Misi Gagal Abu Hurairah dan Abu Darda Mendamaikan Ali bin Abu Thalib dengan Muawiyah
Rabu, 03 Februari 2021 - 08:26 WIB
loading...
A
A
A
Terhadap pernyataan yang serba blak-blakan dari dua orang sahabat Rasulullah SAW itu, Muawiyah memberikan tanggapan: "Aku tidak menganggap diriku lebih berhak daripada Ali untuk memegang kekhalifahan. Aku memerangi dia hanya supaya ia mau meyerahkan orang-orang yang membunuh Utsman bin Affan kepadaku!"
"Seandainya Ali bin Abi Thalib mau menyerahkan mereka kepada anda," tanya Abu Hurairah dan Abu Darda, "lantas apakah yang kira-kira akan anda lakukan?"
"Aku akan bersikap seperti kaum muslimin yang lain," jawab Muawiyah.
"Cobalah kalian datang kepada Ali bin Abi Thalib. Jika ia menyerahkan para pembunuh Utsman itu kepada kalian, masalah kekhalifahan akan kuserahkan kepada kaum muslimin!"
Abu Hurairah dan Abu Darda memang bukan diplomat dan bukan pula orang-orang politik seperti Muawiyah atau Amr bin Al Ash. Mereka berdua itu orang-orang bertakwa, lugu dan polos. Tampaknya mereka tidak dapat meraba apa-apa yang ada di balik ucapan Muawiyah.
Baca juga: Ketika Tumpukan Mayat Muslim Bergelimpangan di Sekitar Kaki Unta Siti Aisyah
Mungkin dua orang itu menganggap Muawiyah sama dengan diri mereka, jujur, terus terang dan tidak bermain lidah. Pergilah dua orang itu meninggalkan kubu-kubu pertahanan Muawiyah menuju ke kubu-kubu pertahanan Ali bin Abu Thalib r.a. Setibanya di sana, mereka diterima oleh Al Asytar, yang ketika itu bertindak selaku Panglima pasukan Kufah.
Setelah Abu Hurairah dan Abu Darda menjelaskan maksud kedatangan mereka dan menyampaikan apa yang menjadi pendirian Muawiyah dan pendirian mereka sendiri, Al Asytar memberi jawaban: "Hai Abu Hurairah dan Abu Darda, kalian datang kepada orang-orang Syam bukan karena kalian menyukai Muawiyah. Kalian mengatakan Muawiyah hanya menuntut diserahkannya pembunuh-pembunuh Utsman."
"Dari siapa kalian bisa mengetahui para pembunuh itu? Apakah dari mereka yang melakukan pembunuhan itu sendiri, ataukah dari mereka yang memberi bantuan dalam pembunuhan? Atau kalian mendapat keterangan dari mereka yang memisahkan diri dari Utsman karena mereka tahu dosanya Utsman? Atau kalian mencari penjelasan dari Muawiyah yang menuduh bahwa pembunuh Utsman ialah Ali?"
"Wahai kawan-kawan," kata Al Asytar lebih lanjut, "Bertaqwalah kalian kepada Allah. Kami inilah yang menyaksikan sendiri, sedang kalian tidak mengetahui terjadinya peristiwa itu. Kamilah yang lebih dapat menetapkan hukumnya dibanding dengan orang-orang lain yang tidak menyaksikan sendiri terjadinya peristiwa itu!"
Baca juga: Belajar Ridha dari Sahabat Mulia Abdullah Bin Abbas
"Seandainya Ali bin Abi Thalib mau menyerahkan mereka kepada anda," tanya Abu Hurairah dan Abu Darda, "lantas apakah yang kira-kira akan anda lakukan?"
"Aku akan bersikap seperti kaum muslimin yang lain," jawab Muawiyah.
"Cobalah kalian datang kepada Ali bin Abi Thalib. Jika ia menyerahkan para pembunuh Utsman itu kepada kalian, masalah kekhalifahan akan kuserahkan kepada kaum muslimin!"
Abu Hurairah dan Abu Darda memang bukan diplomat dan bukan pula orang-orang politik seperti Muawiyah atau Amr bin Al Ash. Mereka berdua itu orang-orang bertakwa, lugu dan polos. Tampaknya mereka tidak dapat meraba apa-apa yang ada di balik ucapan Muawiyah.
Baca juga: Ketika Tumpukan Mayat Muslim Bergelimpangan di Sekitar Kaki Unta Siti Aisyah
Mungkin dua orang itu menganggap Muawiyah sama dengan diri mereka, jujur, terus terang dan tidak bermain lidah. Pergilah dua orang itu meninggalkan kubu-kubu pertahanan Muawiyah menuju ke kubu-kubu pertahanan Ali bin Abu Thalib r.a. Setibanya di sana, mereka diterima oleh Al Asytar, yang ketika itu bertindak selaku Panglima pasukan Kufah.
Setelah Abu Hurairah dan Abu Darda menjelaskan maksud kedatangan mereka dan menyampaikan apa yang menjadi pendirian Muawiyah dan pendirian mereka sendiri, Al Asytar memberi jawaban: "Hai Abu Hurairah dan Abu Darda, kalian datang kepada orang-orang Syam bukan karena kalian menyukai Muawiyah. Kalian mengatakan Muawiyah hanya menuntut diserahkannya pembunuh-pembunuh Utsman."
"Dari siapa kalian bisa mengetahui para pembunuh itu? Apakah dari mereka yang melakukan pembunuhan itu sendiri, ataukah dari mereka yang memberi bantuan dalam pembunuhan? Atau kalian mendapat keterangan dari mereka yang memisahkan diri dari Utsman karena mereka tahu dosanya Utsman? Atau kalian mencari penjelasan dari Muawiyah yang menuduh bahwa pembunuh Utsman ialah Ali?"
"Wahai kawan-kawan," kata Al Asytar lebih lanjut, "Bertaqwalah kalian kepada Allah. Kami inilah yang menyaksikan sendiri, sedang kalian tidak mengetahui terjadinya peristiwa itu. Kamilah yang lebih dapat menetapkan hukumnya dibanding dengan orang-orang lain yang tidak menyaksikan sendiri terjadinya peristiwa itu!"
Baca juga: Belajar Ridha dari Sahabat Mulia Abdullah Bin Abbas
Lihat Juga :