Bahaya Filsafat Terhadap Aqidah
Selasa, 12 Januari 2021 - 14:32 WIB
loading...
A
A
A
Ini hanya secupak dialtektia besar itu. Tapi dialektika besar tassawuf dan filsafat itu membuat kaum Eropa berguru. Mereka terkesima dengan kemajuan dialektika dalam belantara Islam. Eropa, masih disebut masa kegelapan. Karena di sana, cara berpikir filsafat dilarang. Gereja menganggapnya bid'ah. Hingga mencuatlah Thomas Aquinas, yang berguru ke Cordoba.
Dia sebagai teolog Nasrani, mengambil ilmu filsafat dari sana. Tapi terkhusus pada soal filsafat semata. Rasio. Dari filosof muslim itulah mereka menemukan kembali corrupting the youth yang digunakan Socrates, Plato dan Aristoteles. Karena kaum mu'tazilah banyak mengenakannya. Terjadilah transformasi besar filsafat ke dunia eropa Barat. Hanya ironi terjadi.
Filsafat cenderung berlaku liar tak terkendali. Dari Aquinas kemudian merambah pada Grotius, yang menentang doktrin Gereja. Muncul pula Francis Bacon yang banyak mengadopsi filsafat mu’tazilah sebelumnya. Tapi Bacon berlebihan. Karena dia menganggap Tuhan tak hadir dalam kehidupan dunia. Tuhan bak pembuat jam semata. Segala perbuatan di dunia, bukanlah atas kehendak Tuhan. Dia berpandangan dengan teorinya, "Aku berpikir maka aku ada." Inilah yang dikenal teori induktif.
Dari Bacon muncul lagi Rene Descartes. Dengan membalik teori Bacon. Dia memunculkan pandangan "Aku ada maka akku berpikir” (Being Thinking). Ini hanya membolak-balik teori filsafat sebelumnya. Tapi Tuhan perlahan makin ditinggalkan sebagai Penyebab. Bacon dan Descartes menganggap dunia hanya bisa sahih dengan adanya serapan inderawi manusia.
Logika menjadi pondasi utama. Hingga memunculkan Immanuel Kant dengan teori 'ratio scripta'-nya. Semua baru dianggap benar jika telah terbukti secara empiris. Alhasil kebenaran ala Wahyu makin terpinggirkan. Dan ironisnya tak banyak ulama Nasrani yang mampu membendung cara berpikir ini, laiknya Imam Ghazali.
Filsafat Berkembang Liar di Eropa
Alhasil filsafat berkembang liar di eropa, bahkan melampaui yang diteorikan Ibnu Rusyd, Ibnu Sina, Al Farabi dan lainnya. "Karena tanpa batasan-batasan, yang ditempatkan atas dasar Wahyu," tulis Syaikh Umar Vadillo, ulama besar dari Spanyol kini.
Filsafat pun hinggap di Eropa sebagai cara berpikir baru, yang mendobrak otoritas Nasrani. Gereja tak mampu membendungnya, karena sibuk dengan perang aqidah Trinitas dan Unitarian. Makin menambah ghirah kaum Eropa menemukan entitas baru dalam pola pikir, yang berujung pada rasio. Dari situlah memunculkan sains modern, politik dan hukum baru.
Inilah anak kandung filsafat, yang lahir dari barat. Inilah yang melahirkan pemikiran materialisme. Yang berujung pada nihilisme. Ditambah semangat kaum eropa abad pertengahan, tentang pencarian emas sebagai harta kekayaan –yang tentu terperangah dengan paham materialisme tadi--.
Dari dialektika soal kosmosentris, merambah pada soal kekuasaan. Maka berujunglah pada teori ulang bahwa Raja bukanlah wakil Tuhan (Vox Rei Vox Dei). Melainkan kekuasaan harus didefenisikan ulang. Magna Charta, dan Bill of Right menjadi pondasi tentang akar kekuasaan Raja dan Tuhan tadi. Karena masa itu Raja dan Gereja merupakan duet penguasa di Eropa. Machiavelli, Montesquei, Bodin sampai Rosseou, menteorikan lagi tentang kekuasaan. Rosseou menjadi ujungnya dengan mengatakan bahwa kedaulatan itu berasal dari kontrak yang diberikan dari rakyat. Bukan dari Tuhan.
Sementara Locke masih berkata, raja memegang kontrak dari Tuhan dan dari Rakyat. Rosseou membalik teori itu semua, yang diminati kaum borjuis dan hedonis kala itu. Muncullah peristiwa puncak Revolusi Perancis 1789, yang mengeksekusi teori Rosseou, konstitusi. Inilah produk filsafat yang berwujud. Ditambah teori Austin dan Hans Kelsen yang makin melengkapi. Entitas baru pun lahir menggantikan kerajaan. Itu yang disebut ‘state’, yang bermula dari Il Principe-nya Machiavelli, yang mendefenisikan ulang tentang entitas baru politeia.
Dia sebagai teolog Nasrani, mengambil ilmu filsafat dari sana. Tapi terkhusus pada soal filsafat semata. Rasio. Dari filosof muslim itulah mereka menemukan kembali corrupting the youth yang digunakan Socrates, Plato dan Aristoteles. Karena kaum mu'tazilah banyak mengenakannya. Terjadilah transformasi besar filsafat ke dunia eropa Barat. Hanya ironi terjadi.
Filsafat cenderung berlaku liar tak terkendali. Dari Aquinas kemudian merambah pada Grotius, yang menentang doktrin Gereja. Muncul pula Francis Bacon yang banyak mengadopsi filsafat mu’tazilah sebelumnya. Tapi Bacon berlebihan. Karena dia menganggap Tuhan tak hadir dalam kehidupan dunia. Tuhan bak pembuat jam semata. Segala perbuatan di dunia, bukanlah atas kehendak Tuhan. Dia berpandangan dengan teorinya, "Aku berpikir maka aku ada." Inilah yang dikenal teori induktif.
Dari Bacon muncul lagi Rene Descartes. Dengan membalik teori Bacon. Dia memunculkan pandangan "Aku ada maka akku berpikir” (Being Thinking). Ini hanya membolak-balik teori filsafat sebelumnya. Tapi Tuhan perlahan makin ditinggalkan sebagai Penyebab. Bacon dan Descartes menganggap dunia hanya bisa sahih dengan adanya serapan inderawi manusia.
Logika menjadi pondasi utama. Hingga memunculkan Immanuel Kant dengan teori 'ratio scripta'-nya. Semua baru dianggap benar jika telah terbukti secara empiris. Alhasil kebenaran ala Wahyu makin terpinggirkan. Dan ironisnya tak banyak ulama Nasrani yang mampu membendung cara berpikir ini, laiknya Imam Ghazali.
Filsafat Berkembang Liar di Eropa
Alhasil filsafat berkembang liar di eropa, bahkan melampaui yang diteorikan Ibnu Rusyd, Ibnu Sina, Al Farabi dan lainnya. "Karena tanpa batasan-batasan, yang ditempatkan atas dasar Wahyu," tulis Syaikh Umar Vadillo, ulama besar dari Spanyol kini.
Filsafat pun hinggap di Eropa sebagai cara berpikir baru, yang mendobrak otoritas Nasrani. Gereja tak mampu membendungnya, karena sibuk dengan perang aqidah Trinitas dan Unitarian. Makin menambah ghirah kaum Eropa menemukan entitas baru dalam pola pikir, yang berujung pada rasio. Dari situlah memunculkan sains modern, politik dan hukum baru.
Inilah anak kandung filsafat, yang lahir dari barat. Inilah yang melahirkan pemikiran materialisme. Yang berujung pada nihilisme. Ditambah semangat kaum eropa abad pertengahan, tentang pencarian emas sebagai harta kekayaan –yang tentu terperangah dengan paham materialisme tadi--.
Dari dialektika soal kosmosentris, merambah pada soal kekuasaan. Maka berujunglah pada teori ulang bahwa Raja bukanlah wakil Tuhan (Vox Rei Vox Dei). Melainkan kekuasaan harus didefenisikan ulang. Magna Charta, dan Bill of Right menjadi pondasi tentang akar kekuasaan Raja dan Tuhan tadi. Karena masa itu Raja dan Gereja merupakan duet penguasa di Eropa. Machiavelli, Montesquei, Bodin sampai Rosseou, menteorikan lagi tentang kekuasaan. Rosseou menjadi ujungnya dengan mengatakan bahwa kedaulatan itu berasal dari kontrak yang diberikan dari rakyat. Bukan dari Tuhan.
Sementara Locke masih berkata, raja memegang kontrak dari Tuhan dan dari Rakyat. Rosseou membalik teori itu semua, yang diminati kaum borjuis dan hedonis kala itu. Muncullah peristiwa puncak Revolusi Perancis 1789, yang mengeksekusi teori Rosseou, konstitusi. Inilah produk filsafat yang berwujud. Ditambah teori Austin dan Hans Kelsen yang makin melengkapi. Entitas baru pun lahir menggantikan kerajaan. Itu yang disebut ‘state’, yang bermula dari Il Principe-nya Machiavelli, yang mendefenisikan ulang tentang entitas baru politeia.
Lihat Juga :