Raja Persia Melarikan Diri, Sa'ad bin Abi Waqqash Duduki Istana
Jum'at, 30 Oktober 2020 - 14:20 WIB
loading...
A
A
A
Itu sebabnya di sini terdapat sebuah koloni besar terdiri atas orang-orang Yahudi, juga orang-orang Nasrani setelah pindah ke Syam kemudian berimigrasi ke mari.
Mengingat kota-kota di Mesopotamia itu bertetangga dengan tanah Arab, yang juga bertetangga dengan Persia, banyak kabilah Semenanjung itu yang berimigrasi, menetap dan bertempat tinggal di sana. (Baca juga: Pasukan Muslim Kepung Kota Bahrasir, Ajakan Damai Raja Persia Ditolak )
Ketika pasukan Muslimin menyerbu Mesopotamia, kawasan ini sudah biasa mereka sebut Irak dan tidak pernah menyebut nama lain. Kemudian kawasan di antara Sungai Tigris-Furat dan sekitarnya mereka namakan as-Sawad. Untuk membedakan Irak ini dengan Irak-Ajam, oleh para sejarawan yang satu diberi nama 'al-'Iraq al-'arabi' (Irak- Arab) dan yang lain 'al-'Iraq al-'ajami' (Irak-Persia).
Sifat tanah kedua Irak ini sangat berbeda sekali. Irak-Arab merupakan dataran yang dialiri kedua sungai itu, di sana sini tersebar sungai-sungai kecil, anak-anak sungai dan kolam-kolam, sehingga sebagian tampak hijau segar dan subur oleh buah-buahan. Di ujung timur sampai di gunung dengan puncaknya yang tinggi yang memisahkannya dari Irak-Ajam, di belakang berturut-turut pegunungan dan lembah-lembah sampai ke dataran Iran.
Gunung ini memang merupakan penyekat alam yang kukuh sekali, memisahkan Asia di bagian timur jauh dari negeri-negeri Asia yang terletak di bagian barat, dan yang karenanya pula lebih banyak berhubungan dengan bangsa-bangsa yang ada di sekitar Laut Tengah (Mediterania) di Afrika dan Eropa daripada dengan negeri-negeri tetangga di Timur. (Baca juga: Pasukan Muslim Merangsek ke Ibu Kota, Sejumlah Komandan Kompi Persia Tewas )
Pengaruh letak geografis inilah yang memungkinkan kabilah- kabilah Arab berimigrasi ke Irak dan Syam. Rumah-rumah ras Arab ini bertebaran dari Teluk Aden dan Samudera Indonesia di selatan sampai jauh ke utara di Irak dan Syam.
Kabilah-kabilah ini — seperti juga sejumlah besar tanah Semenanjung Arab — selama berabad-abad berada di bawah kekuasaan Persia dan Romawi.
Sekarang orang-orang Arab Semenanjung berbalik menyerang kedua kerajaan besar ini hingga mencapai Damsyik di Syam dan Mada'in di Irak, dan Sa’ad bin Abi Waqqas tinggal di Istana Kisra di ibu kota kerajaan itu. (Baca juga: Perang Kadisiah: Mukjizat Pasukan Muslim dan Nujum Panglima Perang Persia )
Sa’ad tinggal di ibu kota cantik ini sampai pasukannya berkumpul semua. Sudah tidak perlu lagi ia memburu pasukan Persia di Irak yang terbentang luas sampai ke balik Sungai Tigris, juga Umar tidak mengizinkan untuk memburu mereka. Oleh karena itu tidak lebih ia hanya mengikuti berita-berita tentang mereka dengan cermat sambil mengirim mata-mata untuk kemudian melaporkan kepadanya. (Bersambung)
Mengingat kota-kota di Mesopotamia itu bertetangga dengan tanah Arab, yang juga bertetangga dengan Persia, banyak kabilah Semenanjung itu yang berimigrasi, menetap dan bertempat tinggal di sana. (Baca juga: Pasukan Muslim Kepung Kota Bahrasir, Ajakan Damai Raja Persia Ditolak )
Ketika pasukan Muslimin menyerbu Mesopotamia, kawasan ini sudah biasa mereka sebut Irak dan tidak pernah menyebut nama lain. Kemudian kawasan di antara Sungai Tigris-Furat dan sekitarnya mereka namakan as-Sawad. Untuk membedakan Irak ini dengan Irak-Ajam, oleh para sejarawan yang satu diberi nama 'al-'Iraq al-'arabi' (Irak- Arab) dan yang lain 'al-'Iraq al-'ajami' (Irak-Persia).
Sifat tanah kedua Irak ini sangat berbeda sekali. Irak-Arab merupakan dataran yang dialiri kedua sungai itu, di sana sini tersebar sungai-sungai kecil, anak-anak sungai dan kolam-kolam, sehingga sebagian tampak hijau segar dan subur oleh buah-buahan. Di ujung timur sampai di gunung dengan puncaknya yang tinggi yang memisahkannya dari Irak-Ajam, di belakang berturut-turut pegunungan dan lembah-lembah sampai ke dataran Iran.
Gunung ini memang merupakan penyekat alam yang kukuh sekali, memisahkan Asia di bagian timur jauh dari negeri-negeri Asia yang terletak di bagian barat, dan yang karenanya pula lebih banyak berhubungan dengan bangsa-bangsa yang ada di sekitar Laut Tengah (Mediterania) di Afrika dan Eropa daripada dengan negeri-negeri tetangga di Timur. (Baca juga: Pasukan Muslim Merangsek ke Ibu Kota, Sejumlah Komandan Kompi Persia Tewas )
Pengaruh letak geografis inilah yang memungkinkan kabilah- kabilah Arab berimigrasi ke Irak dan Syam. Rumah-rumah ras Arab ini bertebaran dari Teluk Aden dan Samudera Indonesia di selatan sampai jauh ke utara di Irak dan Syam.
Kabilah-kabilah ini — seperti juga sejumlah besar tanah Semenanjung Arab — selama berabad-abad berada di bawah kekuasaan Persia dan Romawi.
Sekarang orang-orang Arab Semenanjung berbalik menyerang kedua kerajaan besar ini hingga mencapai Damsyik di Syam dan Mada'in di Irak, dan Sa’ad bin Abi Waqqas tinggal di Istana Kisra di ibu kota kerajaan itu. (Baca juga: Perang Kadisiah: Mukjizat Pasukan Muslim dan Nujum Panglima Perang Persia )
Sa’ad tinggal di ibu kota cantik ini sampai pasukannya berkumpul semua. Sudah tidak perlu lagi ia memburu pasukan Persia di Irak yang terbentang luas sampai ke balik Sungai Tigris, juga Umar tidak mengizinkan untuk memburu mereka. Oleh karena itu tidak lebih ia hanya mengikuti berita-berita tentang mereka dengan cermat sambil mengirim mata-mata untuk kemudian melaporkan kepadanya. (Bersambung)
(mhy)
Lihat Juga :