Begini Pendapat Ulama Soal Istighfar Sambil Terus Berbuat Dosa
Sabtu, 26 Desember 2020 - 05:00 WIB
loading...
Ilustrasi/Ist
A
A
A
TOKOH sufi Rabi'ah al Adawiah mengatakan istighfar kita butuh kepada istighfar lagi yang banyak! Jangan disangka bahwa ia mencela gerakan lidah yang sedang berzikir kepada Allah SWT. Namun ia mencela hati yang lalai. Dan kelalaian hati seperti itu butuh kepada istighfar lagi dari kelalaian itu sendiri, bukan dari gerakan lidahnya. (Baca juga: Apakah Istighfar Bermanfaat Jika Dilakukan Sambil Terus Berbuat Dosa? )
Dengan demikian, orang yang berdiam saja, tidak beristighfar dengan lidahnya, dengan demikian membutuhkan dua macam istighfar, bukan hanya satu istighfar!
Seperti inilah seharusnya dipahami pujian orang yang memuji dan celaan orang yang mencela. Jika tidak maka ia berarti tidak memahami perkataan ini, "kebaikan orang-orang biasa adalah keburukan kaum muqarrabin! Karena ini adalah masalah yang nisbi, sehingga tidak dapat dipahami secara sederhana. Oleh karenanya tidak selayaknya kita menganggap ringan ketaatan dan perbuatan buruk yang amat kecil sekalipun."
Imam Ja'far ash-Shadiq berkata: Allah SWT menyembunyikan tiga hal dari tiga hal. Menyembunyikan ridha-Nya dalam ketaatan kepada-Nya, oleh karena itu janganlah engkau cela ketaatan itu sekecil apapun, karena barangkali di situ terletak ridha Allah SWT. (Baca juga: Berikut Contoh Redaksi Doa dan Istighfar Dalam Al-Qur'an dan Sunnah Nabi )
Menyembunyikan kemarahan-Nya dari kemaksiatan terhadap-Nya, oleh karena itu janganlah engkau menganggap ringan suatu kemaksiatan sekecil apapun, karena barangkali di situ terletak kemarahan-Nya.
Dan Dia menyembunyikan wali-Nya dari sekalian hamba-hamba-Nya, oleh karena itu janganlah engkau menganggap rendah seorang hamba Allah SWT, karena barangkali dia adalah wali Allah.
Sahl bin Abdullah (at Tustary) berkata: seorang hamba dalam segala keadaan pasti membutuhkan Tuhannya, oleh karena itu ia harus memperbaiki keadaannya, yaitu dengan selalu mengembalikan kepada-Nya segala sesuatu yang diputuskan dan ditentukan untuknya. Maka jika ia bermaksiat kepada Allah SWT, hendaklah ia berkata: "wahai Rabbku tutupilah keburukanku itu".
Dan jika ia telah membebaskan diri dari maksiat, maka hendaklah ia berkata: "wahai Rabbku ampunilah dosaku!" Dan jika ia telah melakukan taubat hendaklah ia berkata: "wahai Rabbku, berikanlah aku halangan dari melakukan kemaksiatan!" Dan jika ia telah mengerjakan ketaatan hendaklah ia berkata: "wahai Rabbku terimalah amal baik saya ini!" (Baca juga: Begini Syarat-Syarat Istighfar dan Etikanya, Menurut Al-Qur'an dan Hadis )
Al-Ghazali berkata dalam kitabnya Ihya Ulumuddin : janganlah engkau menghina ketaatan sekecil apapun hingga membuat engkau tidak mengerjakannya, dan kemaksiatan sekecil apapun hingga membuat engkau tidak meninggalkannya. Seperti wanita pemintal yang malas untuk memintal benang, karena ia hanya mampu mengerjakan satu benang saja dalam satu jam, dan ia berkata: apa manfaatnya satu benang itu? dan kapan akan dapat menghasilkan satu baju?
Ia tidak menyadari bahwa seluruh baju di dunia ini diciptakan dari satu-benang dengan benang lainnya, dan seluruh dunia yang luas ini di susun dari atom-atom kecil, maka berdo'a dengan menangis dan istighfar dengan hati adalah kebaikan yang tidak akan sia-sia di sisi Allah SWT! [Dari Ihya Ulumuddin, Kitab Taubat, dikutip dengan ringkas.]
Disebutkan dalam kitab al Adzkaar dari Rabi' bin Khaitsam ia berkata, jangan engkau katakan: aku beristighfar kepada Allah SWT dan aku bertaubat kepadaNya". Karena itu dapat menjadi dosa jika ia tidak benar-benar menjalankannya. Namun katakanlah: "wahai Rabbku ampunilah daku dan berilah hamba taubat ".
Dengan demikian, orang yang berdiam saja, tidak beristighfar dengan lidahnya, dengan demikian membutuhkan dua macam istighfar, bukan hanya satu istighfar!
Seperti inilah seharusnya dipahami pujian orang yang memuji dan celaan orang yang mencela. Jika tidak maka ia berarti tidak memahami perkataan ini, "kebaikan orang-orang biasa adalah keburukan kaum muqarrabin! Karena ini adalah masalah yang nisbi, sehingga tidak dapat dipahami secara sederhana. Oleh karenanya tidak selayaknya kita menganggap ringan ketaatan dan perbuatan buruk yang amat kecil sekalipun."
Imam Ja'far ash-Shadiq berkata: Allah SWT menyembunyikan tiga hal dari tiga hal. Menyembunyikan ridha-Nya dalam ketaatan kepada-Nya, oleh karena itu janganlah engkau cela ketaatan itu sekecil apapun, karena barangkali di situ terletak ridha Allah SWT. (Baca juga: Berikut Contoh Redaksi Doa dan Istighfar Dalam Al-Qur'an dan Sunnah Nabi )
Menyembunyikan kemarahan-Nya dari kemaksiatan terhadap-Nya, oleh karena itu janganlah engkau menganggap ringan suatu kemaksiatan sekecil apapun, karena barangkali di situ terletak kemarahan-Nya.
Dan Dia menyembunyikan wali-Nya dari sekalian hamba-hamba-Nya, oleh karena itu janganlah engkau menganggap rendah seorang hamba Allah SWT, karena barangkali dia adalah wali Allah.
Sahl bin Abdullah (at Tustary) berkata: seorang hamba dalam segala keadaan pasti membutuhkan Tuhannya, oleh karena itu ia harus memperbaiki keadaannya, yaitu dengan selalu mengembalikan kepada-Nya segala sesuatu yang diputuskan dan ditentukan untuknya. Maka jika ia bermaksiat kepada Allah SWT, hendaklah ia berkata: "wahai Rabbku tutupilah keburukanku itu".
Dan jika ia telah membebaskan diri dari maksiat, maka hendaklah ia berkata: "wahai Rabbku ampunilah dosaku!" Dan jika ia telah melakukan taubat hendaklah ia berkata: "wahai Rabbku, berikanlah aku halangan dari melakukan kemaksiatan!" Dan jika ia telah mengerjakan ketaatan hendaklah ia berkata: "wahai Rabbku terimalah amal baik saya ini!" (Baca juga: Begini Syarat-Syarat Istighfar dan Etikanya, Menurut Al-Qur'an dan Hadis )
Al-Ghazali berkata dalam kitabnya Ihya Ulumuddin : janganlah engkau menghina ketaatan sekecil apapun hingga membuat engkau tidak mengerjakannya, dan kemaksiatan sekecil apapun hingga membuat engkau tidak meninggalkannya. Seperti wanita pemintal yang malas untuk memintal benang, karena ia hanya mampu mengerjakan satu benang saja dalam satu jam, dan ia berkata: apa manfaatnya satu benang itu? dan kapan akan dapat menghasilkan satu baju?
Ia tidak menyadari bahwa seluruh baju di dunia ini diciptakan dari satu-benang dengan benang lainnya, dan seluruh dunia yang luas ini di susun dari atom-atom kecil, maka berdo'a dengan menangis dan istighfar dengan hati adalah kebaikan yang tidak akan sia-sia di sisi Allah SWT! [Dari Ihya Ulumuddin, Kitab Taubat, dikutip dengan ringkas.]
Disebutkan dalam kitab al Adzkaar dari Rabi' bin Khaitsam ia berkata, jangan engkau katakan: aku beristighfar kepada Allah SWT dan aku bertaubat kepadaNya". Karena itu dapat menjadi dosa jika ia tidak benar-benar menjalankannya. Namun katakanlah: "wahai Rabbku ampunilah daku dan berilah hamba taubat ".
Lihat Juga :