Resep Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani Agar Dunia Mengabdi Pada Kita
Senin, 30 November 2020 - 05:00 WIB
loading...
A
A
A
Maknanya: “Segala yang ia sampaikan kepadamu berasal dari-Ku, bukan dari kediriannya, maka ikutilah.”
“Jika kau mencintai Allah ikutilah aku, maka Allah akan mencintaimu.” (QS 3:30)
Jelaslah, kata Syaikh Abdul Qadir, bahwa jalur cinta ialah mengikuti kata dan perilakunya. Nabi Suci saw bersabda: “Berupaya adalah jalanku dan beriman kepada Allah adalah keadaanku.” (Baca juga: Konsep Bersabar Menurut Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani )
Maka, kau berada di antara upaya dan keadaannya. Jika imanmu lemah, kau mesti berupaya, dan jika imanmu teguh, kau mesti menggunakan keadaanmu, yang adalah kebergantungan kepada-Nya. Allah Yang Mahakuasa lagi Mahaagung berfirman: “Dan kepada Allahlah kau mesti berharap.” “Barangsiapa beriman kepada Allah, maka Ia mencukupinya.” (QS 65:3)
“Sesungguhnya Allah mencintai mereka yang beriman kepada-Nya.” (QS 3:158)
Nah, Ia memerintahkanmu untuk senantiasa beriman kepada-Nya, sebagaimana Nabi juga diperintahkan. Nabi saw. bersabda: “Barangsiapa berbuat sesuatu yang tak kami perintahkan, maka perbuatannya itu tertolak.”
Hal ini meliputi kehidupan, kata dan perilaku. Hanya Nabilah yang dapat kita ikuti, dan hanya berdasarkan Quranlah kita berbuat. Maka, jangan menyimpang dari keduanya ini, agar kau tak binasa, dan agar hawa nafsu serta setan tak menyesatkanmu. “Jangan ikuti hawa nafsu, karena ia akan memalingkanmu dari jalan Allah.” (QS 38:26)
Adapun keselamatan terletak pada Kitabullah dan sunnah Nabi. Sedang kebinasaan terletak di luar keduanya, dan dengan pertolongan keduanya ini, hamba Allah mencapai keadaan wali, badal dan ghauts. (Baca juga: Resep Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani dalam Menempatkan Kebaikan dan Keburukan )
“Jika kau mencintai Allah ikutilah aku, maka Allah akan mencintaimu.” (QS 3:30)
Jelaslah, kata Syaikh Abdul Qadir, bahwa jalur cinta ialah mengikuti kata dan perilakunya. Nabi Suci saw bersabda: “Berupaya adalah jalanku dan beriman kepada Allah adalah keadaanku.” (Baca juga: Konsep Bersabar Menurut Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani )
Maka, kau berada di antara upaya dan keadaannya. Jika imanmu lemah, kau mesti berupaya, dan jika imanmu teguh, kau mesti menggunakan keadaanmu, yang adalah kebergantungan kepada-Nya. Allah Yang Mahakuasa lagi Mahaagung berfirman: “Dan kepada Allahlah kau mesti berharap.” “Barangsiapa beriman kepada Allah, maka Ia mencukupinya.” (QS 65:3)
“Sesungguhnya Allah mencintai mereka yang beriman kepada-Nya.” (QS 3:158)
Nah, Ia memerintahkanmu untuk senantiasa beriman kepada-Nya, sebagaimana Nabi juga diperintahkan. Nabi saw. bersabda: “Barangsiapa berbuat sesuatu yang tak kami perintahkan, maka perbuatannya itu tertolak.”
Hal ini meliputi kehidupan, kata dan perilaku. Hanya Nabilah yang dapat kita ikuti, dan hanya berdasarkan Quranlah kita berbuat. Maka, jangan menyimpang dari keduanya ini, agar kau tak binasa, dan agar hawa nafsu serta setan tak menyesatkanmu. “Jangan ikuti hawa nafsu, karena ia akan memalingkanmu dari jalan Allah.” (QS 38:26)
Adapun keselamatan terletak pada Kitabullah dan sunnah Nabi. Sedang kebinasaan terletak di luar keduanya, dan dengan pertolongan keduanya ini, hamba Allah mencapai keadaan wali, badal dan ghauts. (Baca juga: Resep Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani dalam Menempatkan Kebaikan dan Keburukan )
(mhy)
Lihat Juga :