Teguran Syaikh Abdul Qadir al-Jilani: Dib-Dib yang Mengerikan
Selasa, 27 Oktober 2020 - 06:29 WIB
loading...
A
A
A
Si pencuri, ketika dia melihat orang suci berada di sisinya, berpikir bahwa akhir (hidup)-nya pasti lebih dekat daripada rasa takutnya. Mengerahkan segala kekuatannya dia berkomat-kamit:
"Perempuan tua di ujung jalan, dia memiliki Dib-Dib terkutuk, dan telah menyambarku. Tolonglah aku, jika Anda bisa, Faqih yang mulia!"
"Anakku," kata Faqih, meski dia sendiri bingung, "Pikirkan dirimu sendiri atas penyesalan dan memohon rahmat, karena saat-saat yang tersisa mungkin benar-benar tinggal beberapa."
Dia meninggalkan si pencuri dan pergi ke pondok perempuan tua yang disebutkan. Memandang dengan tajam melalui jendela, dalam jarak tertentu dia mendengar suara rengekan sebagaimana ia menggeliat dan merasa ngeri:
"Dib-Dib busuk, kau membunuhku ... Hentikan, hentikan, Dib-Dib jahat, karena kau menguras darah kehidupanku..."
Dan dia melanjutkan untuk beberapa waktu dalam nada begitu, kadang terisak-isak dan kadang diam. Faqih sendiri sekarang mulai merasa seperti jika suatu udara dingin yang mengerikan melewatinya. Dia mulai gemetar dan tangannya mencengkeram kusen jendela, giginya gemeretuk.(Baca juga: Kelompok Sufi, Ketika Kematian Bukan Kematian, dan Kamar Pinjaman )
Mendengar suara sedemikian, orang tua gila itu melompat dari tempat tidurnya dan menangkap Faqih yang ketakutan dengan tangannya.
"Apa yang kau kerjakan, laki-laki terhormat dan terpelajar, di tengah malam, mengintip orang baik-baik melalui jendela?" seru dia melengking.
"Baik, tetapi perempuan malang," suara si Faqih terputus-putus. "Aku mendengar engkau berbicara tentang Dib-Dib yang mengerikan, dan sekarang aku khawatir bahwa hal itu telah mencengkeram hatiku seperti mencengkeram milikmu, dan bahwa aku, secara-fisik dan spiritual, lenyap ..."
"Engkau luar biasa bodoh," lengking perempuan tua itu, "memikirkan bahwa untuk seluruh tahun-tahun tersebut, aku telah menghormatimu sebagai seorang alim dan bijak. Engkau mendengar orang berkata 'Dib-Dib' dan kau membayangkan bahwa hal itu akan membunuhmu! Lihat, nun di sudut sana, dan lihat apa Dib-Dib yang mengerikan itu sesungguhnya!"
Dan dia menunjuk kepada keran yang airnya menetes, yang mana sang Faqih segera menyadari bahwa kebocoran tersebut menimbulkan suara dib-dib-dib ...
Baca juga: Sependapat dengan Jimly, PKS: Faktanya Covid-19 Jadi Alasan Bajak Demokrasi
Tetapi firasat (dari langit) memiliki daya pegas. Tidak lama kemudian dia telah merasa dirinya sendiri menjadi baik secara menakjubkan dan mampu mengatasi persoalan dirinya, dan segera kembali ke rumah pencuri, karena dia harus bekerja.
"Perempuan tua di ujung jalan, dia memiliki Dib-Dib terkutuk, dan telah menyambarku. Tolonglah aku, jika Anda bisa, Faqih yang mulia!"
"Anakku," kata Faqih, meski dia sendiri bingung, "Pikirkan dirimu sendiri atas penyesalan dan memohon rahmat, karena saat-saat yang tersisa mungkin benar-benar tinggal beberapa."
Dia meninggalkan si pencuri dan pergi ke pondok perempuan tua yang disebutkan. Memandang dengan tajam melalui jendela, dalam jarak tertentu dia mendengar suara rengekan sebagaimana ia menggeliat dan merasa ngeri:
"Dib-Dib busuk, kau membunuhku ... Hentikan, hentikan, Dib-Dib jahat, karena kau menguras darah kehidupanku..."
Dan dia melanjutkan untuk beberapa waktu dalam nada begitu, kadang terisak-isak dan kadang diam. Faqih sendiri sekarang mulai merasa seperti jika suatu udara dingin yang mengerikan melewatinya. Dia mulai gemetar dan tangannya mencengkeram kusen jendela, giginya gemeretuk.(Baca juga: Kelompok Sufi, Ketika Kematian Bukan Kematian, dan Kamar Pinjaman )
Mendengar suara sedemikian, orang tua gila itu melompat dari tempat tidurnya dan menangkap Faqih yang ketakutan dengan tangannya.
"Apa yang kau kerjakan, laki-laki terhormat dan terpelajar, di tengah malam, mengintip orang baik-baik melalui jendela?" seru dia melengking.
"Baik, tetapi perempuan malang," suara si Faqih terputus-putus. "Aku mendengar engkau berbicara tentang Dib-Dib yang mengerikan, dan sekarang aku khawatir bahwa hal itu telah mencengkeram hatiku seperti mencengkeram milikmu, dan bahwa aku, secara-fisik dan spiritual, lenyap ..."
"Engkau luar biasa bodoh," lengking perempuan tua itu, "memikirkan bahwa untuk seluruh tahun-tahun tersebut, aku telah menghormatimu sebagai seorang alim dan bijak. Engkau mendengar orang berkata 'Dib-Dib' dan kau membayangkan bahwa hal itu akan membunuhmu! Lihat, nun di sudut sana, dan lihat apa Dib-Dib yang mengerikan itu sesungguhnya!"
Dan dia menunjuk kepada keran yang airnya menetes, yang mana sang Faqih segera menyadari bahwa kebocoran tersebut menimbulkan suara dib-dib-dib ...
Baca juga: Sependapat dengan Jimly, PKS: Faktanya Covid-19 Jadi Alasan Bajak Demokrasi
Tetapi firasat (dari langit) memiliki daya pegas. Tidak lama kemudian dia telah merasa dirinya sendiri menjadi baik secara menakjubkan dan mampu mengatasi persoalan dirinya, dan segera kembali ke rumah pencuri, karena dia harus bekerja.
Lihat Juga :