Membangun Kota Kufah, Khalifah Umar Tegur Keras Sa'ad Bin Abi Waqqash
Senin, 09 November 2020 - 13:39 WIB
loading...
A
A
A
Mereka mengutus orang kepada Khalifah Umar untuk menyampaikan berita kebakaran dan sekaligus meminta izin akan mendirikan rumah-rumah dari batu bata. Umar pun mengizinkan dengan mengatakan: "Lakukanlah tetapi jangan ada yang melebihi tiga bilik, dan dalam membangun jangan saling berlomba. Berpeganglah pada kebiasaan, seperti yang sudah ditentukan oleh negara."
Sama seperti rumah-rumah yang dibangun di Kufah, sekarang mereka mendirikan demikian. Kedudukan kota ini menyaingi Hirah, sehingga ibu kota Banu Lakhm itu mirip sebuah desa yang berdiri di samping kota yang dalam beberapa tahun kemudian telah menjadi sebuah ibu kota penting dalam sejarah Islam.
Sa’ad sudah menetap di Kufah. Di gedung itu ditambah sebuah pintu ke pelampang, karena keributan orang di pasar mengganggu pembicaraan. Ada orang yang menuduh bahwa Sa’ad memerintahkan kepada ahli bangunannya: Redamlah suara itu dari tempatku.
Berita ini sampai juga kepada Umar, dan orang menamakan rumah itu Istana Sa’ad. Umar menugaskan Muhammad bin Maslamah ke Kufah dengan pesan: "Pergilah ke istana itu dan bakarlah pintunya, kemudian kembalikanlah seperti yang semula." (Baca juga: Raja Persia Melarikan Diri, Sa'ad bin Abi Waqqash Duduki Istana )
Sesampainya di Kufah Ibn Maslamah menyampaikan berita itu kepada Sa’ad. la meminta Ibn Maslamah datang, tetapi ia menolak masuk ke dalam gedung itu. Sa’ad datang menemuinya dan menawarkan bantuan nafkah kepadanya, tetapi ditolak dan hanya menyodorkan surat Umar yang isinya:
"Saya mendapat berita bahwa Anda telah membangun sebuah istana yang sekaligus dijadikan benteng dan diberi nama Istana Sa’ad, dan jarak antara Anda dengan rakyat dipasang pintu. Itu bukanlah istana Anda, tetapi itulah istana celaka. Pindahlah ke rumah yang di sebelah baitulmal dan tutuplah, dan janganlah ada pintu ke istana yang akan merintangi orang masuk dan menghilangkan hak-hak mereka, dan sesuaikan tempat pertemuanmu dengan jalan keluar dari rumah Anda."
Sesudah membaca isi surat itu Sa’ad bersumpah bahwa ia tak pernah melakukan seperti yang katakan itu. Ibn Maslamah dapat menerima kebenaran sumpahnya. Ia kembali pulang dan menyampaikan semua berita itu kepada Umar. "Mengapa tidak Anda terima dari Sa’ad?!" tanya Umar.
"Kalau Anda setuju tentu Anda tulis atau mengizinkan saya melakukan itu."
Dalam hal ini Umar menjawab: "Orang yang paling sempurna pendapatnya, kalau tak ada suatu pesan yang dibawanya ia akan mengambil keputusan sendiri atau memberikan pendapatnya tanpa harus mengelak."
Tetapi Amirulmukminin dapat memaafkan Sa’ad dan membenarkan tindakannya itu. (Baca juga: Kemenangan Muslim, Berakhirnya Kekaisaran Kisra dan Rampasan Perang yang Tak Ternilai )
Sama seperti rumah-rumah yang dibangun di Kufah, sekarang mereka mendirikan demikian. Kedudukan kota ini menyaingi Hirah, sehingga ibu kota Banu Lakhm itu mirip sebuah desa yang berdiri di samping kota yang dalam beberapa tahun kemudian telah menjadi sebuah ibu kota penting dalam sejarah Islam.
Sa’ad sudah menetap di Kufah. Di gedung itu ditambah sebuah pintu ke pelampang, karena keributan orang di pasar mengganggu pembicaraan. Ada orang yang menuduh bahwa Sa’ad memerintahkan kepada ahli bangunannya: Redamlah suara itu dari tempatku.
Berita ini sampai juga kepada Umar, dan orang menamakan rumah itu Istana Sa’ad. Umar menugaskan Muhammad bin Maslamah ke Kufah dengan pesan: "Pergilah ke istana itu dan bakarlah pintunya, kemudian kembalikanlah seperti yang semula." (Baca juga: Raja Persia Melarikan Diri, Sa'ad bin Abi Waqqash Duduki Istana )
Sesampainya di Kufah Ibn Maslamah menyampaikan berita itu kepada Sa’ad. la meminta Ibn Maslamah datang, tetapi ia menolak masuk ke dalam gedung itu. Sa’ad datang menemuinya dan menawarkan bantuan nafkah kepadanya, tetapi ditolak dan hanya menyodorkan surat Umar yang isinya:
"Saya mendapat berita bahwa Anda telah membangun sebuah istana yang sekaligus dijadikan benteng dan diberi nama Istana Sa’ad, dan jarak antara Anda dengan rakyat dipasang pintu. Itu bukanlah istana Anda, tetapi itulah istana celaka. Pindahlah ke rumah yang di sebelah baitulmal dan tutuplah, dan janganlah ada pintu ke istana yang akan merintangi orang masuk dan menghilangkan hak-hak mereka, dan sesuaikan tempat pertemuanmu dengan jalan keluar dari rumah Anda."
Sesudah membaca isi surat itu Sa’ad bersumpah bahwa ia tak pernah melakukan seperti yang katakan itu. Ibn Maslamah dapat menerima kebenaran sumpahnya. Ia kembali pulang dan menyampaikan semua berita itu kepada Umar. "Mengapa tidak Anda terima dari Sa’ad?!" tanya Umar.
"Kalau Anda setuju tentu Anda tulis atau mengizinkan saya melakukan itu."
Dalam hal ini Umar menjawab: "Orang yang paling sempurna pendapatnya, kalau tak ada suatu pesan yang dibawanya ia akan mengambil keputusan sendiri atau memberikan pendapatnya tanpa harus mengelak."
Tetapi Amirulmukminin dapat memaafkan Sa’ad dan membenarkan tindakannya itu. (Baca juga: Kemenangan Muslim, Berakhirnya Kekaisaran Kisra dan Rampasan Perang yang Tak Ternilai )
(mhy)
Lihat Juga :