Riya, Kemaksiatan Hati yang Menghapus Amal Kebaikan
Kamis, 14 Mei 2020 - 03:19 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Ini Salah Satu Kemaksiatan Hati yang Sangat Berbahaya
Akan tetapi Allah SWT Maha Mengetahui niat-niat dan rahasia mereka. Allah menyatakan kedustaan mereka dan menunjukkan bukti-buktinya serta berfirman kepada setiap orang di antara mereka, "Sesungguhnya engkau melaksanakan ini dan itu adalah agar supaya orang mengatakan bahwa dirimu begini dan begitu."
Sesungguhnya kepalsuan dan penipuan yang dilakukan oleh manusia seperti itu terhadap sesama manusia merupakan sifat yang sangat buruk.
Lalu bagaimana halnya dengan kepalsuan yang dilakukan oleh makhluk kepada Khaliq-nya. Menurut Syaikh Yusuf Qardhawy dalam buku "Fiqih Prioritas", sesungguhnya perbuatan seperti itu lebih keji dan lebih buruk. Itulah perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang yang melakukan riya', yang berbuat untuk memperoleh pujian orang.
Dia melakukan semuanya untuk memperoleh kepuasan orang, yang bohong dan semu. Maka tidak diragukan lagi bahwa Allah SWT akan murka kepadanya dan akan mengungkapkan segala rahasia yang tersimpan di dalam hatinya kelak pada hari kiamat dan akan memasukkannya ke neraka. Tiada daya dan upaya kecuali dengan Allah SWT.
Agar kita terhindar dan terjauh dari bahaya riya, maka berikut adalah hal-hal yang harus kita lakukan.
Pertama, bermujahadah atau bersungguh-sungguh dalam badah. Setiap kali ibadah kita akan dihadiri oleh rasa riya, maka segera jauhkan keinginan tersebut dan hadirkanlah motivasi keakhiratan, ketauhidan, agar keinginan tersebut tidak hadir dalam ibadah kita. Jangan sampai riya tersebut hadir saat sebelum, saat ibadah, atau setelahnya. Jauhilah rasa tersebut agar tidak sampai pada kemurkaan Allah.
Kedua, menghilangkan penyebab riya. Yakni menghilangkan akar penyebab riya diantaranya dengan menjauhi segala sanjungan. Kita serahkan dan kembalikan sanjungan tersebut kepada Allah SWT. Jangan biarkan sanjungan tersebut membuat kita sombong dan memamerkannya kepada orang lain. Jangan sampai tertipu dengan sanjungan karena hal itu bisa membakar pahala kita.
Ketiga, memahami tujuan hidup “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS Adz Dzariyat : 56)
Allah sudah menetapkan kita hidup di dunia adalah untuk menyembah dan beribadah kepada Allah. Menjadikan Allah sebagia tempat bergantung dan hanya Allah yang paling berkuasa atas diri manusia. Untuk itu, tidak mungkin kita menyombongkan diri dan melakukan riya karena hal tersebut bertentangan dengan tujuan hidup kita.
Keempat, memahami nilai dunia. Yakni mengingat kembali bahwa dunia ini adalah sementara, maka kebahagiaan kita yang sejati adalah di akhirat. Tentu tidak berguna jika kita mengharapkan pujian, pujaan, dan kebangaan dari orang lain. Sejatinya manusia adalah makhluk lemah, dan tempat kembali kita adalah di akhirat. Maka pikirkanlah ibadah kita untuk akhirat.
Sifat pamer sangatlah tidak disukai oleh Allah SWT. Begitu pula dengan Rasulullah SAW yang amat sangat tidak menganjurkan umatnya untuk tetap bersikap rendah hati terhadap semua makhluk. Sehingga tidak ada timbul perselisihan dan rasa iri yang menyebabkan renggangnya silaturahmi antarumat Rasullullah SAW. Walallahu'alam.
Akan tetapi Allah SWT Maha Mengetahui niat-niat dan rahasia mereka. Allah menyatakan kedustaan mereka dan menunjukkan bukti-buktinya serta berfirman kepada setiap orang di antara mereka, "Sesungguhnya engkau melaksanakan ini dan itu adalah agar supaya orang mengatakan bahwa dirimu begini dan begitu."
Sesungguhnya kepalsuan dan penipuan yang dilakukan oleh manusia seperti itu terhadap sesama manusia merupakan sifat yang sangat buruk.
Lalu bagaimana halnya dengan kepalsuan yang dilakukan oleh makhluk kepada Khaliq-nya. Menurut Syaikh Yusuf Qardhawy dalam buku "Fiqih Prioritas", sesungguhnya perbuatan seperti itu lebih keji dan lebih buruk. Itulah perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang yang melakukan riya', yang berbuat untuk memperoleh pujian orang.
Dia melakukan semuanya untuk memperoleh kepuasan orang, yang bohong dan semu. Maka tidak diragukan lagi bahwa Allah SWT akan murka kepadanya dan akan mengungkapkan segala rahasia yang tersimpan di dalam hatinya kelak pada hari kiamat dan akan memasukkannya ke neraka. Tiada daya dan upaya kecuali dengan Allah SWT.
Agar kita terhindar dan terjauh dari bahaya riya, maka berikut adalah hal-hal yang harus kita lakukan.
Pertama, bermujahadah atau bersungguh-sungguh dalam badah. Setiap kali ibadah kita akan dihadiri oleh rasa riya, maka segera jauhkan keinginan tersebut dan hadirkanlah motivasi keakhiratan, ketauhidan, agar keinginan tersebut tidak hadir dalam ibadah kita. Jangan sampai riya tersebut hadir saat sebelum, saat ibadah, atau setelahnya. Jauhilah rasa tersebut agar tidak sampai pada kemurkaan Allah.
Kedua, menghilangkan penyebab riya. Yakni menghilangkan akar penyebab riya diantaranya dengan menjauhi segala sanjungan. Kita serahkan dan kembalikan sanjungan tersebut kepada Allah SWT. Jangan biarkan sanjungan tersebut membuat kita sombong dan memamerkannya kepada orang lain. Jangan sampai tertipu dengan sanjungan karena hal itu bisa membakar pahala kita.
Ketiga, memahami tujuan hidup “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS Adz Dzariyat : 56)
Allah sudah menetapkan kita hidup di dunia adalah untuk menyembah dan beribadah kepada Allah. Menjadikan Allah sebagia tempat bergantung dan hanya Allah yang paling berkuasa atas diri manusia. Untuk itu, tidak mungkin kita menyombongkan diri dan melakukan riya karena hal tersebut bertentangan dengan tujuan hidup kita.
Keempat, memahami nilai dunia. Yakni mengingat kembali bahwa dunia ini adalah sementara, maka kebahagiaan kita yang sejati adalah di akhirat. Tentu tidak berguna jika kita mengharapkan pujian, pujaan, dan kebangaan dari orang lain. Sejatinya manusia adalah makhluk lemah, dan tempat kembali kita adalah di akhirat. Maka pikirkanlah ibadah kita untuk akhirat.
Sifat pamer sangatlah tidak disukai oleh Allah SWT. Begitu pula dengan Rasulullah SAW yang amat sangat tidak menganjurkan umatnya untuk tetap bersikap rendah hati terhadap semua makhluk. Sehingga tidak ada timbul perselisihan dan rasa iri yang menyebabkan renggangnya silaturahmi antarumat Rasullullah SAW. Walallahu'alam.
(mhy)
Lihat Juga :