Kiamat Kian Dekat dan Pembalasan bagi Orang yang Mendustakan Ad-din?

Jum'at, 02 Oktober 2020 - 13:19 WIB
loading...
Kiamat Kian Dekat dan...
Ilustrasi/Ist
A A A
AL-QURAN menghendaki agar keyakinan akan adanya hari akhir mengantar manusia untuk melakukan aktivitas-aktivitas positif dalam kehidupannya, walaupun aktivitas itu tidak menghasilkan keuntungan materi dalam kehidupan dunianya. Salah satu surat yang berbicara tentang hal ini adalah surat Al-Ma'un (107). (Baca juga: Surah Paling Romantis Ini Bisa Jadi Syafaat ke Surga )

Dalam beberapa riwayat, dikemukakan bahwa surat tersebut turun berkenaan dengan Abu Sufyan atau Abu Jahl , yang setiap minggu menyembelih seekor unta. Suatu ketika, seorang anak yatim datang kepadanya meminta sedikit daging yang telah disembelih itu, namun ia tidak diberi bahkan dihardik dan diusir. (Baca juga: Perisai Fitnah Dajjal: Matahari Kamis Tenggelam, Waktunya Surah Al-Kahfi )

Surat Al-Ma'un dimulai dengan satu pertanyaan: Tahukah kamu orang yang mendustakan ad-din?

Muhammad Quraish Shihab dalam bukunya "Wawasan Al-Quran, Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat" menjelaskan kata ad-din dalam surat ini, secara sangat populer, diartikan dengan agama , tetapi ad-din dapat juga berarti pembalasan . (Baca juga: Mau Pelindung di Hari Kiamat? Baca Surah Al-Baqarah dan Ali Imran )

Dengan demikian yukadzdzibu biddin dapat pula berarti mengingkari hari pembalasan atau hari akhir. Menurut Quraish, pendapat terakhir ini didukung oleh pengamatan yang menunjukkan bahwa Al-Quran bila menggandengkan kata ad-din dengan yukadzdzibu, maka konteknya adalah pengingkaran terhadap hari kiamat. Perhatikan surat Al-Infithar (82): 9 dan juga surat Al-Tin (95): 7.

Kemudian, kalau kita kaitkan makna terakhir ini dengan sikap mereka yang enggan membantu anak yatim atau orang miskin karena menduga bahwa bantuannya kepada mereka tidak menghasilkan apa-apa, kata Quraish, maka itu berarti bahwa pada hakikatnya sikap mereka itu adalah sikap orang-orang yang tidak percaya akan adanya (hari) pembalasan. (Baca juga: Jangan Tinggalkan Surah Ar-Rahman, Ini Keutamaannya )

Bukankah yang percaya meyakini bahwa kalaulah bantuan yang diberikannya tidak menghasilkan sesuatu di dunia, maka pasti ganjaran atau balasan perbuatannya akan diperoleh di akhirat kelak? Bukankah yang percaya hari kemudian meyakini bahwa Allah tidak menyia-nyiakan amal baik seseorang, betapa pun kecilnya?

Menurut Quraish, seseorang yang kehidupannya dikuasai oleh kekinian dan kedisinian, tidak akan memandang ke hari kemudian yang berada di depan sana. Sikap demikian merupakan pengingkaran atau pendustaan ad-din, baik dalam arti "agama", lebih-lebih lagi dalam arti hari kemudian. (Baca juga: Baca Surah Al-Baqarah untuk Usir Setan, Bisakah Cukup Rekaman? )

Meyakini Janji Ilahi
Ad-din menuntut adanya kepercayaan kepada yang gaib. Kata gaib di sini, bukan sekadar kepercayaan kepada Allah atau malaikat tetapi ia berkaitan dengan banyak hal, termasuk janji-janji Allah melipatgandakan anugerah-Nya kepada setiap orang yang memberi bantuan.

Kepercayaan ini mengantarkannya meyakini janji Ilahi itu, melebihi keyakinannya menyangkut segala sesuatu yang didasari oleh perhitungan-perhitungan akalnya semata-mata. Sehingga ketika itu, walaupun akalnya membisikkan bahwa "sikap yang akan diambilnya merugikan/tidak menguntungkan", namun jiwanya yang percaya itu mengantarkannya untuk melakukannya karena yang demikian sejalan dengan keyakinannya itu.

Baca juga: Partai Ummat Tak Bisa Hanya Mengandalkan Figur Amien Rais

"Apa yang berada di tangan Allah lebih meyakinkan Anda daripada apa yang terdapat dalam genggaman tangan sendiri."

Quraish mengatakan dengan pertanyaan tersebut, ayat pertama surat Al-Ma'un ini mengajak manusia untuk menyadari salah satu bukti utama kesadaran beragama atau kesadaran berkeyakinan tentang hari akhir, yang tanpa itu, keberagamaannya dinilai sangat lemah, kalau enggan berkata keberagamaannya nihil.

Surat Al-Ma'un yang terdiri dari tujuh ayat pendek ini, berbicara tentang suatu hakikat yang sangat penting, di mana terlihat secara tegas dan jelas bahwa ajaran Islam tidak memisahkan upacara ritual dan ibadah sosial, atau membiarkannya berjalan sendiri-sendiri. Ajaran ini sebagaimana tergambar dalam ayat di atas -menekankan bahwa ibadah dalam pengertiannya yang sempit pun mengandung dalam jiwanya dimensi sosial, sehingga jika jiwa ajaran tersebut tidak dipenuhi maka pelaksanaan ibadah dimaksud tidak akan banyak artinya.

Baca juga: Dilema Partai Baru Amien Rais Diprediksi Sulit Berkembang

Sayyid Quthb dalam tafsirnya Fi Zhilal Al-Qur'an menulis:

Mungkin ini (jawaban Al-Quran tentang siapa yang mendustakan agama/hari kemudian yang dikemukakan dalam surat ini) mengagetkan jika dibandingkan dengan pengertian iman secara tradisional. Tetapi, yang demikian itulah inti persoalan dan hakikatnya.

Hakikat pembenaran ad-din bukannya ucapan dengan lidah, tetapi ia adalah perubahan dalam jiwa yang mendorong kepada kebaikan dan kebajikan terhadap saudara-saudara sekemanusiaan, terhadap mereka yang membutuhkan pelayanan dan perlindungan.

Allah tidak menghendaki dari manusia kalimat-kalimat yang dituturkan, tetapi yang dikehendaki-Nya adalah karya-karya nyata, yang membenarkan (kalimat yang diucapkan itu). Sebab kalau tidak, maka itu semua hampa tidak berarti di sisi-Nya dan tidak dipandang-Nya.

Baca juga: Amien Rais Umumkan Pendirian Partai Ummat, PKS: Kami Siap Kerja Sama

Selanjutnya Sayyid Quthb menulis:

Kita tidak ingin memasuki diskusi dalam bidang hukum sekitar batas-batas iman dan Islam, karena batasan-batasan para ahli itu, berkaitan dengan interaksi sosial keagamaan. Sedangkan surat ini (Al-Ma'un) menegaskan hakikat persoalan dari sudut pandang dan penilaian Ilahi, yang tentunya berbeda dengan kenyataan-kenyataan lahiriah yang menjadi landasan penilaian interaksi antarmanusia.

Demikian surat ini menjelaskan hakikat dan buah kepercayaan tentang hari akhir.

Akhirnya perlu digarisbawahi bahwa perhatian Al-Quran yang sedemikian besar menyangkut persoalan hari akhir, membawa berbagai dampak di kalangan ilmuwan, agamawan, dan filosof. Antara lain berupa kegiatan diskusi yang menyita waktu dan energi mereka, khususnya detail kebangkitan tersebut apakah kebangkitan ruh dan jasad atau hanya ruh saja.

Baca juga: Inilah Pemandangan Ahli Riya Pada Hari Kiamat

Quraish Shihab mengatakan dalam hal ini kita ingin menggarisbawahi bahwa seorang Muslim dituntut oleh agamanya untuk meyakini adanya hari kebangkitan setelah kematiannya di mana ketika itu ia menyadari eksistensi dirinya secara sempurna. Apa pun bentuk kebangkitan tersebut--apakah dengan ruh dan jasad atau dengan ruh saja-- yang pokok adalah bahwa ketika itu setiap manusia mengenal dirinya, tidak kurang dari pengenalannya ketika ia hidup di dunia.

Adapun keterangan tentang hakikat kebangkitan, bentuk, waktu dan tempatnya, katanya, maka kesemua hal ini berada di luar tuntunan agama. Karena itu, sangat boleh jadi pembahasan para filosof dan ulama tentang soal tersebut lebih banyak didorong oleh kepentingan kepuasan penalaran akal daripada dorongan kehangatan iman. Wa Allahu 'Alam
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Halalbilhalal dalam...
Halalbilhalal dalam Al Quran: Tak Ada Alasan untuk Bilang Tiada Maaf Bagimu
Makna Idulfitri dalam...
Makna Idulfitri dalam Al Quran, Berkaitan dengan Kisah Adam dan Hawa
Marhaban Ya Ramadan,...
Marhaban Ya Ramadan, Kenapa Tidak Pakai Ahlan Wa Sahlan? Begini Penjelasannya
5 Ayat Al Quran dan...
5 Ayat Al Quran dan Hadis tentang Akhir Zaman, Simak di Sini!
Makna Ucapan Minal Aidin...
Makna Ucapan Minal Aidin Wal Faizin Menurut Al Qur'an
Kisah Nabi Isa Mengadu...
Kisah Nabi Isa Mengadu kepada Allah karena Ya'juj dan Ma'juj
Rekomendasi
Bertuliskan Allah dan...
Bertuliskan Allah dan Bintang Daud, Antropologi Temukan Petunjuk Cincin Nabi Sulaimain
Misteri Lightsaber Cahaya...
Misteri Lightsaber Cahaya Aneh di Malang Pasca Gempa Magnitudo 6,7
Sejarah Madain Saleh,...
Sejarah Madain Saleh, Daerah Terkutuk Arab Saudi yang Menjadi Warisan UNESCO
Artikel Terkini
Jangan Salah Kaprah!...
Jangan Salah Kaprah! Begini Cara Menyambut Tahun Baru Islam Menurut Syariat
Bacaan Niat 3 Jenis...
Bacaan Niat 3 Jenis Puasa Sunnah di Bulan Muharram
Deretan Dalil Kuat Anjuran...
Deretan Dalil Kuat Anjuran 3 Puasa Sunnah di Bulan Muharram
Jadwal Puasa Muharam...
Jadwal Puasa Muharam 1448 H Tahun 2026, Kapan Puasa Tasu'a dan Asyura Dilaksanakan?
Jangan Libatkan Anak...
Jangan Libatkan Anak dalam Konflik Perceraian, Ini Pesan Buya Yahya untuk Orang Tua
Ramai Kasus Perebutan...
Ramai Kasus Perebutan Hak Asuh Anak, Begini Aturan Hadhanah dalam Islam
Infografis
Penemuan-penemuan Ilmuwan...
Penemuan-penemuan Ilmuwan Muslim yang Mengubah Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved