Tahun Musibah: Habil Terbunuh, Qabil Kawin Lari Dengan Iqlima
Rabu, 06 Mei 2020 - 15:15 WIB
loading...
A
A
A
Pada saat itu, terjadi gerhana matahari. Itulah gerhana matahari pertama yang terjadi di dunia. Ats-Tsa’labi menambahkan, setelah Habil terbunuh, dalam beberapa jenis pohon tumbuh duri; rasa buah-buahan berubah, dan rasa air ada yang menjadi asin.
Ketika itu, Adam berada di tanah Hindi (India). Dia tidak mengetahui anak tercintanya (Habil) terbunuh.
Ibnu ‘Abbas ra mengatakan, setelah Qabil membunuh saudaranya, Habil, di Gunung Qasiyun, bumi menelan darahnya. Kemudian Allah bertanya kepada Qabil, “Di mana saudaramu?”
Qabil menjawab, “Saya tidak tahu.”
Maka, Allah berfirman kepadanya, “Sesungguhnya darah saudaramu mengatakan dari bumi bahwa engkau telah membunuhnya.”
Qabil bertanya, “Wahai Tuhanku, di mana darahnya?”
Maka, sejak saat itu Allah mengharamkan bumi untuk menyerap semua jenis darah.
Ketika Adam merasakan kesumpekan dalam dadanya, dia pergi ke tanah tersebut untuk mengetahui apa yang telah terjadi di sana. Setelah sampai ke tempat anak-anaknya, dia tahu bahwa anaknya, Habil, telah terbunuh.
Selanjutnya, Qabil mengambil domba-domba Habil dan menikah dengan Iqlima. Ketika Adam datang kepadanya, dia kabur. Kemudian dia pindah ke tempat lain karena takut kepada bapaknya.
Ibnu ‘Abbas ra mengatakan, setelah Adam merasa yakin anaknya telah terbunuh, dia menangis. Begitu juga Hawa. Ketika telah mengetahui kejadian itu, dia berteriak. Dan tahun itu menjadi tahun musibah bagi anak-anak mereka. Adam meratapi anaknya dengan syair berikut:
Negeri dan orang yang ada di atasnya telah berubah,
sebab permukaan bumi berdebu dan jelek.
Semua yang berasa dan berwarna berubah,
dan keceriaan wajah yang manis berkurang.
Bagaimana aku tidak meratapi darah yang tertumpah,
sementara mata tidak bisa tidur dan terluka.
Qabil telah membunuh Habil, saudaranya.
Oh, betapa malangnya wajah yang tampan.
Inilah syair yang pertama kali digubah di muka bumi. Para pakar sejarah sepakat akan kebenaran syair tersebut dari Adam as, kecuali Syaikh Abu al-Faraj Ibn al-Jauzi. Menurutnya, Adam tidak pernah melantunkan syair. Salah satu bukti yang menguatkannya adalah bahwa Adam itu termasuk orang yang menggunakan bahasa Suryani.
Seandainya benar syair tersebut berasal dari Adam, maka sebetulnya bait-bait syair tersebut adalah kalimat-kalimat Suryani, dan kemudian diarabkan menjadi bait-bait syair. (Baca juga: Jibril Mengajari Adam Bertani dan Mengolah Gandum Menjadi Roti )
Ketika itu, Adam berada di tanah Hindi (India). Dia tidak mengetahui anak tercintanya (Habil) terbunuh.
Ibnu ‘Abbas ra mengatakan, setelah Qabil membunuh saudaranya, Habil, di Gunung Qasiyun, bumi menelan darahnya. Kemudian Allah bertanya kepada Qabil, “Di mana saudaramu?”
Qabil menjawab, “Saya tidak tahu.”
Maka, Allah berfirman kepadanya, “Sesungguhnya darah saudaramu mengatakan dari bumi bahwa engkau telah membunuhnya.”
Qabil bertanya, “Wahai Tuhanku, di mana darahnya?”
Maka, sejak saat itu Allah mengharamkan bumi untuk menyerap semua jenis darah.
Ketika Adam merasakan kesumpekan dalam dadanya, dia pergi ke tanah tersebut untuk mengetahui apa yang telah terjadi di sana. Setelah sampai ke tempat anak-anaknya, dia tahu bahwa anaknya, Habil, telah terbunuh.
Selanjutnya, Qabil mengambil domba-domba Habil dan menikah dengan Iqlima. Ketika Adam datang kepadanya, dia kabur. Kemudian dia pindah ke tempat lain karena takut kepada bapaknya.
Ibnu ‘Abbas ra mengatakan, setelah Adam merasa yakin anaknya telah terbunuh, dia menangis. Begitu juga Hawa. Ketika telah mengetahui kejadian itu, dia berteriak. Dan tahun itu menjadi tahun musibah bagi anak-anak mereka. Adam meratapi anaknya dengan syair berikut:
Negeri dan orang yang ada di atasnya telah berubah,
sebab permukaan bumi berdebu dan jelek.
Semua yang berasa dan berwarna berubah,
dan keceriaan wajah yang manis berkurang.
Bagaimana aku tidak meratapi darah yang tertumpah,
sementara mata tidak bisa tidur dan terluka.
Qabil telah membunuh Habil, saudaranya.
Oh, betapa malangnya wajah yang tampan.
Inilah syair yang pertama kali digubah di muka bumi. Para pakar sejarah sepakat akan kebenaran syair tersebut dari Adam as, kecuali Syaikh Abu al-Faraj Ibn al-Jauzi. Menurutnya, Adam tidak pernah melantunkan syair. Salah satu bukti yang menguatkannya adalah bahwa Adam itu termasuk orang yang menggunakan bahasa Suryani.
Seandainya benar syair tersebut berasal dari Adam, maka sebetulnya bait-bait syair tersebut adalah kalimat-kalimat Suryani, dan kemudian diarabkan menjadi bait-bait syair. (Baca juga: Jibril Mengajari Adam Bertani dan Mengolah Gandum Menjadi Roti )
(mhy)
Lihat Juga :