Menyembunyikan Amalan Saat Berpuasa (1)
Selasa, 05 Mei 2020 - 17:45 WIB
loading...
A
A
A
Terkait riya, memang tak ada yang tahu melainkan niat dan motivasi diri dari si pelakunya sendiri dan Allah Ta'ala. Kita hanya berdoa semoga Allah menjauhkan kita dari sifat-sifat tercela tersebut.
Kata Imam Fudhail bin Iyadh:
تَرْكُ الْعَمَلِ لِأَجْلِ النَّاسِ رِيَاءٌ وَالْعَمَلُ لِأَجْلِ النَّاسُ شِرْكٌ وَالإِخْلاَصُ أَنْ يُعَافِيَكَ اللَّهُ بَيْنَهُمَا
"Meninggalkan amal disebabkan takut penilaian manusia menganggapnya riya', maka sesungguhnya dia telah riya'. Melakukan amal kebaikan mengharapkan pujian manusia, maka dia juga telah melakukan riya (syirik kecil). Sedangkan ikhlas Allah menyelamatkanmu dari sifat keduanya."
Riya itu berbahaya. Nabi menganalogikan riya seperti kayu bakar yang dimakan api. Amal kebaikan yang diperlihatkan habis akibat ingin adanya pengakuan atau pujian dari manusia.
Oleh karenanya, pentingnya selalu membenarkan keinginan hati, meluruskan niat, lillah, billah, fillah, minallah, ilallah wa a'alallah.
Maka, ikhlas menjadi landasan utamanya. Apa itu definisi ikhlas? Imam Huzaifah al-Mar'asyi mengatakan:
الإِخْلاَصُ اسْتِوَاءُ أَفْعَالِ العَبْدِ فِي الظَّاهِرِ وَالبَاطِنُ
"Ikhlas itu sama saja apa yang tampak dari perilaku seorang hamba, baik secara zhahirnya maupun bathinnya."
Oleh karena itulah, Rasulullah SAW mengingatkan kita dalam ibadah bahwa hal yang terpenting landasan sebuah ibadah adalah niat seorang hamba itu:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنَّيَاتِ وَلِكُلِّ اْمْرِءٍ مَا نَوَى
Kata Imam Fudhail bin Iyadh:
تَرْكُ الْعَمَلِ لِأَجْلِ النَّاسِ رِيَاءٌ وَالْعَمَلُ لِأَجْلِ النَّاسُ شِرْكٌ وَالإِخْلاَصُ أَنْ يُعَافِيَكَ اللَّهُ بَيْنَهُمَا
"Meninggalkan amal disebabkan takut penilaian manusia menganggapnya riya', maka sesungguhnya dia telah riya'. Melakukan amal kebaikan mengharapkan pujian manusia, maka dia juga telah melakukan riya (syirik kecil). Sedangkan ikhlas Allah menyelamatkanmu dari sifat keduanya."
Riya itu berbahaya. Nabi menganalogikan riya seperti kayu bakar yang dimakan api. Amal kebaikan yang diperlihatkan habis akibat ingin adanya pengakuan atau pujian dari manusia.
Oleh karenanya, pentingnya selalu membenarkan keinginan hati, meluruskan niat, lillah, billah, fillah, minallah, ilallah wa a'alallah.
Maka, ikhlas menjadi landasan utamanya. Apa itu definisi ikhlas? Imam Huzaifah al-Mar'asyi mengatakan:
الإِخْلاَصُ اسْتِوَاءُ أَفْعَالِ العَبْدِ فِي الظَّاهِرِ وَالبَاطِنُ
"Ikhlas itu sama saja apa yang tampak dari perilaku seorang hamba, baik secara zhahirnya maupun bathinnya."
Oleh karena itulah, Rasulullah SAW mengingatkan kita dalam ibadah bahwa hal yang terpenting landasan sebuah ibadah adalah niat seorang hamba itu:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنَّيَاتِ وَلِكُلِّ اْمْرِءٍ مَا نَوَى
Lihat Juga :