Omar Khayyam dan Tentang Kegelisahan yang Menyedihkan
Jum'at, 25 September 2020 - 10:37 WIB
loading...
A
A
A
Khayyam adalah sebuah kultus agung di Inggris. Para pemujanya telah membentuk kelompok-kelompok, menaburi bunga mawar Nisyapur di atas pusara FitzGerald, dan menirukan syair-syairnya.
Baca juga: Tak Ada Jaminan Bebas Corona, Desakan Penundaan Pilkada Bergulir
Idries Shah mengatakan kultus ini sangat banyak, padahal kita tahu bahwa manuskrip tertua ditulis tiga ratus lima puluh tahun setelah kematian sang pengarang -- hampir seperti kita semua tahu tentang St. John of the Cross berdasarkan sebuah dokumen yang ditulis akhir-akhir ini dan harus mendasarkan pemahaman kita dari dokumen itu serta sebagian kecil dokumen lainnya.
Baca juga: Wagub Tegaskan Gubernur Anies Libatkan RT/RW Awasi Protokol kesehatan Covid-19
Dari sudut pandang Sufi, Idries Shah bilang, puisi Khayyam mempunyai berbagai manfaat, entah dikaji untuk menjelaskan maknanya semata, entah dibacakan dengan syarat-syarat tertentu untuk meningkatkan taraf-taraf kesadaran, entah "mengungkap rahasianya" untuk digunakan sebagai materi kajian Sufi.
Baca juga: Jika Dilonggarkan, Positif Covid-19 di DKI Bisa Tembus 2.000 Kasus Setiap Hari
Itulah sebagian warisan Sufi, dan sebagaimana telah memainkan peran komprehensif, pemahamannya sendiri merupakan pola pemikiran khas Sufi.
Ada laporan bahwa Khan Jan-Fishan Khan, pemimpin Sufi Hindu-Kush dan guru utama yang agung pada abad kesembilan belas, telah menggunakan syair-syair Omar dalam pengajarannya. Seorang muridnya melaporkan:
Tiga anggota baru datang menemui Khan. Ia menerima mereka dan memerintahkan mereka untuk mempelajari Khayyam dengan tujuan menjajaki tanggapan mereka. Seminggu kemudian mereka datang melaporkan di hari resepsinya.
Baca juga: Pandemi COVID-19, Money Politics Diprediksi Berjaya di Pilkada
Orang pertama mengatakan bahwa pengaruh syair-syairnya telah mendorongnya untuk berpikir dan memikirkan apa yang belum dipikirkannya sebelumnya. Orang kedua mengatakan bahwa ia pikir Khayyam adalah seorang klenik. Orang ketiga merasa bahwa ada beberapa misteri mendalam pada diri Omar dan ia berharap bisa memahaminya kemudian.
Orang pertama langsung diterima sebagai muridnya. Orang kedua dikirim ke guru lain. Orang ketiga dikirim kembali untuk mempelajari Khayyam.
Seorang murid bertanya kepada Khan, apakah hal itu adalah cara menilai potensialitas calon Sufi. "Kita telah mengetahui satu hal tentang mereka, yaitu kemampuan intuitif mereka," kata sang Guru, "tapi apakah kalian menganggap beberapa ujian itu adalah suatu latihan. Lebih dari itu, hal itu berfungsi untuk melatih pengamatan secara lebih baik. Itulah Sufisme -- sebaliknya, jika kalian suka, itulah cara belajar, perasaan dan interaksi antara manusia dan pikiran."
Baca juga: Tak Ada Jaminan Bebas Corona, Desakan Penundaan Pilkada Bergulir
Idries Shah mengatakan kultus ini sangat banyak, padahal kita tahu bahwa manuskrip tertua ditulis tiga ratus lima puluh tahun setelah kematian sang pengarang -- hampir seperti kita semua tahu tentang St. John of the Cross berdasarkan sebuah dokumen yang ditulis akhir-akhir ini dan harus mendasarkan pemahaman kita dari dokumen itu serta sebagian kecil dokumen lainnya.
Baca juga: Wagub Tegaskan Gubernur Anies Libatkan RT/RW Awasi Protokol kesehatan Covid-19
Dari sudut pandang Sufi, Idries Shah bilang, puisi Khayyam mempunyai berbagai manfaat, entah dikaji untuk menjelaskan maknanya semata, entah dibacakan dengan syarat-syarat tertentu untuk meningkatkan taraf-taraf kesadaran, entah "mengungkap rahasianya" untuk digunakan sebagai materi kajian Sufi.
Baca juga: Jika Dilonggarkan, Positif Covid-19 di DKI Bisa Tembus 2.000 Kasus Setiap Hari
Itulah sebagian warisan Sufi, dan sebagaimana telah memainkan peran komprehensif, pemahamannya sendiri merupakan pola pemikiran khas Sufi.
Ada laporan bahwa Khan Jan-Fishan Khan, pemimpin Sufi Hindu-Kush dan guru utama yang agung pada abad kesembilan belas, telah menggunakan syair-syair Omar dalam pengajarannya. Seorang muridnya melaporkan:
Tiga anggota baru datang menemui Khan. Ia menerima mereka dan memerintahkan mereka untuk mempelajari Khayyam dengan tujuan menjajaki tanggapan mereka. Seminggu kemudian mereka datang melaporkan di hari resepsinya.
Baca juga: Pandemi COVID-19, Money Politics Diprediksi Berjaya di Pilkada
Orang pertama mengatakan bahwa pengaruh syair-syairnya telah mendorongnya untuk berpikir dan memikirkan apa yang belum dipikirkannya sebelumnya. Orang kedua mengatakan bahwa ia pikir Khayyam adalah seorang klenik. Orang ketiga merasa bahwa ada beberapa misteri mendalam pada diri Omar dan ia berharap bisa memahaminya kemudian.
Orang pertama langsung diterima sebagai muridnya. Orang kedua dikirim ke guru lain. Orang ketiga dikirim kembali untuk mempelajari Khayyam.
Seorang murid bertanya kepada Khan, apakah hal itu adalah cara menilai potensialitas calon Sufi. "Kita telah mengetahui satu hal tentang mereka, yaitu kemampuan intuitif mereka," kata sang Guru, "tapi apakah kalian menganggap beberapa ujian itu adalah suatu latihan. Lebih dari itu, hal itu berfungsi untuk melatih pengamatan secara lebih baik. Itulah Sufisme -- sebaliknya, jika kalian suka, itulah cara belajar, perasaan dan interaksi antara manusia dan pikiran."
(mhy)
Lihat Juga :