Santri Sebagai Agen Perubahan, Mereka Itu Istimewa!

Selasa, 20 Oktober 2020 - 21:19 WIB
loading...
Santri Sebagai Agen...
Imam Shamsi Ali, Direktur/Imam Jamaica Muslim Center. Foto/Ist
A A A
Imam Shamsi Ali
Imam/Direktur Jamaica Muslim Center
Presiden Nusantara Foundation

Satu hal yang akan diingat oleh sejarah di negeri tercinta adalah bahwa di negeri ini ada satu hari yang diperingati sebagai Hari Santri . Konon ini jadi bagian dari perjuangan teman-teman Nahdlatul Ulama (NU) yang pada akhirnya diterima dan ditetapkan oleh pemerintah dengan sebuah Kepres.

Usaha ditetapkannya Hari Santri ini mengingatkan saya bagaimana lika-liku perjuangan kami komunitas Muslim di Kota New York memperjuangkan ditetapkannya Idul Fitri dan Idul Adha sebagai Hari Libur di Kota New York. Perjuangan itu memakan waktu kurang lebih tujuh tahun. Hingga pada akhirnya ketika Bill de Blasio, terpilih menjadi Wali Kota New York kami berhasil meyakinkan beliau. (Baca Juga: Menuntut Ilmu Memang Sulit, Ini Nasehat Imam Al-Bukhari )

Perjuangan kami cukup panjang. Sejak saat Michael Bloomberg sebagai wali kota kami telah melakukan pendekatan itu. Setelah berhasil meloloskan resolusi dukungan DPRD New York, kami mendesak wali kota untuk menanda tangani Resolusi itu untuk menjadi UU di Kota New York. Sayang hingga akhir tugasnya sebagai walikota New York, Michael Bloomberg gagal meresmikan Id sebagai hari libur Kota New York.

Hingga ketika calon wali kota Bill de Blasio meminta dukungan pada pilkada ketika itu, kami mengikat dukungan itu dengan komitmen Walikota nantinya untuk meresmikan Id sebagai hari libur. Beliau setuju dan jadilah Idul Fitri dan Idul Adha sebagai hari libur di Kota New York.

Benar tidaknya tentang proses penetapan Hari Santri ini sebagai bagian dari konsesi dukung mendukung ketika itu, pastinya memang kita tidak bisa lepas dari koneksi politik itu. Dan bagi saya itu sah-sah saja. Di situlah harusnya salah satu makna jihad di jalan politik. Maka ormas Islam memang harusnya menjadi bagian dari perjalanan atau proses itu. Memperjuangkan kepentingan umat lewat proses-proses politik tanpa berpolitik.

Sebagai santri, saya sendiri tentunya bangga bahwa pada akhirnya santri mendapat pengakuan resmi. Saya katakan resmi karena sesungguhnya pengakuan bangsa ini kepada santri menjadi bagian dari kesyukuran dan paham sejarah negeri. Bahwa santri tidak akan bisa dipisahkan dari sejarah perjalanan besar bangsa ini. (Baca Juga: Kemenag Gelontorkan Rp2,599 Triliun untuk 21.173 Pesantren )

Santri itu Pilihan dan Mutamayyiz (Istimewa)
Di masa lalu ada semacam persepsi yang terbangun seolah anak-anak yang disekolahkan di pesantren itu adalah pembuangan. Artinya hanya mereka yang tidak lolos masuk negeri yang dimasukkan ke pesantren . Maka pesantren misalnya identik dengan anak-anak nakal seperti saya.

Persepsi ini saya yakin dengan sendirinya telah bergeser atau tergeser oleh realita bahwa ternyata santri itu memikiki potensi dan kapabilitas yang tidak kurang, bahkan tidak mustahil lebih dari tamatan sekolah-sekolah lainnya.

Santri-santriyah itu memiliki 'azam (keinginan yang kuat) yang terbangun di atas kepribadian yang mandiri. Seseorang tidak akan bertahan dan berhasil di pesantren kecuali dengan keinginan yang solid dan matang. Hal itu karena situasi pesantren yang menuntut (demanding) dalam segala hal.

Santri santriyah juga selama di pesantren tidak saja belajar keilmuan (tholab al-'ilm). Justru yang mereka pelajari di pesantren itu adalah bagaimana hidup (life training atau latihan hidup). Mereka belajar hidup sebagai manusia yang independen, disiplin, dan tentunya dengan tatapan masa depan yang besar dan optimisme.

Salah satu pesan kiyai saya dulu di pondok, KH Abdul Djabbar Ashiry, di saat saya pamit ke luar negeri untuk sekolah adalah belajar hidup ini. Dalam bahasa Arab yang tertata rapih dan fasih beliau mengatakan: "Nak, kamu itu di pesantren ini tidak saja telah menimbah ilmu. Tapi kamu telah belajar hidup. Di mana saja kamu berada niscaya kamu siap untuk hidup".

Santri itu juga bermental baja. Dunia yang semakin kejam dengan persaingan yang semakin ketat hanya akan bisa ditaklukkan dengan mentalitas baja. Manusia yang bermental kerupuk akan hancur berkeping dilabrak pergerakan dan perubahan, serta ragam tantangannya yang semakin kompleks.

Di pesantrenlah santri-santriyah ditempa untuk berani, percaya diri dan tidak minder (rendah diri). Mereka tumbuh tetap dalam ketawadhuan. Tapi memiliki keberanian dan percaya diri yang tinggi untuk mengambil bagian dari perubahan dan tantangan hidup yang ada.

Santri-santriyah juga adalah sosok yang menggabungkan antara antara dua kekuatan dan modal hidup manusia besar dan hebat. Kedua kekuatan dan modal hidup itu adalah kekuatan intellectual (akal) dan kekuatan spiritual (hati). Dengan dua kekuatan ini mereka menjadi manusia "Ulul Albaab" yang siap menundukkan dunia dan tantangannya.

Di sinilah kita lihat partisipasi dan keterlibatan para santri-santriyah dalam segala kini kehidupan manusia. Baik itu pada tataran personal maupun publik. Mereka menjadi politisi, pebisnis, dan ragam profesi lainnya dengan kedua kekuatan tersebut. Kuat akal dan kuat hati. Maka mereka tidak mudah tertipu (karena berakal) dan juga (harusnya) terjaga dari menipu (karena punya hati).

Tentu banyak keunikan atau keistimewaan santri-santriyah itu. Tapi satu hal yang tak kalah pentingnya adalah bahwa santri-santriyah itu adalah agen-agen perubahan (al-amiruuna bil-ma’ruf wa an-naahuuna an-almunkar). Dengan modal dan kekuatan akal dan spiritualitas, yang didukung oleh mental baja tadi, mereka siap mengarungi bahtera kehidupan ini dengan segala dinamikanya.

Tapi ada satu hal terpenting dari semua itu. Bahwa santri-santriyah dengan segala perubahan dunia yang "deeply challenging" (penuh tantangan) tidak mengalami goncangan dan tidak pula terombang-ambing oleh goncangan kehidupan.

Sebaliknya justru santri-santriyah menjadi "backbone" (tulang punggung) perubahan ke arah perubahan yang lebih baik (positive change). Karakter perubahan yang ada pada santri-santriyah ini yang dikenal dalam agama sebagai karakter “amar ma’ruf nahi munkar”.

Dan karenanya dalam dunai yang saat ini dikenal sebagai dunia global yang tantangannya semakin besar, serta perubahan yang ada semakin cepat, santri-santriyah diharapkan selalu berada di garda depan untuk menjadi agen perubahan, dan bukan justru obyek dan korban dari perubahan-perubahan yang terjadi. (Baca Juga: Hari Santri, Kemenag Ajak Youtuber Milenial Serukan Islam Melalui Shalawat )

Selamat Hari Santri!

Makassar, 20 Oktober 2020
Alumni Pesantren Muhammadiyah Darul-Arqam Gombara & Presiden Nusantara Foundation USA
(rhs)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Kemenag Siap Kirimkan...
Kemenag Siap Kirimkan Imam dan Santri Berprestasi Program Beasiswa ke Turki
Profil Ustaz Muchtar...
Profil Ustaz Muchtar Andhika, Imam Besar Masjid Al-Falah Kota Sabang yang Baru Berusia 17 Tahun
Halaqah Pesantren 2025,...
Halaqah Pesantren 2025, Ulama Kalimantan Dorong Standardisasi Pengajar Kitab Kuning
Peluncuran Buku Jihad...
Peluncuran Buku Jihad Santri Merawat Bumi: 10 Kisah Inspiratif Pengelolaan Sampah di Pesantren
Teks Doa Upacara Hari...
Teks Doa Upacara Hari Santri 2025: Lengkap Arab, Indonesia dan Terjemahan untuk Upacara yang Khidmat
Sejarah Hari Santri:...
Sejarah Hari Santri: Dari Resolusi Jihad hingga Penetapan 22 Oktober sebagai Hari Bersejarah
Rekomendasi
Fenomena Alam Unik,...
Fenomena Alam Unik, Pelangi Berbentuk Mahkota Hiasi Langit Hainan
Objek Misterius Antarbintang...
Objek Misterius Antarbintang Tertangkap Kamera Melintasi Tata Surya
Jejak Kaki Dinosaurus...
Jejak Kaki Dinosaurus Berukuran Sangat Besar Ditemukan di Inggris
Artikel Terkini
Jadwal Puasa Muharam...
Jadwal Puasa Muharam 1448 H Tahun 2026, Kapan Puasa Tasu'a dan Asyura Dilaksanakan?
Jangan Tasyabbuh dengan...
Jangan Tasyabbuh dengan Tahun Baru Masehi, Ini Adab Menyambut 1 Muharram Menurut Ulama
Bolehkah Puasa pada...
Bolehkah Puasa pada 1 Muharram? Ini Penjelasan Ulama dan Dalilnya
Doa Akhir dan Awal Tahun...
Doa Akhir dan Awal Tahun Baru Islam, Baca sebelum Maghrib Nanti!
Gus Zainul Arifin, Kiai...
Gus Zainul Arifin, Kiai Muda yang Hadirkan Dakwah Modern Tanpa Tinggalkan Tradisi
Selamat Tahun Baru Islam...
Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriyah, Berikut Keutamaan Muharram
Infografis
Tri Mumpuni, Ilmuwan...
Tri Mumpuni, Ilmuwan Muslim Indonesia Paling Berpengaruh di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved