Bunga Mawar dari Baghdad dan Anggur
Minggu, 25 Oktober 2020 - 05:00 WIB
loading...
A
A
A
"Engkau seorang yang luar biasa optimis jika engkau berharap hidup hingga anggur itu berbuah."
"Mungkin tidak akan," jawab orang itu, "tetapi setidaknya para penggantiku akan hidup mengambil keuntungan dari pekerjaanku, sebagaimana kami semua mengambil untung dari kerja para pendahulu kita."
"Kalau begitu," jawab sang Penguasa, "apabila beberapa pohon anggur telah berbuah, bawa beberapa diantaranya kepadaku. Itu jika kedua diantara kita telah lolos dari pedang kematian yang menggantung di atas kita sepanjang waktu."
Dia pun pergi.
Beberapa tahun kemudian pohon anggur tersebut telah mulai menghasilkan buah anggur yang lezat. Orang tersebut mengisi sebuah keranjang besar dengan buah anggur pilihan dan pergi ke istana.
Sang Sultan menerimanya dan memberinya sebuah hadiah emas yang banyak.
Kabar pun segera tersiar, "Seorang petani yang tak berharga telah diberi sejumlah emas yang banyak sebagai ganti untuk sekeranjang anggur."
Seorang perempuan dungu mendengar hal ini, dengan segera mengisi sebuah keranjang dengan buah anggur miliknya dan membawanya sendiri ke penjaga istana, lantas berkata; "Aku meminta ganjaran yang sama dengan yang telah diterima laki-laki tadi pagi. Ini buah anggurku. Jika sultan memberi uang untuk buah-buahan, ini buah-buahan itu."
Kabar tersebut telah sampai kepada sang Sultan, yang kemudian menjawabnya: "Orang yang berbuat dengan meniru dan sombong menegaskan kekurangannya akan penyelidikan terhadap keadaan yang mereka coba untuk menirunya, karenanya usir dia."
Orang perempuan itu telah mengirim buah anggurnya, tetapi dia demikian jengkel karena dia tidak bersusah-susah untuk menanyakan kepada sang 'penumbuh' anggur, apa yang sesungguhnya terjadi. Baca juga: Penulis Klasik Hakim Jami' dalam Jalan Sufi Idries Shah
"Mungkin tidak akan," jawab orang itu, "tetapi setidaknya para penggantiku akan hidup mengambil keuntungan dari pekerjaanku, sebagaimana kami semua mengambil untung dari kerja para pendahulu kita."
"Kalau begitu," jawab sang Penguasa, "apabila beberapa pohon anggur telah berbuah, bawa beberapa diantaranya kepadaku. Itu jika kedua diantara kita telah lolos dari pedang kematian yang menggantung di atas kita sepanjang waktu."
Dia pun pergi.
Beberapa tahun kemudian pohon anggur tersebut telah mulai menghasilkan buah anggur yang lezat. Orang tersebut mengisi sebuah keranjang besar dengan buah anggur pilihan dan pergi ke istana.
Sang Sultan menerimanya dan memberinya sebuah hadiah emas yang banyak.
Kabar pun segera tersiar, "Seorang petani yang tak berharga telah diberi sejumlah emas yang banyak sebagai ganti untuk sekeranjang anggur."
Seorang perempuan dungu mendengar hal ini, dengan segera mengisi sebuah keranjang dengan buah anggur miliknya dan membawanya sendiri ke penjaga istana, lantas berkata; "Aku meminta ganjaran yang sama dengan yang telah diterima laki-laki tadi pagi. Ini buah anggurku. Jika sultan memberi uang untuk buah-buahan, ini buah-buahan itu."
Kabar tersebut telah sampai kepada sang Sultan, yang kemudian menjawabnya: "Orang yang berbuat dengan meniru dan sombong menegaskan kekurangannya akan penyelidikan terhadap keadaan yang mereka coba untuk menirunya, karenanya usir dia."
Orang perempuan itu telah mengirim buah anggurnya, tetapi dia demikian jengkel karena dia tidak bersusah-susah untuk menanyakan kepada sang 'penumbuh' anggur, apa yang sesungguhnya terjadi. Baca juga: Penulis Klasik Hakim Jami' dalam Jalan Sufi Idries Shah
(mhy)
Lihat Juga :