Adakah Jihad Perempuan di Era Kekinian?
Senin, 21 Desember 2020 - 08:52 WIB
loading...
A
A
A
Hanya saja, sulit dimungkiri bahwa Al-Qur'an juga mengaitkan makna jihad dengan peperangan, atau perjuangan fisik. Hal ini tertera pada sejumlah kata yang merujuk arti perang, yakni qital, harb, siyar dan ghazwah. ''Ini tidak terlepas dari latar belakang perkembangan Islam itu sendiri,'' tutur Zaitunah Subhan dalam buku Fiqh Pemberdayaan Perempuan.
(Baca juga: Beri Semangat Kaum Perempuan, Sri Mulyani: Hidup Enggak Selalu Beruntung )
Di sinilah kemudian jihad menjadi lebih identik dengan kaum lelaki. Bila terjadi pertempuran melawan kaum kafir, pasukan pimpinan Rasulullah hampir seluruhnya terdiri dari para pria. Lantas, di mana kedudukan kaum Muslimah? Menurutnya, saat ini paradigma kesetaraan manusia dan keadilan, telah memberikan ruang bagi perempuan untuk turut berjihad dalam ranah sosial, ekonomi, politik dan kebudayaan.
Jihad Perempuan Zaman Ini
Perihal jihadnya seorang perempuan dalam Islam, Ali Ibn Abi Thalib menjelaskan bahwa ketaatan yang baik kepada suami adalah bernilai jihad bagi perempuan. Dalam kitab “Hikam Ali Ib Abi Thalib” disebutkan:
الصلاة قربان كل تقي والحج جهاد كل ضعيف ولكل شيئ زكاة وزكاة البدن الصيام وجهاد المرأة حسن التعبل
"Salat adalah upaya mendekatkan diri bagi setiap oaring yang bertaqwa, haji adalah jihad bagi setiap orang yang lemah, segala sesuatu ada zakatnya, dan zakatnya tubuh adalah puasa, dan jihadnya seorang perempuan adalah ketaatan yang baik kepada suami".
(Baca juga: Hari ini, Jarak Jupiter dan Saturnus Sangat Dekat )
Kemudian hadis dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ
“Jika seorang wanita selalu menjaga salat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadis ini shahih)
(Baca juga: Beri Semangat Kaum Perempuan, Sri Mulyani: Hidup Enggak Selalu Beruntung )
Di sinilah kemudian jihad menjadi lebih identik dengan kaum lelaki. Bila terjadi pertempuran melawan kaum kafir, pasukan pimpinan Rasulullah hampir seluruhnya terdiri dari para pria. Lantas, di mana kedudukan kaum Muslimah? Menurutnya, saat ini paradigma kesetaraan manusia dan keadilan, telah memberikan ruang bagi perempuan untuk turut berjihad dalam ranah sosial, ekonomi, politik dan kebudayaan.
Jihad Perempuan Zaman Ini
Perihal jihadnya seorang perempuan dalam Islam, Ali Ibn Abi Thalib menjelaskan bahwa ketaatan yang baik kepada suami adalah bernilai jihad bagi perempuan. Dalam kitab “Hikam Ali Ib Abi Thalib” disebutkan:
الصلاة قربان كل تقي والحج جهاد كل ضعيف ولكل شيئ زكاة وزكاة البدن الصيام وجهاد المرأة حسن التعبل
"Salat adalah upaya mendekatkan diri bagi setiap oaring yang bertaqwa, haji adalah jihad bagi setiap orang yang lemah, segala sesuatu ada zakatnya, dan zakatnya tubuh adalah puasa, dan jihadnya seorang perempuan adalah ketaatan yang baik kepada suami".
(Baca juga: Hari ini, Jarak Jupiter dan Saturnus Sangat Dekat )
Kemudian hadis dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ
“Jika seorang wanita selalu menjaga salat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadis ini shahih)
Lihat Juga :