Penaklukan Persia (27)

Raja Persia Melarikan Diri, Sa'ad bin Abi Waqqash Duduki Istana

loading...
Raja Persia Melarikan Diri, Saad bin Abi Waqqash Duduki Istana
Ilustrasi/Ist
SA'AD bin Abi Waqqash tinggal di Istana Kisra dan pasukan Muslimin yang lain menempati gedung-gedung di sekitar Istana itu menikmati segala kesenangan yang ada di situ. Tentu saja mereka hidup senang. (Baca juga: Kemenangan Muslim, Berakhirnya Kekaisaran Kisra dan Rampasan Perang yang Tak Ternilai)

Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Umar bin Khattab" memaparkan mereka sudah mendapat bagian rampasan perang yang akan cukup untuk hidup beberapa tahun. Bahan makanan yang akan didatangkan dari daerah-daerah berdekatan pun cukup banyak dan mudah. Air di Sungai Tigris yang mengalir lancar akan membuat mereka lupa daerah pedalaman yang hanya ditimbuni pasir.

Jembatan yang menghubungkan Seleusia dengan Ctesiphon membuat kedua kota yang indah ini sebagai tempat rekreasi bagi mereka yang hidup bermewah-mewah, layak sekali akan memberi ilham kepada penyair Arab. (Baca juga: Kemenangan Muslim, Berakhirnya Kekaisaran Kisra dan Rampasan Perang yang Tak Ternilai)

Adakalanya orang berkumpul dan bertemu dengan Sa’ad di Istana Kisra itu. Dengan kalangan yang mempunyai pengetahuan, Sa’ad berbicara tentang sejarah daerah-daerah itu. Sa’ad misalnya mengatakan tentang daerah itu masa dahulu sebagai pusat kebudayaan dunia, dan mereka menanggapi.

Di berbagai tempat di kawasan itu berdiri kerajaan-kerajaan Babilonia, Asiria dan Kaldea. Kerajaan-kerajaan itu ada yang bertahan, ada juga yang tiba-tiba muncul kemudian ditinggalkan.



Jauh di masa silam, nama Mesopotamia ("Antara Dua Sungai") juga sudah dipakai nama untuk daerah-daerah ini — nama yang sudah dipakai sejak masa Firaun lama, tatkala kedaulatan Mesir membentang jauh ke sana.

Sesudah masa kekuasaan Firaun itu, nama demikian juga dikenal ketika kawasan ini berada di bawah kekuasaan Yunani. Tidak heran bilamana nama ini bertahan sampai sekarang, yang melukiskan letak daerah Mesopotamia itu, dengan airnya yang mengalir memberi kemakmuran ke kawasan itu. (Baca juga: Mukzijat Musa di Sungai Tigris untuk Pasukan Muslim, Kaisar Persia Lari Terbirit-birit)

Irak disebut "Antara Dua Sungai" (Mesopotamia) baru sesudah berada di bawah kekuasaan Persia. Kekuatan Persia bergerak ke kawasan ini dari dataran Iran setelah kekuasaan Firaun dan Yunani dihalau dari sana. Mereka menyusuri pantai-pantai Tigris dan di seberangnya, lalu mendirikan Ctesiphon sebagai ibu kota kerajaannya.



Dari sana dan dari ketujuh kota di sekitarnya serta Seleusia Yunani yang berdiri sendiri dibangunlah kota "al-Mada'in" ang keagungannya, luas kekuasaannya, kekayaannya yang melimpah serta kemakmuran rakyatnya, selama berabad-abad menjadi kebanggaan sejarah. Kalau kota-kota di Mesopotamia itu berbatasan dengan 'al-Iraq al- Ajami' (Irak-Persia), nama yang lebih umum dipakai di sini ialah Persia, dan mereka menganggapnya sebagian dari Persia, sama dengan Seleusia yang mereka dianggap sebagian dari Ctesiphon. Sejak itu nama Irak disebut menurut nama kota-kota itu. (Baca juga: Hadapi Muslim, Pasukan Persia Anggap Berperang dengan Jin)
halaman ke-1 dari 3
cover top ayah
مَنۡ كَانَ يُرِيۡدُ حَرۡثَ الۡاٰخِرَةِ نَزِدۡ لَهٗ فِىۡ حَرۡثِهٖ‌ۚ وَمَنۡ كَانَ يُرِيۡدُ حَرۡثَ الدُّنۡيَا نُؤۡتِهٖ مِنۡهَا وَمَا لَهٗ فِى الۡاٰخِرَةِ مِنۡ نَّصِيۡبٍ
Barangsiapa menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya dan barangsiapa menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian darinya (keuntungan dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian di akhirat.

(QS. Asy-Syura:20)
cover bottom ayah
TULIS KOMENTAR ANDA!
preload video