Akibat Su'ul Adab kepada Guru, Simak Kisahnya
Jum'at, 27 November 2020 - 22:39 WIB
loading...
A
A
A
Si Fulan naik ke mimbar dan memulai isi ceramahnya, ia memulai dengan "Basmalah, hamdalah, shalawat kepada Nabi amma ba'du. Kemudian ia membaca sebuah ayat:
وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون(٥٦) وما أريد منهم من رزق وما أريد أن يطعمون (٥٧) إن الله هو الرزاق ذو القوت المتين (٥٨) سورة الذاريات
Ketika ingin menjelaskan ayat ini. Namun, ternyata dia terdiam seperti kayu yang berdiri tegak dan kebingungan tak mampu berbicara menjelaskan ayat tersebut.
Hingga dia duduk lima menit dia terdiam di hadapan jamaah di hadapannya dia menoleh ke jamaah dan mereka juga memandang si Fulan. Hingga akhirnya dia duduk menangis karena semua ilmu yang pernah ia hafal hilang seketika. Bahkan kitab kecil Safinatun Najah tak hafal satu kalimat pun apa lagi kitab Tuhfah yang awalnya telah dihafal .
Ketika di Ribat bagaikan unta yang sangat mahal hargaya karena mempunyai keistimewaan dan kelebihan sendiri. Jamaah yang melihatnya kaget melihat itu. Salah satu ahli ilmu di Kota Mukalla yaitu Habib Abdullah Sodiq Al-Habsyi, beliau pernah mondok mencari ilmu di Ribat Tarim selama 9 tahun beliau mengerti bahwa pasti ada sesuatu yang tidak beres dari si Fulan.
Kemudian datanglah kabar bahwa si Fulan telah isa'atul adab (berbuat kurang baik terhadap gurunya). Ia pun bertanya pada si Fulan, setelah mendengar penjelasannya, si ahli ilmu menasehati agar ia (si Fulan) minta maaf pada sang maha guru.
Memang sudah dikuasai oleh setan, ia pun enggan untuk tawadhu dan minta maaf pada sang guru . Hidupnya pun bertambah tragis, ilmunya sudah hilang dan tanpa ada keluarga yang mau menerimanya tanpa teman yang peduli pada nasibnya.
Hingga ia hidup dalam keadaan sangat miskin di pinggiran Kota Mukalla dan sehari hari menjadi penjual Arang di toko area pasar. Hingga akhir hayatnya ia hidup dalam keadaan miskin bahkan untuk sebuah kafan pun ia tak punya dan diberi sedekah oleh ahlul khair yang dermawan. Innalillahi wa inna ilaihi roji'un.
Salah satu yang mengurus jenazahnya dan memberi sumbangan kain kafan adalah Habib Abdullah Shadiq al-Habsyi. Dari kisah ini mari kita perbaiki etika kita kepada guru kita dan kepada siapapun agar tidak su'ul adab (berperangai buruk). (Baca Juga: Hati-hati Belajar Agama Tidak Akan Sempurna Tanpa Guru )
Hikmah dari Kisah di Atas
Sayyid Muhammad bin 'Alawi al-Maliki berkata :
أغضب من الطالب الذی لا یحترم أستاذه ولوکان الأستاذ صاحبه
"Aku murka terhadap penuntut (ilmu) yang tidak menghormati ustaznya, meskipun ustaz itu adalah temannya sendiri".
وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون(٥٦) وما أريد منهم من رزق وما أريد أن يطعمون (٥٧) إن الله هو الرزاق ذو القوت المتين (٥٨) سورة الذاريات
Ketika ingin menjelaskan ayat ini. Namun, ternyata dia terdiam seperti kayu yang berdiri tegak dan kebingungan tak mampu berbicara menjelaskan ayat tersebut.
Hingga dia duduk lima menit dia terdiam di hadapan jamaah di hadapannya dia menoleh ke jamaah dan mereka juga memandang si Fulan. Hingga akhirnya dia duduk menangis karena semua ilmu yang pernah ia hafal hilang seketika. Bahkan kitab kecil Safinatun Najah tak hafal satu kalimat pun apa lagi kitab Tuhfah yang awalnya telah dihafal .
Ketika di Ribat bagaikan unta yang sangat mahal hargaya karena mempunyai keistimewaan dan kelebihan sendiri. Jamaah yang melihatnya kaget melihat itu. Salah satu ahli ilmu di Kota Mukalla yaitu Habib Abdullah Sodiq Al-Habsyi, beliau pernah mondok mencari ilmu di Ribat Tarim selama 9 tahun beliau mengerti bahwa pasti ada sesuatu yang tidak beres dari si Fulan.
Kemudian datanglah kabar bahwa si Fulan telah isa'atul adab (berbuat kurang baik terhadap gurunya). Ia pun bertanya pada si Fulan, setelah mendengar penjelasannya, si ahli ilmu menasehati agar ia (si Fulan) minta maaf pada sang maha guru.
Memang sudah dikuasai oleh setan, ia pun enggan untuk tawadhu dan minta maaf pada sang guru . Hidupnya pun bertambah tragis, ilmunya sudah hilang dan tanpa ada keluarga yang mau menerimanya tanpa teman yang peduli pada nasibnya.
Hingga ia hidup dalam keadaan sangat miskin di pinggiran Kota Mukalla dan sehari hari menjadi penjual Arang di toko area pasar. Hingga akhir hayatnya ia hidup dalam keadaan miskin bahkan untuk sebuah kafan pun ia tak punya dan diberi sedekah oleh ahlul khair yang dermawan. Innalillahi wa inna ilaihi roji'un.
Salah satu yang mengurus jenazahnya dan memberi sumbangan kain kafan adalah Habib Abdullah Shadiq al-Habsyi. Dari kisah ini mari kita perbaiki etika kita kepada guru kita dan kepada siapapun agar tidak su'ul adab (berperangai buruk). (Baca Juga: Hati-hati Belajar Agama Tidak Akan Sempurna Tanpa Guru )
Hikmah dari Kisah di Atas
Sayyid Muhammad bin 'Alawi al-Maliki berkata :
أغضب من الطالب الذی لا یحترم أستاذه ولوکان الأستاذ صاحبه
"Aku murka terhadap penuntut (ilmu) yang tidak menghormati ustaznya, meskipun ustaz itu adalah temannya sendiri".
Lihat Juga :