Mengenal Ummu Hani, Saksi Penting Sejarah Isra Miraj Nabi SAW
Rabu, 23 Desember 2020 - 15:04 WIB
loading...
Umm Hani’ adalah sosok penting dalam sejarah Islam. Dari rumahnya, di bawah atap yang menjadi langit keluarganya, sebuah kemukjizatan pernah terjadi, yakni peristiwa Isra Miraj. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Namanya memang tidak sepopuler para shahabiyah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. Tetapi Fakhitah binti Abi Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasyim, memiliki keistimewaan di mata Rasulullah. Karena ia merupakan saksi peristiwa besar yang dialami Nabi SAW yakni Isra Mi'raj.
Mengenal Fakhitah binti Abi Thalib, bisa diketahui saat membaca buku-buku hadis Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, dan Riyadhush Shalihin. Dari beberapa literatur itu, beberapa kali terlintas nama Fakhitah atau dikenal sebagai Ummu Hani’ sebagai periwayat hadis Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Ia adalah sepupu Nabi dan kakak perempuan dari dua orang laki-laki istimewa; Ali bin Abi Thalib dan Ja’far bin Abi Thalib.
(Baca juga : Hidup Mengalami Takdir Buruk, Bagaimana Menyikapinya? )
Ibunya adalah Fatimah binti Asad bin Hasyim bin Abdu Manaf. Ada juga yang meriwayatkan nama Ummu Hani’ adalah Hindun. Tapi yang populer dan banyak periwayatannya adalah Fakhitah.
Nabi Muhammad sangat mencintai sepupu-sepupunya, anak dari pamannya Abu Thalib. Ketika orang tua dan kakek Nabi wafat, sang pamanlah yang merawatnya dengan penuh kasih sayang. Nabi SAW membalas kasih sayang pamannya dengan memberi perhatian dan cinta kepada sepupu-sepupunya yang masih kecil.
(Baca juga: Selain Merupakan Sifat Para Nabi, Inilah Manfaat Dahsyat Bersyukur )
Diriwayatkan, sebelum masa kerasulan, Rasulullah pernah melamar Fakhitah. Namun Abu Thalib menolak tawaran itu. Dan menerima pinangan Hubayra bin Abi Wahb. Karena bani Makhzum, klan Hubayra, pernah menikahkan putri mereka dengan salah seorang dari kabilah Abu Thalib. Sehingga untuk menjaga hubungan baik, kabilah Abu Thalib membalas perlakuan itu. Nilai inilah yang berlaku dalam tradisi Arab kala itu.
Akhirnya Fakhitah menikah dengan Hubayra. Pasangan ini tinggal di Mekah dan dikaruniai empat orang anak. Yang tertua bernama Hani’. Karena itu Fakhitah dikenal dengan Ummu Hani’ (ibunya Hani’). Namun sayang, sang suami enggan memeluk Islam. Saat Fathu Makkah, ia lari keluar Mekah. Enggan memeluk Islam.
(Baca juga: AS Pertimbangkan Beri Kekebalan Hukum pada Putra Mahkota Arab Saudi )
Ummu Hani’ pernah menemui Rasulullah di hari penalukkan Kota Makkah. Ia menceritakan, “Aku pergi menemui Rasulullah pada tahun penaklukkan Kota Mekah. Saat itu beliau sedang mandi. Dan putrinya Fatimah menutupinya (dengan tabir). Kuucapkan salam. Beliau (di balik tabir) bertanya, ‘Siapa itu?’ ‘Aku, Ummu Hani’ binti Abi Thalib’, jawabku. ‘Marhaban Ummu Hani’, sambut beliau.
Usai mandi beliau menunaikan salat 8 rakaat dengan berbalut satu pakaian. Setelah shalat, aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, saudaraku –Ali bin Abi Thalib-, ingin membunuh seseorang yang aku lindungi, Fulan bin Hubayra’. Rasulullah bersabda, ‘Sungguh kami melindungi orang yang engkau lindungi wahai Ummu Hani’’. ‘Jika demikian jelas masalahnya’, jawab Ummu Hani’. (HR. al-Bukhari juz: 5. Hal: 2280).
(Baca juga: Kompetensi 6 Menteri Baru Jokowi Oke, Moral dan Integritas Perlu Diuji )
Ketika Ummul Mukminin Khadijah wafat, Rasulullah merasa begitu sedih. Dalam keadaan itu, beliau sering menemukan penghiburan di rumah Umm Hani’. Keluarganya mendukung dan menghiburnya saat beliau sedang berkabut duka.
Mengenal Fakhitah binti Abi Thalib, bisa diketahui saat membaca buku-buku hadis Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, dan Riyadhush Shalihin. Dari beberapa literatur itu, beberapa kali terlintas nama Fakhitah atau dikenal sebagai Ummu Hani’ sebagai periwayat hadis Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Ia adalah sepupu Nabi dan kakak perempuan dari dua orang laki-laki istimewa; Ali bin Abi Thalib dan Ja’far bin Abi Thalib.
(Baca juga : Hidup Mengalami Takdir Buruk, Bagaimana Menyikapinya? )
Ibunya adalah Fatimah binti Asad bin Hasyim bin Abdu Manaf. Ada juga yang meriwayatkan nama Ummu Hani’ adalah Hindun. Tapi yang populer dan banyak periwayatannya adalah Fakhitah.
Nabi Muhammad sangat mencintai sepupu-sepupunya, anak dari pamannya Abu Thalib. Ketika orang tua dan kakek Nabi wafat, sang pamanlah yang merawatnya dengan penuh kasih sayang. Nabi SAW membalas kasih sayang pamannya dengan memberi perhatian dan cinta kepada sepupu-sepupunya yang masih kecil.
(Baca juga: Selain Merupakan Sifat Para Nabi, Inilah Manfaat Dahsyat Bersyukur )
Diriwayatkan, sebelum masa kerasulan, Rasulullah pernah melamar Fakhitah. Namun Abu Thalib menolak tawaran itu. Dan menerima pinangan Hubayra bin Abi Wahb. Karena bani Makhzum, klan Hubayra, pernah menikahkan putri mereka dengan salah seorang dari kabilah Abu Thalib. Sehingga untuk menjaga hubungan baik, kabilah Abu Thalib membalas perlakuan itu. Nilai inilah yang berlaku dalam tradisi Arab kala itu.
Akhirnya Fakhitah menikah dengan Hubayra. Pasangan ini tinggal di Mekah dan dikaruniai empat orang anak. Yang tertua bernama Hani’. Karena itu Fakhitah dikenal dengan Ummu Hani’ (ibunya Hani’). Namun sayang, sang suami enggan memeluk Islam. Saat Fathu Makkah, ia lari keluar Mekah. Enggan memeluk Islam.
(Baca juga: AS Pertimbangkan Beri Kekebalan Hukum pada Putra Mahkota Arab Saudi )
Ummu Hani’ pernah menemui Rasulullah di hari penalukkan Kota Makkah. Ia menceritakan, “Aku pergi menemui Rasulullah pada tahun penaklukkan Kota Mekah. Saat itu beliau sedang mandi. Dan putrinya Fatimah menutupinya (dengan tabir). Kuucapkan salam. Beliau (di balik tabir) bertanya, ‘Siapa itu?’ ‘Aku, Ummu Hani’ binti Abi Thalib’, jawabku. ‘Marhaban Ummu Hani’, sambut beliau.
Usai mandi beliau menunaikan salat 8 rakaat dengan berbalut satu pakaian. Setelah shalat, aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, saudaraku –Ali bin Abi Thalib-, ingin membunuh seseorang yang aku lindungi, Fulan bin Hubayra’. Rasulullah bersabda, ‘Sungguh kami melindungi orang yang engkau lindungi wahai Ummu Hani’’. ‘Jika demikian jelas masalahnya’, jawab Ummu Hani’. (HR. al-Bukhari juz: 5. Hal: 2280).
(Baca juga: Kompetensi 6 Menteri Baru Jokowi Oke, Moral dan Integritas Perlu Diuji )
Ketika Ummul Mukminin Khadijah wafat, Rasulullah merasa begitu sedih. Dalam keadaan itu, beliau sering menemukan penghiburan di rumah Umm Hani’. Keluarganya mendukung dan menghiburnya saat beliau sedang berkabut duka.
Lihat Juga :