Ummu Ma'bad dan Domba yang Diperah Rasulullah
Selasa, 15 Desember 2020 - 14:31 WIB
loading...
A
A
A
(Baca juga : Penerapan Protokol Kesehatan Kunci Rendahnya Klaster Pilkada 2020 )
Kemudian beliau memerah lagi susu domba tersebut dalam wadah hingga penuh. Setelah itu, beliau berpamitan kepada Ummu Ma’bad untuk meneruskan perjalanan. Tidak lama kemudian, suami Ummu Ma’bad tiba di kemah sambil menggiring domba-domba yang kurus kering dan berjalan tertatih-tatih karena lemah.
Ketika matanya melihat susu dalam wadah, Abu Ma’bad terbelalak. Ia bertanya dengan terheran-heran, “Dari mana engkau mendapatkan susu ini, bukankah domba-domba kita tidak ada di sini? Di kemah juga tidak ada domba yang susunya dapat diperah?”
Ummu Ma’bad menjawab, “Memang benar, demi Allah. Hanya saja, tadi ada orang yang penuh berkah yang lewat di sini. Ia berkata begini dan begini, sedangkan penampilannya begini dan begini.” Abu Ma’had berkata, “Demi Allah, aku yakin dialah orang yang sedang dicari oleh orang-orang Quraisy. Wahai Ummu Ma’bad, coba terangkan ciri-cirinya kepadaku.”
Ummu Ma’bad menjelaskan, “Dia sangat tampan, wajahnya memancarkan sinar, perawakannya sempurna, perutnya tidak besar dan kepalanya tidak kecil. Parasnya sangat gagah, bola matanya hitam dan bulu matanya memanjang. Suaranya nyaring, lehernya panjang, matanya sangat jernih, alisnya jelas dan rambut kepalanya sangat hitam. Ketika diam, dia tampak sangat berwibawa dan ketika bicara, tampak sangat menakjubkan.
(Baca juga: Aturan Baru Liburan!, Mau Terbang ke Bali Wajib PCR Test H-2 Sebelum Berangkat )
Jika dilihat dari kejauhan, maka dia tampak bersinar, dan jika dilihat dari dekat, maka dia sangat indah dan menarik. Kata-katanya enak didengar, nadanya serius, tidak terlalu pendiam dan tidak pula banyak bicara yang tidak berguna. Kata-katanya itu seperti butir-butir berlian yang tersusun rapi. Perawakannya sedang tidak terhina karena terlalu pendek dan tidak pula menyusahkan karena terlalu tinggi. Dia ibarat cabang pohon yang diapit oleh dua cabang lainnya, sehingga ia tampak yang paling indah dan paling baik di antara ketiganya. Dia ditemani oleh beberapa sahabat yang selalu menjaganya.
Jika dia berbicara, maka mereka akan mendengarkannya dengan seksama. Jika dia menyuruh, maka mereka segera mengerjakannya. Dia benar-benar disegani dan pantas menjadi pemimpin yang disenangi oleh pengikut-pengikutnya. Dia tidak suka cemberut dan tidak suka mengeluh.”
Abu Ma’bad berkata, “Demi Allah, itulah ciri-ciri orang yang sedang dicari orang-orang Quraisy, karena alasan-alasan yang telah mereka terangkan. Sebenarnya, sejak awal aku sudah tertarik dan ingin menjadi pengikutnya dan jika ada kesempatan, maka aku akan melakukannya.”
Bersamaan dengan peristiwa yang terjadi di kemah Unimu Ma’bad ini, di Makkah terdengar desas-desus yang menerangkan kejadian di kemah Ummu Ma’bad. Semua orang mendengarnya, tetapi tidak melihat siapa yang mengatakannya,
Semoga Allah, pemilik ‘Arsy, memberi balasan terbaik. Kepada dua sahabat yang singgah di kemah Ummu Ma’bad. Persinggahan dan kepergian mereka membawa kebaikan. Sungguh bahagia siapa pun yang menjadi teman Muhammad. Wahai keturunan Qushai sungguh semua tindakan kalian. Yang telah digagalkan oleh Allah tidak pantas dibalas kemuliaan
(Baca juga: Pemenjaraan Kelompok Kritis dan Kasus FPI Jadi Noda Hitam Sejarah Reformasi )
Bani Ka’ab tidak perlu gelisah dengan anak perempuan mereka. Karena kemahnya menjadi tempat singgah orang-orang mukminTanyalah saudara perempuan kalian tentang domba dan wadahnya. Karena jika kalian bertanya kepada domba, maka ia pasti bersaksi
Kemudian beliau memerah lagi susu domba tersebut dalam wadah hingga penuh. Setelah itu, beliau berpamitan kepada Ummu Ma’bad untuk meneruskan perjalanan. Tidak lama kemudian, suami Ummu Ma’bad tiba di kemah sambil menggiring domba-domba yang kurus kering dan berjalan tertatih-tatih karena lemah.
Ketika matanya melihat susu dalam wadah, Abu Ma’bad terbelalak. Ia bertanya dengan terheran-heran, “Dari mana engkau mendapatkan susu ini, bukankah domba-domba kita tidak ada di sini? Di kemah juga tidak ada domba yang susunya dapat diperah?”
Ummu Ma’bad menjawab, “Memang benar, demi Allah. Hanya saja, tadi ada orang yang penuh berkah yang lewat di sini. Ia berkata begini dan begini, sedangkan penampilannya begini dan begini.” Abu Ma’had berkata, “Demi Allah, aku yakin dialah orang yang sedang dicari oleh orang-orang Quraisy. Wahai Ummu Ma’bad, coba terangkan ciri-cirinya kepadaku.”
Ummu Ma’bad menjelaskan, “Dia sangat tampan, wajahnya memancarkan sinar, perawakannya sempurna, perutnya tidak besar dan kepalanya tidak kecil. Parasnya sangat gagah, bola matanya hitam dan bulu matanya memanjang. Suaranya nyaring, lehernya panjang, matanya sangat jernih, alisnya jelas dan rambut kepalanya sangat hitam. Ketika diam, dia tampak sangat berwibawa dan ketika bicara, tampak sangat menakjubkan.
(Baca juga: Aturan Baru Liburan!, Mau Terbang ke Bali Wajib PCR Test H-2 Sebelum Berangkat )
Jika dilihat dari kejauhan, maka dia tampak bersinar, dan jika dilihat dari dekat, maka dia sangat indah dan menarik. Kata-katanya enak didengar, nadanya serius, tidak terlalu pendiam dan tidak pula banyak bicara yang tidak berguna. Kata-katanya itu seperti butir-butir berlian yang tersusun rapi. Perawakannya sedang tidak terhina karena terlalu pendek dan tidak pula menyusahkan karena terlalu tinggi. Dia ibarat cabang pohon yang diapit oleh dua cabang lainnya, sehingga ia tampak yang paling indah dan paling baik di antara ketiganya. Dia ditemani oleh beberapa sahabat yang selalu menjaganya.
Jika dia berbicara, maka mereka akan mendengarkannya dengan seksama. Jika dia menyuruh, maka mereka segera mengerjakannya. Dia benar-benar disegani dan pantas menjadi pemimpin yang disenangi oleh pengikut-pengikutnya. Dia tidak suka cemberut dan tidak suka mengeluh.”
Abu Ma’bad berkata, “Demi Allah, itulah ciri-ciri orang yang sedang dicari orang-orang Quraisy, karena alasan-alasan yang telah mereka terangkan. Sebenarnya, sejak awal aku sudah tertarik dan ingin menjadi pengikutnya dan jika ada kesempatan, maka aku akan melakukannya.”
Bersamaan dengan peristiwa yang terjadi di kemah Unimu Ma’bad ini, di Makkah terdengar desas-desus yang menerangkan kejadian di kemah Ummu Ma’bad. Semua orang mendengarnya, tetapi tidak melihat siapa yang mengatakannya,
Semoga Allah, pemilik ‘Arsy, memberi balasan terbaik. Kepada dua sahabat yang singgah di kemah Ummu Ma’bad. Persinggahan dan kepergian mereka membawa kebaikan. Sungguh bahagia siapa pun yang menjadi teman Muhammad. Wahai keturunan Qushai sungguh semua tindakan kalian. Yang telah digagalkan oleh Allah tidak pantas dibalas kemuliaan
(Baca juga: Pemenjaraan Kelompok Kritis dan Kasus FPI Jadi Noda Hitam Sejarah Reformasi )
Bani Ka’ab tidak perlu gelisah dengan anak perempuan mereka. Karena kemahnya menjadi tempat singgah orang-orang mukminTanyalah saudara perempuan kalian tentang domba dan wadahnya. Karena jika kalian bertanya kepada domba, maka ia pasti bersaksi
Lihat Juga :