Kisah Khulafaur Rasyidin: Dua Tahun Kekhalifahan Abu Bakar yang Krusial
Senin, 28 Desember 2020 - 16:00 WIB
loading...
A
A
A
Tidak kalah berbahayanya ialah gerak-gerik bekas tokoh-tokoh Quraiys, yang kehilangan kedudukan setelah jatuhnya Makkah ke tangan kaum muslimin. Mereka itu giat berusaha merebut kembali kedudukan sosial dan ekonomi yang telah lepas dari tangan.
Tentang mereka ini Khalifah Abu Bakar r.a. sendiri pernah berkata kepada para sahabat: "Hati-hatilah kalian terhadap sekelompok orang dari kalangan 'sahabat' yang perutnya sudah mengembang, matanya mengincar-incar dan sudah tidak bisa menyukai siapa pun juga selain diri mereka sendiri.
Awaslah kalian jika ada salah seorang dari mereka itu yang tergelincir. Janganlah kalian sampai seperti dia. Ketahuilah, bahwa mereka akan tetap takut kepada kalian, selama kalian tetap takut kepada Allah…"
Berkat kepemimpinan Abu Bakar r.a., serta berkat bantuan para sahabat Rasulullah s.a.w., seperti Umar bin Khattab r.a., Ali r.a., Ubaidah bin Al-Jarrah dan lain-lain, krisis-krisis tersebut di atas berhasil ditanggulangi dengan baik. (Baca juga: Kutukan Para Sahabat Atas Terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan )
Watak Abu Bakar r.a. yang demokratis, dan kearifannya yang selalu meminta nasehat dan pertimbangan para tokoh terkemuka, merupakan, modal penting dalam tugas menyelamatkan ummat yang baru saja kehilangan Pemimpin Agung, Nabi Muhammad s.a.w.
Dengan masa jabatan yang singkat, Khalifah Abu Bakar r.a. berhasil mengkonsolidasi persatuan ummat, menciptakan stabilitas negara dan pemerintahan yang dipimpinnya dan menjamin keamanan dan ketertiban di seluruh jazirah Arab.
Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. memang seorang tokoh yang lemah jasmaninya, akan tetapi ramah dan lembut perangainya, lapang dada dan sabar. Sesungguhpun demikian, jika sudah menghadapi masalah yang membahayakan keselamatan Islam dan kaum muslimin, ia tidak segan-segan mengambil tindakan tegas, bahkan kekerasan ditempuhnya bila dipandang perlu.
Konon ia wafat akibat serangan penyakit demam tinggi yang datang secara tiba-tiba. Menurut buku Abqariyyatu Abu Bakar, yang di tulis Abbas Muhammad Al 'Aqqad", sebenarnya Abu Bakar r.a. sudah sejak lama terserang penyakit malaria. Yaitu beberapa waktu setelah hijrah ke Madinah. Penyakit yang dideritanya itu dalam waktu relatif lama tampak sembuh, tetapi tiba-tiba kambuh kembali dalam usianya yang sudah lanjut. Abu Bakar r.a. wafat pada usia 63 tahun. (Baca juga: Mimpi Bertemu Nabi dan Kronologi Terbunuhnya Utsman bin Affan )
Tentang mereka ini Khalifah Abu Bakar r.a. sendiri pernah berkata kepada para sahabat: "Hati-hatilah kalian terhadap sekelompok orang dari kalangan 'sahabat' yang perutnya sudah mengembang, matanya mengincar-incar dan sudah tidak bisa menyukai siapa pun juga selain diri mereka sendiri.
Awaslah kalian jika ada salah seorang dari mereka itu yang tergelincir. Janganlah kalian sampai seperti dia. Ketahuilah, bahwa mereka akan tetap takut kepada kalian, selama kalian tetap takut kepada Allah…"
Berkat kepemimpinan Abu Bakar r.a., serta berkat bantuan para sahabat Rasulullah s.a.w., seperti Umar bin Khattab r.a., Ali r.a., Ubaidah bin Al-Jarrah dan lain-lain, krisis-krisis tersebut di atas berhasil ditanggulangi dengan baik. (Baca juga: Kutukan Para Sahabat Atas Terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan )
Watak Abu Bakar r.a. yang demokratis, dan kearifannya yang selalu meminta nasehat dan pertimbangan para tokoh terkemuka, merupakan, modal penting dalam tugas menyelamatkan ummat yang baru saja kehilangan Pemimpin Agung, Nabi Muhammad s.a.w.
Dengan masa jabatan yang singkat, Khalifah Abu Bakar r.a. berhasil mengkonsolidasi persatuan ummat, menciptakan stabilitas negara dan pemerintahan yang dipimpinnya dan menjamin keamanan dan ketertiban di seluruh jazirah Arab.
Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. memang seorang tokoh yang lemah jasmaninya, akan tetapi ramah dan lembut perangainya, lapang dada dan sabar. Sesungguhpun demikian, jika sudah menghadapi masalah yang membahayakan keselamatan Islam dan kaum muslimin, ia tidak segan-segan mengambil tindakan tegas, bahkan kekerasan ditempuhnya bila dipandang perlu.
Konon ia wafat akibat serangan penyakit demam tinggi yang datang secara tiba-tiba. Menurut buku Abqariyyatu Abu Bakar, yang di tulis Abbas Muhammad Al 'Aqqad", sebenarnya Abu Bakar r.a. sudah sejak lama terserang penyakit malaria. Yaitu beberapa waktu setelah hijrah ke Madinah. Penyakit yang dideritanya itu dalam waktu relatif lama tampak sembuh, tetapi tiba-tiba kambuh kembali dalam usianya yang sudah lanjut. Abu Bakar r.a. wafat pada usia 63 tahun. (Baca juga: Mimpi Bertemu Nabi dan Kronologi Terbunuhnya Utsman bin Affan )
(mhy)
Lihat Juga :