Perang Kadisiah: Mukjizat Pasukan Muslim dan Nujum Panglima Perang Persia
Kamis, 22 Oktober 2020 - 09:15 WIB
loading...
A
A
A
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ
"Sungguh, Allah tidak akan mengubah keadaan suatu bangsa sebelum bangsa itu mengubah keadaan diri sendiri." (Quran Surat Ar-Ra’d Ayat 11)
Keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya telah mengubah jiwa kaum Muslimin, mereka dibimbing ke jalan yang benar, yang sebagai landasannya sudah berdiri sebuah peradaban yang tinggi. Maka dengan Islam mereka menjadi kuat dan mereka pun memperkuatnya. (Baca juga: Kisah Budak Taglabi yang Berhasil Membunuh Panglima Perang Persia )
Sebaliknya Persia dan Romawi, kecintaan mereka kepada kenikmatan hidup duniawi masih lebih kuat daripada prinsip-prinsip yang luhur, yang telah memberi arti dan nilai tersendiri bagi kehidupan umat manusia, dan membuat kita benar-benar menghayatinya. Sedang mereka telah diperbudak oleh kenikmatan hidup, yang dalam kenyataannya memang tak memberikan apa-apa kepada mereka.
Muslimin telah mengubah keadaan diri sendiri tatkala mereka beriman kepada Allah dan kepada Rasul-Nya. Mereka berpegang pada cita-cita luhur yang dilukiskan oleh Allah dalam ajaran-Nya kepada Nabi-Nya. (Baca juga: Sang Pembebas Irak Itu Bernama Musanna Bin Harisah )
Berkat adanya perpaduan itu kaum Muslimin telah menjadi satu umat, setiap orang dari mereka dalam umat ini sudah seperti anggota badan dalam tubuh, bukan kekuatan yang berdiri sendiri, melainkan kekuatan tubuh seluruhnya. Setiap laki-laki dan setiap perempuan sebagai anggota umat, mempunyai kekuatan yang diangkat dari cita-cita luhur itu, kemudian mendorongnya kuat-kuat untuk memasuki perjuangan mahaberat demi cita-citanya itu. Dengan itu ia dibawa ke suatu titik yang sudah tak mengenal lemah, mundur atau kalah. Malah ia lebih memilih mati sebagai pribadi terhormat daripada hidup dalam kehinaan.
Kita sudah melihat betapa lemahnya Tulaihah bin Khuwailid ketika berhadapan dengan Khalid bin Walid dalam Perang Riddah, tetapi bagaimana kemudian ia menjadi begitu kuat berhadapan dengan pasukan Persia di Kadisiah! (Baca juga: Ini Dia, Nabi Palsu yang Ditinggalkan Pengikutnya Saat Perang Berkecamuk )
Kita juga sudah melihat bagaimana Amr bin Ma'di Karib dan Asy'as bin Qais tak berdaya dalam pemberontakan mereka ketika menghadapi pasukan Muslimin, tetapi setelah itu bagaimana pula mereka mati-matian bertempur di Kadisiah yang kemudian dikenang orang demikian rupa!
Soalnya, ketika Tulaihah mendakwakan diri nabi begitu kuat, penuh semangat tetapi keimanannya lemah, maka semangat yang tinggi dengan keimanan yang lemah itu ternyata tak ada artinya.
Begitu juga Amr bin Ma'di Karib, Asy'as bin Qais dan yang lain yang pernah membangkang dan memerangi kekuasaan Muslimin. Tetapi setelah mereka kembali kepada Islam dan menjadi bagian dari umat yang bangga karena keimanannya, maka dengan keimanannya, kekuatan itu bertambah. (Baca juga: Khalid bin Walid dan Terbunuhnya Nabi Palsu Musailamah di Kebun Maut )
Bagaimana peranannya dalam Pertempuran Kadisiah sudah kita lihat, dan sesudah Kadisiah pun kepahlawanan dan kejayaannya diabadikan dalam sejarah.
Meninggalkan Kesenangan
Dalam tubuh ini kedudukan Amirulmukminin sama dengan kepala, mengatur berbagai masalah demi kebaikan semua, la meninggalkan kesenangan dengan hidup menderita demi kesejahteraan semua. Dalam hal ini Umar bin Khattab telah mengambil teladan dari Rasulullah SAW, kemudian dari Abu Bakar . Dia sendiri adalah teladan yang sangat ideal dalam hal keadilannya, keteguhan hatinya dan setiap pribadi sebagai anggota umat, lebih diutamakan daripada dirinya.
Dia lebih mengutamakan kepentingan umat daripada kepentingan perorangan. Dia berpendapat, seperlima rampasan perang Kadisiah itu lebih baik dikembalikan kepada para prajurit, maka itu pun dikembalikannya, dan memerintahkan Sa’ad bin Abi Waqqash agar melimpahkan pemberian secukupnya kepada penduduk negeri serta mengambil hati penduduk Irak yang sudah meminta maaf atas pembangkangannya terhadap pasukan Muslimin dulu. (Baca juga: Para Suami Tirulah Sikap Romantis Umar bin Khattab )
Semua itu dilaksanakan oleh Sa’ad sebagaimana mestinya. Tak ada penduduk Medinah yang marah karenanya, padahal mereka sendiri masih dalam kekurangan, sebab mereka melihat semua tindakan Amirulmukminin itu demi kebaikan Islam.
Mereka melihatnya, dalam soal-soal besar dan penting, ia mengajak mereka bermusyawarah. Apa yang baik untuk Islam baik untuk mereka. Sikap altruisme, tidak mementingkan diri sendiri, termasuk salah satu perintah Allah. Oleh karena itu mereka mendukung apa yang dilakukan Umar. Allah akan memberikan balasan kepada mereka berlipat ganda.
Inilah beberapa hikmah dan pelajaran yang dapat kita tarik dari peristiwa Kadisiah. Dengan karunia Allah juga hikmah dan pelajaran inilah yang telah mendukung berdirinya kedaulatan dan kejayaan Islam. (Bersambung)
"Sungguh, Allah tidak akan mengubah keadaan suatu bangsa sebelum bangsa itu mengubah keadaan diri sendiri." (Quran Surat Ar-Ra’d Ayat 11)
Keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya telah mengubah jiwa kaum Muslimin, mereka dibimbing ke jalan yang benar, yang sebagai landasannya sudah berdiri sebuah peradaban yang tinggi. Maka dengan Islam mereka menjadi kuat dan mereka pun memperkuatnya. (Baca juga: Kisah Budak Taglabi yang Berhasil Membunuh Panglima Perang Persia )
Sebaliknya Persia dan Romawi, kecintaan mereka kepada kenikmatan hidup duniawi masih lebih kuat daripada prinsip-prinsip yang luhur, yang telah memberi arti dan nilai tersendiri bagi kehidupan umat manusia, dan membuat kita benar-benar menghayatinya. Sedang mereka telah diperbudak oleh kenikmatan hidup, yang dalam kenyataannya memang tak memberikan apa-apa kepada mereka.
Muslimin telah mengubah keadaan diri sendiri tatkala mereka beriman kepada Allah dan kepada Rasul-Nya. Mereka berpegang pada cita-cita luhur yang dilukiskan oleh Allah dalam ajaran-Nya kepada Nabi-Nya. (Baca juga: Sang Pembebas Irak Itu Bernama Musanna Bin Harisah )
Berkat adanya perpaduan itu kaum Muslimin telah menjadi satu umat, setiap orang dari mereka dalam umat ini sudah seperti anggota badan dalam tubuh, bukan kekuatan yang berdiri sendiri, melainkan kekuatan tubuh seluruhnya. Setiap laki-laki dan setiap perempuan sebagai anggota umat, mempunyai kekuatan yang diangkat dari cita-cita luhur itu, kemudian mendorongnya kuat-kuat untuk memasuki perjuangan mahaberat demi cita-citanya itu. Dengan itu ia dibawa ke suatu titik yang sudah tak mengenal lemah, mundur atau kalah. Malah ia lebih memilih mati sebagai pribadi terhormat daripada hidup dalam kehinaan.
Kita sudah melihat betapa lemahnya Tulaihah bin Khuwailid ketika berhadapan dengan Khalid bin Walid dalam Perang Riddah, tetapi bagaimana kemudian ia menjadi begitu kuat berhadapan dengan pasukan Persia di Kadisiah! (Baca juga: Ini Dia, Nabi Palsu yang Ditinggalkan Pengikutnya Saat Perang Berkecamuk )
Kita juga sudah melihat bagaimana Amr bin Ma'di Karib dan Asy'as bin Qais tak berdaya dalam pemberontakan mereka ketika menghadapi pasukan Muslimin, tetapi setelah itu bagaimana pula mereka mati-matian bertempur di Kadisiah yang kemudian dikenang orang demikian rupa!
Soalnya, ketika Tulaihah mendakwakan diri nabi begitu kuat, penuh semangat tetapi keimanannya lemah, maka semangat yang tinggi dengan keimanan yang lemah itu ternyata tak ada artinya.
Begitu juga Amr bin Ma'di Karib, Asy'as bin Qais dan yang lain yang pernah membangkang dan memerangi kekuasaan Muslimin. Tetapi setelah mereka kembali kepada Islam dan menjadi bagian dari umat yang bangga karena keimanannya, maka dengan keimanannya, kekuatan itu bertambah. (Baca juga: Khalid bin Walid dan Terbunuhnya Nabi Palsu Musailamah di Kebun Maut )
Bagaimana peranannya dalam Pertempuran Kadisiah sudah kita lihat, dan sesudah Kadisiah pun kepahlawanan dan kejayaannya diabadikan dalam sejarah.
Meninggalkan Kesenangan
Dalam tubuh ini kedudukan Amirulmukminin sama dengan kepala, mengatur berbagai masalah demi kebaikan semua, la meninggalkan kesenangan dengan hidup menderita demi kesejahteraan semua. Dalam hal ini Umar bin Khattab telah mengambil teladan dari Rasulullah SAW, kemudian dari Abu Bakar . Dia sendiri adalah teladan yang sangat ideal dalam hal keadilannya, keteguhan hatinya dan setiap pribadi sebagai anggota umat, lebih diutamakan daripada dirinya.
Dia lebih mengutamakan kepentingan umat daripada kepentingan perorangan. Dia berpendapat, seperlima rampasan perang Kadisiah itu lebih baik dikembalikan kepada para prajurit, maka itu pun dikembalikannya, dan memerintahkan Sa’ad bin Abi Waqqash agar melimpahkan pemberian secukupnya kepada penduduk negeri serta mengambil hati penduduk Irak yang sudah meminta maaf atas pembangkangannya terhadap pasukan Muslimin dulu. (Baca juga: Para Suami Tirulah Sikap Romantis Umar bin Khattab )
Semua itu dilaksanakan oleh Sa’ad sebagaimana mestinya. Tak ada penduduk Medinah yang marah karenanya, padahal mereka sendiri masih dalam kekurangan, sebab mereka melihat semua tindakan Amirulmukminin itu demi kebaikan Islam.
Mereka melihatnya, dalam soal-soal besar dan penting, ia mengajak mereka bermusyawarah. Apa yang baik untuk Islam baik untuk mereka. Sikap altruisme, tidak mementingkan diri sendiri, termasuk salah satu perintah Allah. Oleh karena itu mereka mendukung apa yang dilakukan Umar. Allah akan memberikan balasan kepada mereka berlipat ganda.
Inilah beberapa hikmah dan pelajaran yang dapat kita tarik dari peristiwa Kadisiah. Dengan karunia Allah juga hikmah dan pelajaran inilah yang telah mendukung berdirinya kedaulatan dan kejayaan Islam. (Bersambung)
(mhy)
Lihat Juga :