Misi Gagal Abu Hurairah dan Abu Darda Mendamaikan Ali bin Abu Thalib dengan Muawiyah
Rabu, 03 Februari 2021 - 08:26 WIB
loading...
Ilustrasi/Ist
A
A
A
PASUKAN Khalifah Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abu Sufyan telah sama-sama memusatkan kubu pertahanannya masing-masing di lembah Shiffin. Jalan damai sudah buntu. Mengompromikan dua pendirian yang berlawanan sangat sulit. Dua belah pihak sama berkeyakinan, bahwa satu-satunya jalan penyelesaian yang bisa di tempuh ialah perang. Yang satu berjuang untuk kekuasaaan dan keduniaan dan yang lainnya berjuang untuk kepentingan agama dan kehidupan akhirat.
Baca juga: Memberontak, Putra Amr bin Al-Ash: Ayah Akan Berbaring Bersama Muawiyah di Neraka!
Buku Sejarah Hidup Imam Ali ra karya H.M.H. Al Hamid Al Husai memaparkan keadaan yang sangat tragis itu benar-benar membingungkan kaum muslimin dalam memilih pihak. Mereka sudah pasti menghendaki kebahagiaan dunia dan akhirat.
Tentang kebahagiaan akhirat sudah tidak menjadi persoalan lagi, karena Islam telah memberikan penjelasan dengan gamblang. Yang sulit ialah bagaimana menetapkan definisi (pembatasan-pembatasan) tentang kebahagiaan dunia.
Pihak Syam berusaha meraihnya lewat jalan kekuasaan dan kekayaan. Sedang pihak Kufah berusaha mencapainya melalui jalan takwa kepada Allah swt dan patuh kepada teladan RasulNya.
Bagaimana menserasikan dua jalan itu tidak ditemukan pemecahannya oleh kaum muslimin pada zaman itu. Tetapi bagaimana pun juga, semua kaum muslimin adalah saudara. Semua ingin hidup rukun tentram, damai dan sejahtera.
Baca juga: Langkah Khalifah Ali bin Abu Thalib Setelah Berhasil Menaklukkan Siti Aisyah
Pikiran seperti itu tetap menjiwai kehidupan kaum muslimin sepanjang zaman, tetapi realisasinya tidak semudah seperti yang didambakan. Namun usaha ke arah itu tak boleh berhenti. Pegangan pokok sudah diletakkan oleh Islam, yaitu Kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya. Siapa yang teguh berpegang pada dua-duanya pasti selamat, dan siapa yang meninggalkan dua-duanya pasti sesat. Itulah rupanya yang menjadi pemikiran Abu Hurairah dan Abu Darda untuk mencoba mendamaikan dua pihak yang berhadapan siap perang.
Misi Abu Hurairah
Diriwayatkan, bahwa Abu Hurairah dan Abu Darda sengaja datang dari Himsh untuk bertemu dengan Muawiyah di Shiffin. Kepada Muawiyah dua orang itu mengingatkan: "Hai Muawiyah, mengapa anda memerangi Ali bin Abi Thalib, padahal engkau tahu ia lebih berhak memegang kekhalifahan daripada anda, baik disebabkan karena keutamaan pribadinya, maupun oleh kediniannya memeluk Islam. Ia seorang dari kaum Muhajirin yang pertama, dan terdahulu pula dalam hal iman dan ihsan. Sedang anda seorang dari kaum thulaqa, dan ayah anda pun dulu seorang pemimpin kaum musyrikin dalam perang Ahzab melawan kaum muslimin."
"Demi Allah, aku ingin berkata terus terang kepada anda, bahwa kami ini lebih menyukai Irak daripada Syam. Tetapi kelestarian hidup, lebih kami sukai daripada kehancuran, dan kebaikan lebih kami sukai daripada kerusakan."
Baca juga: Kalah Perang dan Disuruh Kembali ke Madinah, Siti Aisyah Menangis Histeris
Baca juga: Memberontak, Putra Amr bin Al-Ash: Ayah Akan Berbaring Bersama Muawiyah di Neraka!
Buku Sejarah Hidup Imam Ali ra karya H.M.H. Al Hamid Al Husai memaparkan keadaan yang sangat tragis itu benar-benar membingungkan kaum muslimin dalam memilih pihak. Mereka sudah pasti menghendaki kebahagiaan dunia dan akhirat.
Tentang kebahagiaan akhirat sudah tidak menjadi persoalan lagi, karena Islam telah memberikan penjelasan dengan gamblang. Yang sulit ialah bagaimana menetapkan definisi (pembatasan-pembatasan) tentang kebahagiaan dunia.
Pihak Syam berusaha meraihnya lewat jalan kekuasaan dan kekayaan. Sedang pihak Kufah berusaha mencapainya melalui jalan takwa kepada Allah swt dan patuh kepada teladan RasulNya.
Bagaimana menserasikan dua jalan itu tidak ditemukan pemecahannya oleh kaum muslimin pada zaman itu. Tetapi bagaimana pun juga, semua kaum muslimin adalah saudara. Semua ingin hidup rukun tentram, damai dan sejahtera.
Baca juga: Langkah Khalifah Ali bin Abu Thalib Setelah Berhasil Menaklukkan Siti Aisyah
Pikiran seperti itu tetap menjiwai kehidupan kaum muslimin sepanjang zaman, tetapi realisasinya tidak semudah seperti yang didambakan. Namun usaha ke arah itu tak boleh berhenti. Pegangan pokok sudah diletakkan oleh Islam, yaitu Kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya. Siapa yang teguh berpegang pada dua-duanya pasti selamat, dan siapa yang meninggalkan dua-duanya pasti sesat. Itulah rupanya yang menjadi pemikiran Abu Hurairah dan Abu Darda untuk mencoba mendamaikan dua pihak yang berhadapan siap perang.
Misi Abu Hurairah
Diriwayatkan, bahwa Abu Hurairah dan Abu Darda sengaja datang dari Himsh untuk bertemu dengan Muawiyah di Shiffin. Kepada Muawiyah dua orang itu mengingatkan: "Hai Muawiyah, mengapa anda memerangi Ali bin Abi Thalib, padahal engkau tahu ia lebih berhak memegang kekhalifahan daripada anda, baik disebabkan karena keutamaan pribadinya, maupun oleh kediniannya memeluk Islam. Ia seorang dari kaum Muhajirin yang pertama, dan terdahulu pula dalam hal iman dan ihsan. Sedang anda seorang dari kaum thulaqa, dan ayah anda pun dulu seorang pemimpin kaum musyrikin dalam perang Ahzab melawan kaum muslimin."
"Demi Allah, aku ingin berkata terus terang kepada anda, bahwa kami ini lebih menyukai Irak daripada Syam. Tetapi kelestarian hidup, lebih kami sukai daripada kehancuran, dan kebaikan lebih kami sukai daripada kerusakan."
Baca juga: Kalah Perang dan Disuruh Kembali ke Madinah, Siti Aisyah Menangis Histeris
Lihat Juga :