Seruan Syaikh As-Sudais Terkait Karikatur Nabi Muhammad

loading...
Seruan Syaikh As-Sudais Terkait Karikatur Nabi Muhammad
Pimpinan Umum Urusan Masjidil Haram dan Masjid An-Nabawi Syaikh Dr Abdul Rahman bin Abdul Aziz as-Sudais (Syaikh As-Sudais). Foto/Ist
Pimpinan Umum Urusan Masjidil Haram dan Masjid An-Nabawi Syaikh Dr Abdul Rahman bin Abdul Aziz as-Sudais (Syaikh As-Sudais) menyampaikan seruan terkait penistaan terhadap Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم. Seruan ini disampaikannya dari Mimbar Jumat Masjidil Haram Makkah, 13 Rabiul Awal 1442 Hijriyah (30/10/2020).

"Dan sesungguhnya kami melancarkan dari mimbar yang mulia ini-mimbar kebaikan, kebenaran dan perdamaian. Seruan yang tulus secara global kepada seluruh dunia di segala penjuru agar berhias dengan akhlak Nabi mulia shallallahu 'alaihi wasallam, penyeru kepada perdamaian yang menyeluruh. Kasih sayang yang sempurna antara pengikut syariat yang berbeda-beda tanpa menyakiti atau berselisih, atau mengeluarkan ejekan atau makian terhadap semua simbol agama, khususnya pribadi para Nabi yang suci shalawatullahi 'alaihim ajma'in," kata Syaikh As-Sudais.

(Baca Juga: Presiden Macron Hina Umat Islam, MUI Serukan Boikot Produk Prancis)

Allah Ta'ala berfirman:



لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِۦ ۚ

"Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari Rasul-Rasul-Nya." [QS Al-Baqarah: 285]

"Sesungguhnya kami atas nama satu miliar delapan ratus juta orang Islam mengecam dengan tegas dan menentang dengan keras pernyataan yang bertindak lalim terhadap kedudukan kenabian dan risalah, khususnya penutup mereka, Nabi petunjuk dan rahmat, pemimpin dan Nabi kitaMuhammad shallallahu 'alaihi wasallam," tegas Syaikh as-Sudais yang dikenal sebagai Imam besar Masjidil Haram itu.



Syaikh Sudaismenegaskan, tidaklah karikatur penghinaan dan aksi buruk kecuali bagian dari terorisme dan radikalisme yang mengobarkan kebencian, dan rasisme yang amat dibenci. Kebebasan berekpresi bukan dengan mengarahkan penghinaan atau olokan terhadap kesucian dan simbol agama. Tetapi ia adalah pelanggaran terhadap etika dan adat istiadat dan ditolak atas pelakunya. Karena kebebasan berpendapat semestinya menjaga nilai-nilai kemanusiaan yang menghargai perasaan orang lain. Dan jika hal itu menyimpang dari nilai-nilai tersebut, maka sesungguhnya ia merusak pengertian moral bagi kebebasan.
halaman ke-1 dari 4
cover top ayah
وَقَدۡ نَزَّلَ عَلَيۡكُمۡ فِى الۡـكِتٰبِ اَنۡ اِذَا سَمِعۡتُمۡ اٰيٰتِ اللّٰهِ يُكۡفَرُ بِهَا وَيُسۡتَهۡزَاُبِهَا فَلَا تَقۡعُدُوۡا مَعَهُمۡ حَتّٰى يَخُوۡضُوۡا فِىۡ حَدِيۡثٍ غَيۡرِهٖۤ‌ ‌ ۖ اِنَّكُمۡ اِذًا مِّثۡلُهُمۡ‌ؕ اِنَّ اللّٰهَ جَامِعُ‌‌‌الۡمُنٰفِقِيۡنَ وَالۡكٰفِرِيۡنَ فِىۡ جَهَـنَّمَ جَمِيۡعَا
Dan sungguh, Allah telah menurunkan (ketentuan) bagimu di dalam Kitab (Al-Qur'an) bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk bersama mereka, sebelum mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena (kalau tetap duduk dengan mereka), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sungguh, Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di neraka Jahanam,

(QS. An-Nisa:140)
cover bottom ayah
TULIS KOMENTAR ANDA!
preload video