga bersabda:
“Apa peduliku dengan dunia. Tidaklah aku di dunia melainkan seperti seorang pengembara yang berteduh di bawah pohon, kemudian dia akan pergi meninggalkan pohon tersebut.” (HR Ahmad, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan dishahihkan al-Albani di dalam ash-Shahihah: 438)
Memiliki harta, wanita, dan takhta tidaklah tercela selagi harta di tangan dan akhirat di hati, menjauhi sifat serakah, mencarinya dengan benar, menunaikan hak-haknya, membelanjakan pada tempatnya, dan tidak melampaui batas atau sombong karenanya.
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sesungguhnya apa yang dimakan anak Adam dibuat permisalan untuk dunia. Sekalipun ia telah membumbuinya dan menggaraminya dengan lezat, perhatikanlah hasil akhirnya makanan itu juga apa.” (HR Ahmad, Ibnu Hibban, dll, dishahihkan al-Albani di dalam Silsilah ash-Sha hihah: 382.)
Dalam riwayat lainnya disebutkan,
Rasulullah SAW bersabda, ”Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menjadikan apa yang keluar dari (badan) anak Adam sebagai permisalan terhadap dunia.” (Ath Thabarani, dishahihkan oleh Al Hafidz As Suyuthi)
Al Allamah Al Munawi menjelaskan bahwa maksud dari “apa yang keluar dari anak Adam” adalah air kencing dan tinja.
Maka Nabi juga bersabda:
مَا لِى وَمَا لِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِى الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا
“Apa peduliku dengan dunia. Tidaklah aku di dunia melainkan seperti seorang pengembara yang berteduh di bawah pohon, kemudian dia akan pergi meninggalkan pohon tersebut.” (HR Ahmad, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan dishahihkan al-Albani di dalam ash-Shahihah: 438)
Memiliki harta, wanita, dan takhta tidaklah tercela selagi harta di tangan dan akhirat di hati, menjauhi sifat serakah, mencarinya dengan benar, menunaikan hak-haknya, membelanjakan pada tempatnya, dan tidak melampaui batas atau sombong karenanya.
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sesungguhnya apa yang dimakan anak Adam dibuat permisalan untuk dunia. Sekalipun ia telah membumbuinya dan menggaraminya dengan lezat, perhatikanlah hasil akhirnya makanan itu juga apa.” (HR Ahmad, Ibnu Hibban, dll, dishahihkan al-Albani di dalam Silsilah ash-Sha hihah: 382.)
Dalam riwayat lainnya disebutkan,
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى جَعَلَ مَا يَخْرُجُ مِنَ ابْنِ آدَمَ مَثَلاً لِلدُّنْيَا-الطبراني
Rasulullah SAW bersabda, ”Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menjadikan apa yang keluar dari (badan) anak Adam sebagai permisalan terhadap dunia.” (Ath Thabarani, dishahihkan oleh Al Hafidz As Suyuthi)
Al Allamah Al Munawi menjelaskan bahwa maksud dari “apa yang keluar dari anak Adam” adalah air kencing dan tinja.
Lihat Juga :