Raden Paku, Sehari Menikah Dua Kali, Salah Satu Istrinya Putri Sunan Ampel
Rabu, 13 Januari 2021 - 09:58 WIB
loading...
Ilustrasi/Ist
A
A
A
Al-kisah, ada seorang bangsawan Majapahit bernama Ki Ageng Supa Bungkul. Ia mempunyai Sebuah pohon delima yang aneh di depan pekarangan rumahnya. Setiap kali ada orang hendak mengambil buah delima yang berbuah satu itu pasti mengalami nasib celaka, kalau tidak ditimpa penyakit berat tentulah orang tersebut meninggal dunia. (Baca juga: Ketika Nyai Ageng Pinatih Menyadari Siapa Sejatinya Raden Paku )
Buku " Kisah dan Ajaran Wali Sanga " karya H. Lawrens Rasyidi menceritakan suatu ketika Raden Paku tanpa disengaja lewat di depan pekarangan Ki Ageng Bungkul. Begitu dia berjalan di bawah pohon delima tiba-tiba buah pohon itu jatuh mengenai kepala Raden Paku. Ki Ageng Bungkul tiba-tiba muncul mencegat Raden Pakuh, dan ia berkata, “Kau harus kawin dengan putriku, Dewi Wardah.”
Memang, Ki Ageng Bungkul telah mengadakan sayembara, siapa saja yang dapat memetik buah delima itu dengan selamat maka ia akan dijodohkan dengan putrinya yang bernama Dewi Wardah. (Baca juga: Kisah Redanya Amarah Raden Paku kepada Prabu Menak Sembuyu )
Raden Paku bingung menghadapi hal itu. Maka peristiwa itu disampaikan kepada Sunan Ampel . “Tak usah bingung. Ki Ageng Bungkul itu seorang muslim yang baik, aku yakin Dewi Wardah juga seorang muslimah yang baik. Karena hal itu sudah menjadi niat Ki Ageng Bungkul kuharap kau tidak mengecewakan niat baiknya itu,” kata Sunan Ampel.
“Tapi... bukankah saya hendak menikah dengan putri Kanjeng Sunan yaitu dengan Dewi Murtasiah?” ujar Raden Paku.
“Tidak mengapa,” Kata Sunan Ampel. “Sesudah melangsungkan akad nikah dengan Dewi Murtasiah selanjutnya kau akan melangsungkan perkawinan dengan Dewi Wardah.”
Lawrens Rasyidi menulis, itulah liku-liku perjalanan hidup Raden Paku. Dalam sehari ia menikah dua kali. Menjadi menantu Sunan Ampel, kemudian menjadi menantu Ki Ageng Bungkul seorang Bangsawan Majapahit yang hingga sekarang makamnya terawat baik di Surabaya.
Baca juga: Musik sebagai Alat Dakwah Syaikh Maulana Makdum Ibrahim (1)
Sesudah berumah tangga, Raden Paku makin giat berdagang dan berlayar antar-pulau. Sambil berlayar itu pula beliau menyiarkan agama Islam pada penduduk setempat sehingga namanya cukup terkenal di kepulauan Nusantara.
Lama-lama kegiatan dagang tersebut tidak memuaskan hatinya. Ia ingin berkonsentrasi menyiarkan agama Islam dengan mendirikan pondok Pesantren. Iapun minta izin kepada ibunya untuk meninggalkan dunia perdagangan.
Buku " Kisah dan Ajaran Wali Sanga " karya H. Lawrens Rasyidi menceritakan suatu ketika Raden Paku tanpa disengaja lewat di depan pekarangan Ki Ageng Bungkul. Begitu dia berjalan di bawah pohon delima tiba-tiba buah pohon itu jatuh mengenai kepala Raden Paku. Ki Ageng Bungkul tiba-tiba muncul mencegat Raden Pakuh, dan ia berkata, “Kau harus kawin dengan putriku, Dewi Wardah.”
Memang, Ki Ageng Bungkul telah mengadakan sayembara, siapa saja yang dapat memetik buah delima itu dengan selamat maka ia akan dijodohkan dengan putrinya yang bernama Dewi Wardah. (Baca juga: Kisah Redanya Amarah Raden Paku kepada Prabu Menak Sembuyu )
Raden Paku bingung menghadapi hal itu. Maka peristiwa itu disampaikan kepada Sunan Ampel . “Tak usah bingung. Ki Ageng Bungkul itu seorang muslim yang baik, aku yakin Dewi Wardah juga seorang muslimah yang baik. Karena hal itu sudah menjadi niat Ki Ageng Bungkul kuharap kau tidak mengecewakan niat baiknya itu,” kata Sunan Ampel.
“Tapi... bukankah saya hendak menikah dengan putri Kanjeng Sunan yaitu dengan Dewi Murtasiah?” ujar Raden Paku.
“Tidak mengapa,” Kata Sunan Ampel. “Sesudah melangsungkan akad nikah dengan Dewi Murtasiah selanjutnya kau akan melangsungkan perkawinan dengan Dewi Wardah.”
Lawrens Rasyidi menulis, itulah liku-liku perjalanan hidup Raden Paku. Dalam sehari ia menikah dua kali. Menjadi menantu Sunan Ampel, kemudian menjadi menantu Ki Ageng Bungkul seorang Bangsawan Majapahit yang hingga sekarang makamnya terawat baik di Surabaya.
Baca juga: Musik sebagai Alat Dakwah Syaikh Maulana Makdum Ibrahim (1)
Sesudah berumah tangga, Raden Paku makin giat berdagang dan berlayar antar-pulau. Sambil berlayar itu pula beliau menyiarkan agama Islam pada penduduk setempat sehingga namanya cukup terkenal di kepulauan Nusantara.
Lama-lama kegiatan dagang tersebut tidak memuaskan hatinya. Ia ingin berkonsentrasi menyiarkan agama Islam dengan mendirikan pondok Pesantren. Iapun minta izin kepada ibunya untuk meninggalkan dunia perdagangan.
Lihat Juga :